Catatan dari Bincang Buku Kineruku Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock N Roll Sampai 15.000 Kilometer

by arhamrahmat

Taufiq Rahman Menuju Apresiasi Musik 

Bincang Buku Kineruku - Lokasi Tidak Ditemukan

Tidak bisa diingkari, sedari kecil saya sudah mengalami peristiwa musik. Contoh paling mudah adalah upacara bendera yang selalu menghadirkan tatanan wajib menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan menyanyikan salah satu lagu wajib nasional. “Indonesia Raya” merupakan karya musik dan musik adalah bagian kebudayaan paling tua bagi umat manusia. Masing-masing orang mengalami peristiwa musiknya secara berbeda. Menarik ketika menemukan orang-orang yang peristiwa musiknya sama dengan yang kita alami. Seumpamanya, si A mendengarkan musik B lalu mendapatkan kesamaan bahwa saya juga mendengarkan musik B. Niscaya hal tersebut menjadi satu bahasan menarik untuk menceritakan pengalaman-pengalaman mendengarkan kelompok musik tersebut.

Taufiq Rahman salah satu yang mengalami hal tersebut. Seorang wartawan untuk harian The Jakarta Post dan juga pecinta musik. Ia mulai menceritakan peristiwa musiknya dalam bahasa Indonesia di berburuvinyl.wordpress.com berlanjut ke media alternatif jakartabeat.net yang didirikan bersama kawannya Philips Vermote. Hingga sampai pada buku Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock And Roll Sampai 15.000 Kilometer. Taufiq mengejawantahkan peristiwa yang dilaluinya secara akrab bersama musik pada buku tersebut. Menjabarkan pengalaman menonton festival Lollapalooza 2008 sewaktu menempuh pendidikan master di Chichago. Merefleksikan album Master of Reality Black Sabbath sebagai album relijius. Mengagumi kematian musikus yang baru menginjak usia 24 setelah merekam album terakhirnya. Atau penafsiran sekaligus pandangannya bahwa “menulis musik adalah menulis tentang manusia.”

Di satu kesempatan, Kineruku (perpustakaan yang berpusat di Jalan Hegarmanah 52 Bandung) mengundang Taufiq Rahman untuk membincangkan peristiwa musiknya–jauh lebih dulu dialami ketimbang kehidupan profesionalnya–pada buku tersebut. Bincang buku yang dikemas secara ringan ini diadakan hari Minggu, 18 November 2012 turut mengundang Ismail Reza, seorang arsitek sekaligus penggila musik dan Budi Warsito, selaku moderator.

Pada bincang buku kali ini, dua pustawakan Kineruku: Budi Warsito dan Ariani Darmawan tampil perdana mempertontonkan kepiawaian bermusiknya. Diiring The Bo (Bayu dan Ogi), kuartet ini membaurkan suasana tawa dan mungkin saja kagum disaat “My Heart Will Go On” dari Celine Dion ditampilkan. Khusyuk-nya tiupan recorder Budi Warsito–hingga harus menutup mata demi menghasilkan harmoni–pada penampilannya tidak cukup membuat penonton terbawa atmosfir untuk lirik sebenarnya. Namun tetap saja, Budi Warsito–yang tertawan dengan alias Budi G saat meniup recorder–dan Ariani Darmawan–yang memakai alias Ran Manzarek dengan amunisi blower organ–mulai berani menampilkan kemaslahatan musiknya jadi satu perhatian tersendiri bagi yang akrab dengan mereka. “Sengaja kami tampil untuk membuat Harlan Boer begitu luar biasa,” seloroh Ariani. Harlan Boer yang menulis kata pengatar untuk buku Taufiq juga tampil membawakan lagu-lagu dari mini album perdananya Sakit Generik yang baru dirilis tanggal 10 November 2012.

Apa yang dituliskan Taufiq menjadi satu pencapaian apresiasi musik. Sedikit demi sedikit lahan bintang di langit ia turunkan dan menempatkan musikus, rock star, album atau karyanya pada utasannya. Gambaran itu termuat saat dia membahas Keith Richards dan biografinya. Merekam peristiwa musiknya; disajikan dalam bentuk tulisan dengan maksud berbagi pengalaman. “Saya sudah menulis sejak tahun 2004. Sebagai wartawan pemula politik, saya mulai menulis musik secara reguler karena kecintaan saya terhadap musik” kata Taufiq. Kecintaan terhadap musik membuat tulisannya menjadi tidak berjarak dan tersaji menarik dengan subjeknya, setidaknya itulah yang saya rasakan ketika membaca tulisan Taufiq. “Seperti yang terdapat di bagian belakang buku, sebenarnya saya menulis biasa-biasa saja yang penting adalah independensinya” tuturnya.

Selaku penanggap, Ismail Reza berpendapat bahwa pecinta musik tidak membutuhkan tulisan yang menyebutkan berapa jumlah album yang dikeluarkan, lagu apa yang pertama kali dibuat, dan sebagainya. “Ini mengingatkan gue dengan ucapan We Are Wolves Among The Sheep. Kita adalah serigala diantara domba-domba yang tersesat. Taufiq sudah memposisikan dirinya seperti serigala” ucap Reza. Disisi lain, Reza juga menanggap bahwa menulis musik memang susah. Beda dengan film, yang langsung bisa dinilai bahwa film tersebut bagus atau tidak; karena hal tersebut adalah visual. “Menulis musik bisa dikaitkan dengan kondisi sosial politik, tergantung background masing-masing orang dan hal itu sebenarnya sangat terbuka. Namun potensi itu tidak pernah terlihat oleh penulis dari media mainstream.” tambahnya.

Terus terang Taufiq menganggap bahwa menulis musik bukan lagi persoalan 5W1H tetapi creative writing. “Di Jakarta Post saya menulis sama dengan yang ada di Jakartabeat. Ketika saya menulis Benny Soebardja dengan hubungannya situasi politik tahun 70-an itu adalah hipotesis. Itu adalah persoalan creative writing dan persoalan menjadikan subjeknya menarik” ungkapnya. Bukti lain bahwa rumusan creative writing musik Taufiq harus diyakini: Ucok Homicide yang hadir pada diskusi tersebut memberitahukan bahwa Taufiq adalah orang pertama yang meresensi Homicide dengan benar. “Saya bukan pembaca Jakarta Post, namun ketika saya membaca tulisan Homicide di koran tersebut, Taufiq adalah orang pertama dengan benar meresensi Homicide. Meskipun saya tahu dia tidak terlalu mengerti hip-hop. Yang perlu diakui dari tulisan Taufiq adalah musiknya bukan tulisan politiknya tentang kemeja kotak-kotak” jelasnya. Berangkat dari proses creative writing jugalah peristiwa musik Taufiq berjalan terjal. Mendapati musik yang menurutnya jelek dan bagus. Membedakan antara yang harus dikabarkan dan harus dibiarkan saja. “Saya hanya pecinta musik yang menuliskan kecintaan saya kepada musik. Kalau musiknya jelek, ya tidak perlu ditulis. Kalau bagus ya memang harus dikabarkan ke banyak orang. Saya merupakan tipe orang yang tidak sabar dengan hal jelek. Kecuali kalau jelek banget dan semangat untuk menghancurkannya, saya akan menulis. Seperti Lady Gaga yang agendanya sudah jelas. Kenapa membuang tinta dan kertas untuk situasi yang memang merugikan banyak orang” ungkapnya. Pundi-pundi penguatan pernyataan Taufiq ditambahkan Budi Warsito yang memimpin jalannya perbincangan, “Kalau misalnya jelek tapi tetap ditulis itu akan tercatat. Jadi mending biarin aja, biar dia hilang dan enggak ada dalam sejarah.”

Ketika buku tersebut pertama kali saya liat melalui laman Facebook, perasaan tertarik untuk membacanya begitu besar. Di era ketika saya dibesarkan jarang saya menemukan buku berbahasa Indonesia yang menancapkan frasa rock and roll pada judulnya. Saya memang lebih tertarik dengan tulisan Indonesia ditambah penguasaan bahasa asing saya terbilang kurang mahir. Terkait frasa tersebut, secara jujur Taufiq menyampaikan bahwa itu lebih kepada sifat dagang, “Saya sebenarnya tidak terlalu akrab dengan term rock and roll. Dan kalaupun term tersebut didefinisikan sebagai The Rolling Stones atau The Beatles, saya tidak menyukai mereka dan terus terang saya mengambil jarak dengan rock and roll. Untuk tidak mengatakan saya benci. Saya suka indie-rock, namun judulnya saya rasa tidak cocok apabila Mencari Indie-Rock Sampai 15.000 Kilometer. Kenapa akhirnya rock and roll, karena term tersebut sifatnya memayungi beberapa jenis musik.”

Terlepas dari bincang buku tersebut, Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock And Roll Sampai 15.000 Kilometer mengingatkan saya akan karya Remy Sylado di tahun 1983. Dengan judul Menuju Apresiasi Musik–judul tulisan ini memang sengaja saya ambil dari buku tersebut. Tidak begitu jauh bedanya dari apa yang ditulis Taufiq, Remy Sylado membagi pengalamannya untuk memperkenalkan musik dari peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Entah itu pengalaman mengajarnya di berbagai perguruan tinggi seni atau ceramah musik. Saya ingat dalam satu diskusi bersama Remy Sylado, beliau mengatakan, “Budaya kita ini budaya lisan. Bukan budaya tulisan. Jadi untuk mengarsipkan haruslah ditulis.” Taufiq sedang melestarikan perkataan Remy Sylado, membuat satu pengarsipan musik yang nantinya akan berguna sebagai pedoman menentukan kemana arah tulisan musik seharusnya. Perjalanan Taufiq masih panjang, dia masih akan terus mengabarkan peristiwa musiknya dalam bentuk tulisan yang bijak bestari.

Advertisements