Lakon Arham

Cuma Jangan Sampai Digigit

Aneka Gestur dan Logika Bin Dalam Bila Lapar Melukis

Munculnya album kedua Harlan Boer (Bin) membuat album pertamanya Operasi Kecil terdengar cerewet–kadangkala bawel–dengan sensibilitas eksperimental tanpa lupa membonceng suasana lirih. Sementara Bila Lapar Melukis adalah niatan Bin untuk melembutkan kegundahan atau menyadari kecemasannya sekaligus melanggengkan ide-ide spontan dalam liriknya. Unsur pop dalam skala musik Bin di Bila Lapar Melukis tetap terjahit secara eksploratif tapi tidak mentah seperti album pertamanya. Ia mengajak Adi “Mamokiak”, Adink Permana, dan Henry Foundation sebagai produser yang membuat produksi album ini lebih rapih. Nama-nama tersebut juga turut berkontribusi mengisi musik Bin di beberapa lagu, menyediakan tempat untuk rekaman, dan proses mixing serta mastering dibantu Dzulki Sunarya. Read the rest of this entry »

Maris

Lakipadada

Patung Lakipadada di Makale, Toraja. (Google.com)

Lebih dari 20 tahun Maris tinggal di Rantepao, Toraja. Umur 17 tahun adalah pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di Indonesia. Pulau Jawa tempat pertamanya. Dia menjadi salah satu penerima beasiswa SMA yang diadakan pemerintah Belanda. Ia tumbuh di sebuah desa yang berjarak sekitar 25 menit dari Nijmegen; di luar dari kota Venlo yang berbatasan dengan Jerman. Sebuah desa yang banyak dihuni oleh orang-orang dari Pulau Kei. Indonesia sebagai sebuah nama negara pertama kali didengar oleh Maris dari orang-orang itu. Guru geografi SD yang mengajari Maris datang dari Pulau Kei. Dia banyak bernostalgia soal kehidupan di Indonesia. Tidak hanya bercerita soal keindahan alamnya yang selalu dilukiskan. Tapi juga mengapa orang-orang Eropa datang ke negara tersebut. hasratnya untuk mengetahui kehidupan di Indonesia yang sudah dijajah oleh nenek moyangnya muncul saat Maris mendapatkan pelajaran sejarah bagaimana VOC bisa sampai di Indonesia di bangku SMP. Read the rest of this entry »

Venti Wijayanti: Menyamun Akhir Pekan

Tulisan ini merupakan dokumentasi proses kekaryaan seniman perempuan yang terlibat dalam proyek seni dari bulan September-November 2016, diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Rutan Pondok Bambu. Terbit pertama kali pada buku “Bon Seni”.

Suasana “Sehari Bersama Mereka” yang juga diisi oleh siaran Keong Radio. (Sumber foto: DKJ)

MUNCUL PEMAHAMAN BERBEDA KETIKA membicarakan akhir pekan bagi warga binaan. Pegawai rutan yang libur dan tidak ada kegiatan membuat mereka mati gaya selama dua hari di dalam sel blok. Sedangkan di hari kerja, mereka bisa keluar sel blok untuk berkegiatan di unit tertentu seperti mengurus tanaman, senam pagi, voli sore hari, dan seterusnya. Venti Wijayanti kemudian menemukan cara memangkas kebosanan itu dengan menyisipkan musik di blok-blok rutan. Read the rest of this entry »

Ayu Dila Martina: Rentangan Hasrat, Rentetan Harap

Tulisan ini merupakan dokumentasi proses kekaryaan seniman perempuan yang terlibat dalam proyek seni dari bulan September-November 2016, diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Rutan Pondok Bambu. Terbit pertama kali pada buku “Bon Seni”. 

Mural Ayu Dila bersama warga binaan Rutan Pondok Bambu (sumber: google)

TIDAK ADA KEKAKUAN YANG AYU DILA MARTINA RASAKAN ketika memasuki area rutinitas warga binaan Rutan Pondok Bambu. Hal itu hanya muncul sebentar di bagian pintu depan pemeriksaan yang menjadi penghubung antara bagian luar dan dalam rutan. Setelah bermain kata yang terkait dengan hal-hal perempuan di minggu pertama, seniman ini mencoba menguji sejauh mana ketegangan antara warga binaan dan petugas rutan lewat lokakarya desain di minggu kedua Proyek Seni Panoptic. Read the rest of this entry »

Membaca Imajinasi Mufti Priyanka

photo 2

Mufti Priyanka atau Amenkcoy selalu punya pernyataan tentang keseharian. Dia kaya akan hal itu. Karya-karya seniman gambar ini terlalu sulit untuk lepas dari gejolak batin manusia yang senantiasa bergulat dengan hubungan maupun kondisi sosialnya. Narasi yang dibangun Amenk mampu memberi ketegangan antara keseriusan dengan lelucon, merintih dan merengek, atau mengecoh tapi terselip ketegasan. Ketegangan itu bisa menghadirkan tumpang tindih akan hal-hal yang menyiratkan bahwa keseharian yang dihadapi oleh manusia pada dasarnya kompleks dan tak terbendung dari segala macam kejutan.   Read the rest of this entry »