Gadis Bertangan Satu, Lagu Romantis C’mon Lennon

by arhamrahmat

378691_238550146218399_1106520978_nSaya mencoba mengingat lagu romantis apa yang paling berkesan dalam hidup saya. Mungkin juga sebenarnya tidak terlalu  – bahkan tidak sama sekali berkesan karena saya belum berhasil mengingat lagu yang saya inginkan. Mungkin juga saya hanya berkata seadanya saja kalau itu adalah lagu romantis. Nyatanya tidak sama sekali. Lalu apa pula dengan lagu romantis itu? Cih! Paling-paling saya menganggap lagu tersebut sebagai kategori romantis karena liriknya. Tak peduli musiknya seperti apa. Asalkan dalam liriknya dia bisa menggambarkan keakuan dan kekamuan lalu dibumbui sedikit khayalan – mungkin juga kenyataan – kekitaan, sudah cukup. Jadilah lagu romantis. Disitulah letak kredo lagu romantis buat saya.Tidak masalah definisi lagu romantis ini salah, toh kredo ini buat diri saya. Makna lagu romantis untuk saya.

Lalu-lalang otak saya dipaksa untuk berkomidi putar mengingat adegan-adegan pendengaran lagu romantis itu. Begitu banyak berserakan, coba saya ingat. Malas rasanya mengambil serak itu. Tapi saya ambil juga satu-per-satu. Banyak yang tidak cocok. Banyak yang saya serakan kembali. Hingga akhirnya, ingatan saya mengarah pada satu serakan. Ya, dia ada diantara serakan itu. Ini dia lagu romantis yang saya elu-elukan. Yang saya tunggu kedatangannya. Tidak, bukan kedatangannya. Lebih tepat saya menghampiri dia. Lagu ini juga tidak menunggu kedatangan saya. Tapi sewaktu-waktu jika dibutuhkan dia bersedia untuk dihampiri. Saya juga tidak mengidamkan dia. Dia muncul tiba-tiba. Dibuatnya telinga saya terpukau. “Gadis Bertangan Satu” memang tidak pernah mengecewakan. C’mon Lennon bukan cuman berhasil tapi jenius memahatnya.

Saya mulai menemukan dan mendengarkan“Gadis Bertangan Satu” di tahun 2009. Tidak ingin saya tahu, lagu ini dirilis dari kapan. Karena baru saya dengar, buat saya itu adalah pengalaman baru. Tidak masalah kalau saya dipecundangi dengan kalimat, “Ih, kok lu baru denger C’mon Lennon. Itu kan band lama.” Setelah kalimat itu, saya yakin ceramah itu akan bertambah panjang dengan mazhab yang entah dimana ujungnya. Mazhab yang membuat penceramahnya – bagi diri dia sendiri – sebagai seorang yang telaten karena telah memberikan pencerahan dan pengetahuan kepada pendengarnya kemudian akan dikagumi selanjutnya  – selain ucapan terimakasih. Tidak! Saya tidak membutuhkan itu. Saya tahu saya baru mendengarkannya, ya saya baru mendengarkan C’mon Lennon, lantas kenapa? Saya hanya butuh untuk menikmati lagunya; oleh penanyinya. Cukup. Bukan untuk mendengar mazhab dari entah namanya pengamat atau pendengar dan atau fanatik musik serba tahu. Kecuali saya bertanya kepada anda, bolehlah diberitahu. Kalu tidak bertanya, jangan mengganggu kenikmatan saya menemukan musik baru dalam hidup saya; C’mon Lennon. Bilamana saya ingin tahu kiprah penyanyinya, biarkan saya mencari tahu sendiri. Sesuai keinginan saya. Bukan oleh kemauan orang lain. Laksmi Pamuncak menulis seperti ini – dan saya meyakininya: Semua orang tidak akan suka bila dikasihtau.

Karena saya mendengarkannya di tahun 2009, saya juga bisa memastikan bahwa saya tidak mempunyai cakram dalam bentuk CD apalagi kaset – ketika saya mulai tahu bahwa penyanyi lagu ini merilis album pertama kali dan satu-satunya di sekitar tahun 2000-an. Album dengan judul Ketika La La La yang di dalamnya terpampang ”Gadis Bertangan Satu” sebagai salah satu atribut. Saya mendapatkan album tersebut melalui hasil copy paste dalam bentuk paling mutakhir – MP3 – dari laptop seorang teman. Tidak ingat pasti, apakah saya mendengarkan secara seksama album tersebut ketika diputar melalui laptop. Mendengar secara khusyuk, lantas ketika “Gadis Bertangan Satu” mulai teputar, saya terperangah, terkagum-kagum, kemudian bergumam dalam hati, “Begini nih lagu romantis yang seharusnya.” Atau mungkin malah saya tidak pernah memutarnya namun berani memutuskan bahwa “Gadis Bertangan Satu” adalah sebuah lagu romantis karena judulnya. Entahlah. Kemampuan ingatan saya memang berkurang. Jadi, mohon dimaklumi.

Saya tentu tidak tahu fantasi apa yang tersengat dari Harlan Boer (Bin) ketika memahat lirik “Gadis Tangan Bersatu”. Imaji liar seperti apa yang bisa singgah di otak pria yang juga bertanggung jawab secara penuh untuk menyanyikan hasil pahatannya. Apakah ini adalah hasil hubungan pribadinya? Bahwa Bin memang pernah jatuh cinta dengan wanita yang pada deskripsinya gadis bertangan satu. Ah, tapi terlalu klise untuk menuliskan seperti itu. Toh, saya tidak pernah menanyakan juga secara langsung. Mungkin juga ini adalah pengalaman teman Bin? Temannya datang becerita bahwa dia menyukai seorang wanita dengan ciri-ciri tinggi semampai, rambut ikal, wajah manis, hidung mancung, kulit sawo matang, bertubuh sintal, dan mempunyai wajah yang manis. Wanita itu sering dilihatnya ketika pulang dari kantor. Menunggu bis dengan harapan ada ruang kosong untuk dirinya. Sayangnya, teman Bin tidak berani mengambil resiko untuk ikut naik bis bersama wanita itu akibat jurusan mereka tidak searah. Karena itu pula mereka belum sempat berkenalan. Mereka hanya sempat beberapa kali saling berpandangan selama tiga detik. Oleh sebab itu, Bin dan temannya memberikan sebuah kode untuk wanita itu, “Gadis Bertangan Satu”. Disamping nyentrik dan aduhai, temannya memberikan kode tersebut karena mereka berpapasan secara menyamping di halte bis. Sehingga yang terlihat hanya satu dari sepasang tangan – tidak tahu apakah tangan kiri atau kanan.

Astaga! apa-apaan ini? Saya sudah hampir membuat cerita pendek. Sudah menyimpang dari tulisan yang ingin disampaikan. Baik, kalau begitu mari dicukupkan saja tentang duga-menduga lahirnya “Gadis Bertangan Satu”. Biarlah kisah sebenarnya hanya pembuat lagu dan orang-orang yang menanyakannya yang tahu. Pendengar “Gadis Bertangan Satu” juga berhak memiliki penafsiran sendiri. Biar ada dasarnya, saya ingin meminjam penjelasan Cholil Mahmud dalam Memoritmo– yang tafisrannya seperti inibahwa sebuah lagu itu hanya menjadi monopoli ketika si pencipta belum mengedarkannya secara luas.

Ini yang jelas dan saya ingat: saat mendengarkan pertama kali, saya sendiri merasa bahwa “Gadis Bertangan Satu” adalah lagu romantis. Juga tidak ingin terpaku dengan dugaan dari sisi penulis lagu yang tadi dituliskan. C’mon Lennon hanya melukiskan lirik itu ke dalam empat baris berima. Mirip sebuah pantun. Dengan itu sudah menjadi satu gubahan yang otentik. Lagu ini sampai kapanpun masih tetap enak dan cocok dinikmati. Dan juga pada ketika, lagu ini pernah menjadi semacam kode – bersama teman – bila di suatu tempat – entah di jalan atau di mana pun – bertemu seorang gadis atau perempuan yang menurut pandangan kami begitu sempurna. Saling berbisiklah kami melantunkan lirik awal “Gadis Bertangan Satu”. Sehabis lirik itu dilantunkan, mata kami saling bercakap untuk mengakui secara de facto lirik tersebut dihisap penuh oleh lawan jenis yang ditujukan.

***

Secara lirik, C’mon Lenon tidak menggunakan makna konotasi. Sepenuhnya denotasi. Bahwa “Gadis Bertangan Satu” itu memang benar-benar nyata dalam liriknya. Gadis yang begitu dianggunkan posisinya tanpa melihat keadaan fisiknya. Gadis yang membuat subjek merasa, obsesinya begitu kuat untuk mendapatkan dirinya. Subjek yang membuat dia berkhayal. Berkhayal akan dunia mereka berdua. Subjek yang mengagumi bahwa ciptaan yang indah bukan hanya pelangi. Gadis itu salah satu makhluk ciptaan tuhan yang terindah. Pemunculan porsi keakuan dan kekamuan bertemu hingga lahir kekitaan. Beginilah deskripsi yang saya gambarkan.

Gadis Bertangan Satu Genggamlah Jariku/Gadis Bertangan Satu Sentuhlah Hidupku

Aku meminta jarinya digenggam oleh sang Gadis. Manakala Gadis menggenggam jari Aku, terjadilah saling menggenggam. Saling menggenggam tentu mengarah pada sifat kekitaan. Sifat kesatuan perasaan antara Aku dan Gadis. Sifat kebersamaan. Tidak ingin terpisah satu sama lain. Tidak berbeda jauh dengan lirik kedua – malah lebih syahdu, Aku mengajak dengan halus bila Gadis memasuki relung hidupnya. Aku ingin hidup bersama dengan sang Gadis. Hidup kita, hidup antara Aku dan Gadis berbaur. Tidak masing-masing. Romantis, bukan?

Bagaimana jika objek tersebut menolak dan tidak ingin untuk menggenggam jari bahkan menyentuh hidup Aku? Tetap saja, porsi keakuan dan kekamuan tidak hilang – jika memang dikehendaki seperti itu. Kekitaan sudah terjadi. Sebelum Aku melantunkan lirik, sudah lebih dulu Aku mengkhayalkan bahkan membayangkan akan digenggam dan disentuh hidupnya oleh Gadis – dalam dunia nyata. Kekitaan sebenarnya sudah terjadi pada dunianya – bukan khayalan dan bayangan. Aku dan Gadis sudah lebih dulu hidup dalam dunia kecil. Mereka terejawantah dalam mikrokosmos. Dunia yang tidak akan bisa dimasuki siapapun. Siapapun! Hanya kita. Aku serta Gadis. Subjek dan objek.

Betapa Tuhan Begitu Sempurna Menciptakanmu

Di penggalan lirik berikutnya bahkan Aku sangat mengagumi Gadis. Gadis yang dengan segala kekurangannya dianggap sebagai ciptaan Tuhan – begitu sempurna. Sempurna? Gadis dengan tangan satu dianggap sempurna oleh Aku? Tentu! Bisa jadi! Aku tidak melihat dari segi fisik gadis tersebut. Aku sudah menyebutkan Tuhan. Menyebutkan kalau memang kehendak Tuhan memilih Aku untuk jatuh cinta kepada sang Gadis. Jauh dia melihat ke dalam tubuh gadis itu. Dia ingin mencermati apa yang disebut oleh pakar kecantikan adalah inner beauty. Kecantikan dari dalam. Kecantikan alami lanjut pakar kecantikan itu. Gila! Sungguh cermat Aku melihat gadis itu. Tapi bagaimana cara Aku melihat kecantikan alaminya? Apakah itu datang dengan sendirinya ketika Aku bertemu pada satu poros tatapan dengan Gadis? Ah, entahlah. Bukankah ketika manusia jatuh cinta segala hal yang buruk bisa segera dimaklumi. Hal yang berbenturan dengan fisik dapat segera diatasi. Perasaan abstrak yang tidak akan pernah bisa dilukiskan, hanya bisa dialami. Dirasakan. Manusia sebenarnya tidak ingin tahu mengapa dia jatuh cinta. Manusia hanya ingin merasakan jatuh cinta tanpa ada pertanyaan mengapa dan apa. Betul, bukan?

Maka Cacatlah Diriku Bila Tak Mampu Menggapaimu 

Lirik diataslah contoh mengapa hal fisik dapat segera terhapus. Malahan, Aku membuat sikap yang sangat sentimental. Menganggap bahwa kesempurnaan adalah ketidaksempurnaan dan ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan. Dengan fisik yang lengkap, Aku merasa cacat jika tidak bisa mendapatkan gadis itu. Gadis yang jelas-jelas bertangan satu. Fisik yang tidak lengkap. Ya, Aku akan menderita cacat di dalam hati. Aku tidak bisa menyatukan hatinya dengan kalbu sang gadis. Kemungkinan yang ditakutkan terjadi pada kenyataan. Kemungkinan yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Dalam sirkuit khayalan. Sirkuit yang membuat mikrokosmos Aku hancur seketika bak Gunung Krakatu memuntahkan isinya.  Maka dari itulah, Aku mengungkapkan isi hatinya. Aku memohon. Aku mengharap. Mengharap kepada Gadis itu. Mengharap kepada Tuhan. Diucapnya lirik itu pada sang Gadis. Diucapkan doanya pada Tuhan, “Kau telah menciptakan makhluk yang luar biasa sempurna, izinkanlah dia menemaniku. Menjadi pasanganku. Sama seperti Adam dan Hawa.”Perlakuan itu secara ikhlas dilakukan demi menghindari pusaran kemungkinan yang semakin curam. Aku tak ingin mikrokosmos yang dibangunnya hanya sekedar mikrokosmos. Aku ingin kenyataan.

Lalu, bagaimana dengan komposisi musiknya? Apakah sama menjelimetnya dengan deskripsi lirik diatas? Deskripsi yang sangat mungkin mendramatisir? Ah, saya bukan orang yang terlalu paham – mungkin juga tidak paham sama sekali – mengenai teknik bermusik. Namun, saya tahu kalau komposisi musik “Gadis Bertangan Satu” sama dengan liriknya, romantis. C’mon Lennon menciptakan melodi yang bersifat repetitif di awal lagu. Seterusnya, melodi ini akan menemani sepanjang lagu. Baik sebagai melodi tunggal atau melodi yang mengiringi lirik.Dipertengahan lagu ada bass line yang membuat saya tersenyum sepanjang 30 detik – mungkin lebih. Penanda terakhir bahwa komposisi musik “Gadis Bertangan Satu” begitu sempurna – yang juga sudah disebutkan di lirik – adalah gesekan suara biola – yang baru saya tahu setelah membaca bantuan alat musik apa saja yang digunakan C’mon Lennon pada secarik kertas di piringan hitam Ketika La La La – di akhir lagu. Awalnya saya mengira itu letupan akordeon. Eh, ternyata salah –sangat manusiawi.

***

Semenjak C’mon Lennon merilis ulang album Ketika La La La dalam bentuk piringan hitam, sungguh senang perasaan ini. Ada kemungkinan bagi saya untuk menikmati rilisan fisik mereka pertama kali. Kemungkinan itu berbuah menjadi kenyataan. Saya membelinya dari seorang teman – dengan bonus sebuah majalah favorit. C’mon Lennon hampir setiap pagi menemani. Ketika La La La menjadi ritual pukul tujuh pagi yang dinikmati bersama susu hangat dan rokok – kombinasi yang sungguh tidak mengasyikan.

Saat “Gadis Bertangan Satu” terputar, selalu saya menghadap keluar. Ke arah jendela. Semilir angin pagi masuk berceceran bersama sinar matahari. Membiarkan imaji saya bermain tentang lagu romantis itu. Bahwasanya – buat saya – “Gadis Bertangan Satu” adalah lagu favorit kedua saya yang dibubuhi kata Tuhan – setelah masa kecil sangat menyukai “Pelangi” dari A.T. Mahmud.

Menyimaknya, “Gadis Bertangan Satu”sungguh tidak pernah mengizinkan saya untuk berperan sebagai Aku. Seakan ada ruang yang memang diciptakan untuk menghalangi masuk. Dari pertama mendengarkan, lagu ini hanya mengizinkan saya untuk menonton dan mencermati Aku dan Gadis. Kadangkala juga saya disuruh untuk membangun penokohan mereka. Menentukan seperti apa akhir dari penokohan tersebut melalui lirik.

Kemudian saya tersadar, bahwa “Gadis Bertangan Satu” memang tidak pernah berserakan dalam ingatan ketika mencari lagu romantis apa yang ingin saya dengarkan. Dia ada pada satu rak. Bukan di bagian atas, bawah, tengah, kanan, ataupun kiri. Rak yang tersimpan rapi dan hanya dia isinya. Rak yang senantiasa saya pinjam isinya saat pagi hari dan mengembalikan ke tempat semula – setelah saya puas mendengarkan.

Advertisements