Lakon Arham

Cuma Jangan Sampai Digigit

Venti Wijayanti: Menyamun Akhir Pekan

Tulisan ini merupakan dokumentasi proses kekaryaan seniman perempuan yang terlibat dalam proyek seni dari bulan September-November 2016, diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Rutan Pondok Bambu. Terbit pertama kali pada buku “Bon Seni”.

Suasana “Sehari Bersama Mereka” yang juga diisi oleh siaran Keong Radio. (Sumber foto: DKJ)

MUNCUL PEMAHAMAN BERBEDA KETIKA membicarakan akhir pekan bagi warga binaan. Pegawai rutan yang libur dan tidak ada kegiatan membuat mereka mati gaya selama dua hari di dalam sel blok. Sedangkan di hari kerja, mereka bisa keluar sel blok untuk berkegiatan di unit tertentu seperti mengurus tanaman, senam pagi, voli sore hari, dan seterusnya. Venti Wijayanti kemudian menemukan cara memangkas kebosanan itu dengan menyisipkan musik di blok-blok rutan. Read the rest of this entry »

Advertisements

Ayu Dila Martina: Rentangan Hasrat, Rentetan Harap

Tulisan ini merupakan dokumentasi proses kekaryaan seniman perempuan yang terlibat dalam proyek seni dari bulan September-November 2016, diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Rutan Pondok Bambu. Terbit pertama kali pada buku “Bon Seni”. 

Mural Ayu Dila bersama warga binaan Rutan Pondok Bambu (sumber: google)

TIDAK ADA KEKAKUAN YANG AYU DILA MARTINA RASAKAN ketika memasuki area rutinitas warga binaan Rutan Pondok Bambu. Hal itu hanya muncul sebentar di bagian pintu depan pemeriksaan yang menjadi penghubung antara bagian luar dan dalam rutan. Setelah bermain kata yang terkait dengan hal-hal perempuan di minggu pertama, seniman ini mencoba menguji sejauh mana ketegangan antara warga binaan dan petugas rutan lewat lokakarya desain di minggu kedua Proyek Seni Panoptic. Read the rest of this entry »

Membaca Imajinasi Mufti Priyanka

photo 2

Mufti Priyanka atau Amenkcoy selalu punya pernyataan tentang keseharian. Dia kaya akan hal itu. Karya-karya seniman gambar ini terlalu sulit untuk lepas dari gejolak batin manusia yang senantiasa bergulat dengan hubungan maupun kondisi sosialnya. Narasi yang dibangun Amenk mampu memberi ketegangan antara keseriusan dengan lelucon, merintih dan merengek, atau mengecoh tapi terselip ketegasan. Ketegangan itu bisa menghadirkan tumpang tindih akan hal-hal yang menyiratkan bahwa keseharian yang dihadapi oleh manusia pada dasarnya kompleks dan tak terbendung dari segala macam kejutan.   Read the rest of this entry »

Suara-suara yang Mengganggu dari Daein Market

11794396_853284321408562_1389018857750079019_o

Suara detak jantung yang semula pelan dan samar pada video Daein Market Heartbeat. Jadi begitu mengusik setelah suara aktivitas potong-memotong rumput laut, daging babi, ikan, dan beberapa kegiatan lainnya di pasar tradisional Daein Market datang silih berganti. Denyut suara yang ternyata tidak beraturan itu mampu mempengaruhi segala aktivitas pasar dalam karya Reza NM, seniman Makassar yang melakukan residensi di Mite-Ugro Gwangju, Korea Selatan dari bulan April-Juni 2015. Lokasi Mite-Ugro yang berada dalam Daein Market, menarik Reza untuk merespon aktivitas sehari-hari masyarakat pasar itu – didirikan setelah perang Korea – dengan mengeksplorasi denyut jantung manusia. Read the rest of this entry »

Fallen Angels (Wong Kar-wai, 1995)

Sumber foto: google

Sumber foto: google

Sejarah gelombang baru sutradara Hong Kong tidak bisa lepas dari nama Wong Kar-wai, ia seperti nama-nama babon lainnya Zhang Yi Mou atau Kim Ki-duk jika mau berbicara tentang sinema Asia. Chungking Express (1994) adalah sebuah perayaan penting bagaimana tema-tema kegamangan dilebur dengan halus dalam teknik sinematografi yang ciamik. Fallen Angels (1995), kemudian seperti sebuah estafet yang tetap mempertahankan cita rasa itu. Read the rest of this entry »