Endapan Itu Adalah The Osaka Journals

by arhamrahmat

frontcoverAh, ada baiknya tulisan ini tidak dimulai dengan pengertian apa itu endapan yang terkesan ilmiah. Lebih baik membukanya secara langsung dengan implementasimengenai endapan. Maaf, maksud saya pengalaman. Implementasi juga terkesan ilmiah, tidak jauh bedanya dengan makna dari endapan. Tapi mau-tidak-mau istilah tersebut pada banyak tidaknya juga pasti akan muncul. Ya, maklum saja, judulnya sudah menyisipkan kata itu sebagai awalan judul. Bergaya sedikit tidak masalah, kan? Baiklah, mengenai pengalaman endapan itu berikut saya tuliskan.

Tahun 1995 saya berumur lima tahun. Di tahun tersebut saya mendengarkan lagu yang berjudul “Kring-kring Goes-goes”. Mendengar melalui kaset tape yang seringkali diputar di rumah. Saya tidak mengetahui siapa nama penyanyinya. Tidak lama berselang kaset tersebut hilang. Sejak saat itu tidak pernah lagi mendengarkannya. Tahun 2013 saya berumur 23 tahun. Di tahun tersebut, kembali saya mendengarkan “Kring-kring Goes-goes”. Bukan saja mendengar, namun melihat video klip yang akhirnya saya ketahui namanya adalah Bayu Bersaudara. Proses kenapa sampai bisa mendengarkan lagu tersebut, secara tidak sengaja dari saya membuka tautan seorang kawan akrab pada sebuah media sosial. Proses yang saya alami sebelum kembali mendengar dan menonton video klip lagu tersebut dinamakan endapan. Contoh ini hanyalah sebagian kecil dari banyak proses endapan maupun pengalaman pada setiap masing-masing orang. Kalian atau anda mungkin juga pernah merasakan demikian yang tentunya tidak melulu berhubungan dengan musik.

Kemudian, hal di atas merupakan jembatan untuk masuk ke dalam pokok tulisan ini. Refleksi saat mendapatkan album The Osaka Journalsyang dirilis ulang dalam bentuk piringan hitam dengan format test pressing. Ini adalah endapan yang sebelumnya diwacanakan oleh Taufiq Rahman kepada saya setelah diskusi mengenai bukunya, pertengahan November tahun lalu di Bandung. Saat itu, dia membuka topik bahwa akan merilis ulang album Sajama Cut kedua The Osaka Journals dalam bentuk piringan hitam dengan jumlah 300 keping. Perjalanan berikutnya, akhirnya diketahui kebenaran jika Taufiq Rahman membuat label bernama Elevation Records dan The Osaka Journalsadalah proyek pertamanya.

Perkenalan dengan Sajama Cut secara tidak sengaja terjadi ketika menonton film Janji Joni. Dalam perkenalan itu Sajama Cut membuka adegan di mana Joni mengendarai motornya sebagai pengantar roll film keliling. “Less Afraid” mengalun sebagai penemani dan penguat karakter Joni. Belakangan kemudian diketahui bahwa kelompok musik ini sebelumnya sudah mengeluarkan dua album, Apologia (2002) danThe Osaka Journals (2005). Lagu yang pertama kali saya dengar tersebut ada di album kedua. Karena pengenalan saya dengan mereka ketika menonton Janji Joni adalah beberapa tahun setelah mereka merilis album tersebut. Juga kemudian film tersebut tidak saya tonton melalui bioskop, jadi dapat dikatakan bahwa saya berkenalan dengan Sajama Cut di tahun 2008 – kurang lebih seperti itulah.

Kemudian, untuk mengatasi rasa penasaran, dipilihlah jalan untuk mencari album Sajama Cut di dunia internet dengan cara mengunduh. Jalan ini diperoleh karena di tahun 2008 saya memastikan bahwa album ini sudah ludes – kasus yang sama terjadi juga dengan C’mon Lennon – atau bisa juga dikatakan bahwa saya – bukan mungkin namun lebih tepatnya – malas mencarinya. Hal seperti itulah yang menurut saya positif; tidak ingin terus menerus dikurung rasa penasaran. Ingin segera menyimak The Osaka Journals. Perkenalan itu secara tidak sadar sudah menjadi bagian dari proses endapan.

Satu demi satu saya simak secara saksama. Sebelas lagu (termasuk “Less Afraid” yang merupakan bonus track) yang ada di The Osaka Journals. Tidak ada yang bisa saya pegang untuk mengetahui seperti apa lirik yang dilantunkan. Tidak ada pencocokan nama personil, siapa memegang apa atau apa dipegang siapa. Pada akhirnya saya mengetahui – setelah menyimak The Osaka Journals melalui piringan hitam – bahwa susunan lagu yang saya dengar terus menerus dengan format digital kurang tepat. Singkatnya, susunan lagu mp3 itu merupakan sebuah keacakan. Pasti ada perasaan ingin mengetahui siapa saja yang terlibat dalam The Osaka Journals. Meskipun sampai sekarang yang saya tahu hanyalah Marcel Thee. Nama ini merupakan satu-satunya yang masih terus menghiasi album Sajama Cut. Hematnya, ada pergantian personil di setiap album kecuali dia seorang. Bisa juga dipersingkat menjadi Sajama Cut adalah Marcel Thee. Wacana tersebut saya dapatkan dari beberapa rekan dan juga mencermati informasi yang tersedia di dunia internet.

Pada dasarnya tulisan ini bisa menjadi singkat karena sudah jelas The Osaka Journals saya kagumi. Dan sudah tentu paragraf dalam setiap tulisan yang muncul menunjuk kepada pujian. Tapi tidak masalah, ada baiknya dituliskan. Sekaligus juga membagi pengalaman mengenai hal-hal lain yang dianggap perlu mengapa saya bisa menjadi kagum. Jadi ingat, dengan kata-kata Remy Sylado, “Kita sudah berhasil menumpahkan pikiran kita ke dalam bentuk tulisan.”

Album ini sebenarnya proyek yang tidak muluk-muluk. Segalanya berlangsung secara biasa. Secara umum dan pasti sangat wajar sebagai kelompok musik dalam setiap lagunya mempunyai; intro, melodi, lick, dan seterusnya. Hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang istimewa. Seperti apa ya padanan musiknya? Ah, saya tidak mahir memberikan padanan. Silahkan anda mencari padanan seperti kelompok musik A mempunyai padanan dengan kelompok musik X, misalnya. Lalu, apakah Sajama Cut memainkan musik yang sebegitu datarnya? Sampai harus segala mencari padanan. Tidak ada fluktuasi hingga menjadi satu penilaian bermain secara aman? Atau mungkin karena bermain secara datar justru menghasilkan perbedaan? Entahlah, secara halus dipersilahkan menyimak The Osaka Journals.

Namun, diantara hal umum tersebut, ada terselip kecakapan tentang album ini yang mampu untuk berbicara; istimewa. Tampilan indie-rock yang pada dasarnya (tidak?) dalam kondisi biasa-biasa saja. Hanya sedikit – bahkan mungkin sedikit sekali – distorsi gitar. Kemampuan mereka meramu satu lagu ke lagu lainnya, kadangkala membuat saya merasa seperti sama saja komposisi musiknya. Eh, tapi bagian perasaan ini mengatakan bahwa dengan komposisi musik tersebut, sudah membentuk atau menjadikan ciri Sajama Cut. Maaf, maksudnyaThe Osaka Journals.

Ciri tersebut didapatkan dengan formula gitar, bas, drum, dan vokal yang sarat dengan keseragaman ditambah tema yang secara kasar bisa ditebak merangkum kedekatan dengan Jepang. Secara kasar ini dapat dilihat dari – selain nama albumnya – beberapa judul lagu: “Fallen Japanese”, “It Was Kyoto, Where I Died”, dan “Take Care Inamorata”. Jadi, sudah dapatkah dikatakan bahwa album ini bukan merupakan album yang biasa-biasa saja? Atau, sepertinya penjelasan di atas malah merentangkan pendapat bahwa album tersebut masih dalam hal yang biasa-biasa saja? Semacam bahwa penjelasan di atas merupakan sesuatu yang sudah lumrah dimiliki dalam sebuah hiasan album?

Jika masih belum cukup untuk dikategorikan sebagai bukan album yang biasa-biasa saja, saya ingin menuliskan tambahan penjelasan. Alangkah baiknya tambahan penjelasan ini bisa merubah pendapat tersebut. Singkatnya, mengaggukkan kepala sebagai tanda setuju. Hematnya, ikut mengagumi The Osaka Journals. Berikut penjelasannya.

The Osaka Journals mempunyai rasa yang berbeda. Ada proporsi. Proporsi dengan apa? Apakah itu proporsi musiknya, liriknya, atau apapun itulah. Yang penting tetap berpadu dengan proporsi. Sedikit dari banyak hal yang membuat saya sadar akan proporsi itu ada pada “Take Care Inamorata” dan ”Lagu Tema”. Sajama Cut memberikan porsi sekitar lima puluh detik untuk hal tersebut. Banyak album lainnya yang mempunyai melodi lebih dari satu menit, namun di The Osaka Journals durasi lima puluh detik adalah melodi terpanjang. Juga, cuman kedua lagu ini yang mempunyainya. Delapan lainnya banyak dihiasi dengan rhythm. Kesan yang saya dapatkan adalah Sajama Cut memang sengaja menyimpan lagu yang mana cocok untuk dimasukkan unsur melodi yang bukan hanya sekedar melodi. Apakah mungkin mereka mempunyai keterbatasan dalam membuat melodi pada setiap lagu? Jadi, ketika ada melodi panjang yang muncul di album ini, menjadi kenyamanan tersendiri saat menyimaknya. Atau memang mereka secara sengaja menyimpan melodi untuk kedua lagu itu? Bahwa sebenarnya mereka mampu untuk menciptakan melodi khusus di setiap lagu, namun memilih untuk tidak melakukan kelebihan itu. Yang bisa menjadi berlebihan. Hal-hal seperti inilah yang membuat saya menganggap bahwa The Osaka Journals mempunyai proporsi. Ada semacam peraduan, “bandingkan jika”. Mungkin juga semacam siasat. Bandingkan jika album ini, pada setiap lagunya diisi dengan melodi? Yang bisa menjadi kepenatan tersendiri. Atau bandingkan jika album ini secara terus menerus dijejali dengan rhythm? Yang terasa sekali kedatarannya.

Atau bagaimana ketika saya sedikit iseng untuk mencermati panjang intro setiap lagu yang menurut saya masuk dalam kategori intro demikian pendeknya. Hasilnya adalah tercermati bahwa The Osaka Journals yang berjumlah sepuluh lagu dibuka dengan intro yang semuanya berada di bawah dua puluh detik. Mungkin saja ada album yang mempunyai kumpulan intro yang lebih pendek dari The Osaka Journals. Namun belum saya simak secara benar-benar dan tentunya belum tahu album apa yang dimaksud. Bukan menjadi satu masalah yang harus didebatkan. Justru yang menarik di sini adalah bagaimana ada tiga lagu yang mempunyai durasi waktu intro yang sama. Masing-masing tujuh belas detik. Ketiga lagu itu adalah: “Scarlett”, “Lagu Tema”, dan “Fin”. Sementara intro “Season Finale” dan “It Was Kyoto, Where I Died” menurut saya merupakan intro pendek yang manis.

Proporsi berikutnya ada padai lirik yang mereka lantunkan bukan merupakan satu penciptaan yang mudah untuk dicerna. Selain melodi, kedua lagu di atas yang saya sebutkan juga mempunyai kontemplasi. Pada lirik “Lagu Tema” misalnya, satu dua nyawa lelah jatuh cinta / patahkan riwayatmu sayang. Ada penyampaian yang tidak biasa yang saya tangkap dari lirik tersebut. Untuk kemudian menjelaskan bahwa semakin sering manusia merasakan jatuh cinta yang akan timbul adalah perasaan lelah dan itu akan berakhir pada riwatnya sendiri. Riwayat di sini saya artikan sebagai perasaan itu sendiri. Perasaan untuk tidak menjadi perasaan dengan satu keistimewaan tersendiri.Mungkin bisa dikatakan hambar. Atau sedikit sentuhan gombal melayang di “Take Care Inamorata”, Our love will be our vitamins.

Album yang jika dikembalikan saat mulai beredar tahun 2005 ini, bukan saja melibatkan namun bisa menjadi sesuatu yang beda. Manalagi kalau tidak salah album ini dirilis pada salah satu label yang menitikberatkan musik arus utama. Jika tidak salah namanya Universal Musik. Kesan pergulatan muncul dengan sendirinya. Sajama Cut tahu bagaimana memunculkan proporsi itu. Mereka tidak perlu diakui untuk berbeda dengan yang lainnya. Namun bagaimana menjadi sedikit pembeda diantara album-album di masa itu.

Nah, cukuplah penjelasan diatas. Tentunya anda bisa setuju, sepakat, menganggukkan kepala, dan seterusnya untuk mengagumi The Osaka Journals, bukan? Kalaupun tidak sepenuhnya setuju, ada baik memberikan senyum saja sebagai tanda kalau album ini menarik. Terlebih lagi, akan segera dirilis ulang. Toh, justru sangat bermanfaat kok mengakui hingga mengagumi yang memberikan vitamin kepada indera pendengar.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan kembali pemikiran yang bersifat pribadi. Bahwa semenjak The Osaka Journals disimak melalui piringan hitam, perasaan yang mengakibatkan endapan itu akhirnya mencair. Menjadi menarik buat diri sendiri, manakala ternyata endapan itu baru tersadar justru setelah mencair. Ada-ada saja perasaan ini. Ya, namanya saja perasaan. Metafisik. Tidak dapat diketahui secara pasti seperti apa perubahannya. Yang bisa diketahui dan harusnya disadari adalah efek perasaan itu. Bisa menjadi marah karena dicolek bahunya, bisa menjadi tertawa karena melihat orang jatuh, bisa menjadi senang karena mendengarkan musik. Hal yang terakhirlah yang saya rasakan manakala menyimak kemudian menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan.

*Tulisan ini dimuat juga di elevationrecords.co

About these ads