“Bilakah Bung Jantan? Bacalah Majalah Bung!”

by arhamrahmat

MariBung_Still4Ketertarikan saya terhadap majalah dimulai saat mengecap jenjang sekolah dasar – mungkin anda juga merasakan yang sama. Majalah Bobo, itulah majalah yang memulai hidup saya untuk mengerti bagaimana wujud asli dari sebuah media yang lebih mengasyikkan dari sebuah buku pelajaran. Masih ingat ketika kumpulan cerita pendek atau dongeng sangat membantu saya untuk melewati waktu ketika selesai mengerjakan PR.

Untuk ukuran Bobo, judul tulisan dalam bentuk cerpen yang ditampilkan cukup “”wah!” bagi anak sepuluh tahun. Salah satu judul yang masih saya ingat – dan kurang lebih beginilah judulnya Asal Usul Cabai Merah. Coba bayangkan anda berumur sepuluh tahun, tidakkah ada keteratrikan dari judul yang nampak sublim itu? Pasti adalah judul itu bagaikan medan magnet yang menarik minat anda untuk mengetahui, meskipun sedikit. “Wah!”, bukan? Buat saya pribadi, judul tersebut merupakan satu ketertarikan sendiri yang nantinya, maksudnya esok hari pasti akan berguna.

Mengapa esok hari? Tentu saja, esok hari saat istirahat jam pelajaran, anak-anak umur sepuluh tahun pasti ingin memamerkan beberapa cerita yang ia punya. Umumnya mengenai sinema elektronik yang tadi malam ditonton dan barang pasti digandrungi – seperti Jin dan Jun, Jinny oh Jinny, Tuyul dan Mbak Yul. Satu hari saja kelewatan ceritanya, bisa menjadi malapetaka dalam lingkungan sekolah. Dianggap ketinggalan jaman. Betapa mengeneskannya lingkungan sekolah, bukan? Untuk itu, jika saya ketinggalan sinema elektronik, pasti ada amunisi yang disiapkan. Cerpen Bobo! Dengan menceritakan cerpen tersebut, tentulah ada rasa bangga yang menyelimuti karena cerita yang saya sampaikan berbeda dari mereka – di kemudian hari sikap berbeda seperti ini dijadikan patokan hidup.

Selalu saja ada alasan untuk lebih cepat pulang dari sekolah untuk segera melahap Bobo yang terbit setiap satu minggu sekali – hal yang sudah tidak pernah lagi saya alami selepas SD. Segera membuka sampul plastik yang berisikan Bobo dan terletak di atas meja rumah. Kadangkala, Bobo sering menghadiahi bonus pernak-pernik ala redaksinya. Entah itu penggaris, pensil, tempat pensil, mistar pengukur tinggi badan. Dan oleh sebab bonus hadiah tersebut, kadangkala juga saya berebutan dengan sang adik untuk menggamit Bobo. Siapa cepat dia dapat.

Selain Bobo, saya juga pernah mencoba untuk mencicipi majalah Liga Italia – karena menyukai permainan dan tayangan sepak bola. Namun, tidak sanggup saya baca. Mungkin karena gambarnya sedikit dan tulisannya terlalu panjang – maklum umur saya waktu itu sepuluh tahun lebih dan lebih menyukai tulisan bergambar.

Selepas jenjang sekolah dasar, tidak pernah lagi saya temukan majalah yang menarik untuk dibaca – pasti ada, cuman saya saja yang malas dan atau tidak mau mencarinya. Sudah bukan nyaris, namun memang terjadi lawatan bacaan. Sampai menyelesaikan bangku sekolah hanya berkisar sebatas koran dengan rubrik olahraga dan tabloid khusus sepak bola.

Oh iya, hampir saja terlupa, sempat beberapa kali saya membeli Ripple sewaktu SMA, dari situlah saya mengerti hegemoni musik Indonesia di jaman tersebut hingga arti dari gaya berpakaian yang trendi. Bagaimana majalah yang berpusat di Bandung itu memaparkan keasyikan-keasyikan beberapa kelompok musik dengan ulasannya.

Sejujurnya, ketertarikan saya terhadap majalah musik lebih besar adanya. Namun, ada kendala yang saya temukan. Sebenarnya bukan kendala melainkan satu bentuk acuh tak acuh terhadap majalah musik di Indonesia. Minat saya untuk majalah musik di Indonesia tidak berbanding lurus dengan keinginan hati. Artinya, memang ketertarikan saya lebih sedikit – untuk tidak menyebutkan tidak sama sekali – untuk membaca majalah musik terbitan di Indonesia. Atau bisa jadi, ketertarikan ada namun saya tidak mengenal majalah musik yang ada di Indonesia disebabkan akses informasi yang kurang. Atau malah, saya sudah tahu majalah tersebut namun tidak ada ketertarikan untuk membacanya dikarenakan isi atau kontennya. Entahlah.

Konten, sejatinya adalah komposisi utama dalam meramu sebuah majalah. Bagaimana daya pikat majalah ada pada konten. Dia adalah saripati majalah. Kebanyakan orang ingin membaca majalah karena rasa ingin tahu dan dengan gaya penulisan yang kadangkala santai bahkan njelimet. Karena tulisan ini tidak membahas ini, dicukupkan saja.

Singkat tulisan, seiring berjalannya waktu, ada satu temuan mengenai majalah yang dipromosikan oleh seorang teman untuk membacanya. Bukan sebuah majalah musik yang dipromosikan, melainkan sebuah tetek bengek tentang pria. Bukan juga tentang tetek bengek pria yang mengumbar bagaimana menjadi ganteng atau menggaet wanita, melainkan wacana kasual sehari-hari yang terlewatkan dalam kehidupan.

Wacana yang mengeliminiasi sifat-sifat kulminasi pria yang mengharuskan bahwa seorang pria harus pandai menyetir. Bahwa berpacaran di atas jembatan layang juga mengasyikan. Hematnya, wacana yang dihadirkan majalah ini adalah wacana yang ketika selesai dibaca, tidak terlalu membangkitkan hasrat untuk mendekati atau menarik lawan jenis, seperti pada umumnya majalah-majalah pria.

Bisa saja deskripsi diatas tidak membangkitkan juga gairah untuk mengetahui majalah apa yang dimaksud. Tapi, demi kemaslahatan tulisan ini, saya sebutkan saja nama majalah yang dimaksud adalah Bung!

Usia umur majalah pria ini tidak begitu panjang. Saya mengekategorikannya: hanya satu tahun – yang dimulai Desember 2011. Dengan motto “Hidup Pria Indonesia”, Bung! terbit secara berkala dalam tiga bulan. Jika diasosiasikan dengan pelajaran berhitung, maka ada empat edisi dalam satu tahun. Lho? Mengapa singkat sekali usianya? Iya, memang singkat, karena sedari awal sudah diinginkan seperti itu. Sama seperti buah mangga yang dipetik dari pohonnya untuk dijadikan sambal mangga. Sungguh nikmat bukan?

Kenikmatan sambal mangga juga tentu dirasakan majalah Bung! Unsur rasa dalam empat edisi melalui tulisan-tulisan panjang yang bersifat kooperatif dan pendalaman yang cukup jenaka mendefinisikan majalah ini sebagai majalah yang memang berbeda di era sekarang. Bung! mencoba untuk merasuki arti dari maskulinitas di zamannya.

Tentu saja akan sangat panjang jika harus dijelaskan bagaimana saripati Bung!. Cukuplah dengan uraian singkat diatas anda bisa tahu bahwa tulisan-tulisan yang disajikan majalah pria ini bersifat komprehensif yang sungguh sayang bila dilewatkan – apalagi mereka hanya terbit dalam empat edisi, tentu tidak sulit bukan untuk mengikutinya?

Bung! yang jika diibaratkan dengan peribahasa diam-diam menghanyutkan, menyelinap untuk memberikan secarik kwitansi untuk ditandatangani secara bersama para pembacanya. Bahwasanya majalah pria ini sudah berhasil memberikan penanda bagi kaum pria saat ini. Penanda bahwa beginilah pria maskulin Indonesia yang didefinisikan Bung!

***

Tentulah, Bung! layaknya seorang anak manusia yang lahir butuh perayaan untuk menyatakan kebahagiaan, meskipun kecil. Setelah melalui masa penerbitan secara berkala dalam setahun dengan empat edisi, tibalah waktunya untuk merayakan kejantanan Bung! bersama para kader dan anggotanya. Sebenarnya tidak begitu elok menyamakan perayaan Bung! sama dengan perayaan ulang tahun bagi seorang anak manusia yang lahir di tanggal 29 Februari dan mengartikan sebagai tahun kabisat. Anak manusia itu akan berulang tahun sekali dalam empat tahun, Bung! pun hampir demikian. Sayangnya baru hampir. Nyatanya Bung! merayakan kejantanannya setelah melalui empat kali masa penerbitan. Dan sayangnya lagi, perayaannya tersebut adalah terakhir kali. Dari penjelasan tersebut, “tidak begitu elok” mengalami pergeseran makna menjadi “tidak elok sama sekali”. Dan mungkin lebih baik diartikan seperti itu.

Ah, tapi tidak perlulah hal tersebut dimasalahkan. Itu hanyalah bagian imajinasi. Mari kembali lagi ke periode perayaan kejantanan Bung!

Tepat tanggal 2 Maret 2013 – yang sebenarnya bukan tepat melainkan memang – kejantanan Bung! dirayakan pada salah satu pusat yang merupakan nutrisi untuk meraih isi dunia – begitu kata yang sering diucapkan seorang guru saya ketika SD – yaitu perpustakaan bernama Kineruku dengan lokasi di jalan Hegarmanah 52 Bandung. Nama perayaan ini adalah “Mari Bung, Kita ke Bandung!” dengan tema ngobrol santai tentang majalah Bung!. Untuk lebih enak, mari persingkat saja menjadi kejantanan Bung!

Kejantanan Bung! ini tentu saja mempertontonkan kumpulan manusia yang ada di balik majalah ini. Tersebutlah pria yang mempunyai nama Ardi Yunanto sebagai pemimpun umum, Roy Thaniago dan Ika Vantiani sebagai redaktur, Andang Kelana sebagai penata artistik, dan Reza Mustar sebagai kontributor ilustrasi.

Selain Ika Vantiani yang merupakan wanita satu-satunya di rombongan itu, karisma pria dibalik Bung! ini memang mencerminkan saripati majalah ini untuk tidak menyertakan tulisan mengenai perlunya pria bertubuh mantap hingga membuat pria lain segan hingga keki dan membuat wanita kepincut untuk mendapatkan belainnya.

Seperti halnya dalam salah satu rubrik majalah ini yaitu Siasat, kejantanan Bung! juga menghadirkan siasat untuk menemani perayaannya. Hadirlah dua nona – yang dalam perjalanannya diperbantukan jua oleh dua bung – dalam padanannya menyanyikan beberapa tembang terkenal untuk dinyanyikan ulang menggunakan perangkat singkat seperti ukulele, gitar akustik, dan dawai vokal. Nona ini terangkum dalam Tetangga Pak Gesang.

Juga, lagi-lagi seperti dalam salah satu rubrik Bung! ada Pilar yang berfungsi sebagai pembicara dari sudut pandang berbeda. Kunto Adi Wibowo yang padanya membeberkan tanggapan tentang majalah Bung! dan memposisikan diri sebagai pengamat media. Lalu ada Syarif Maulana yang merupakan penggiat klab filsafat Tobucil yang memaparkan tentang pentingnya tulisan mendalam tentang kehidupan pria dan relasinya terkait kondisi sekarang ini. Era dimana internet sudah sangat mudah untuk menggapi segala apapun dan berjamurnya majalah waralaba. Tim redaksi Bung! sendiri menjelaskan pendekatan-pendekatan redaksional mereka terkait tulisan-tulisan yang sudah mengucur di empat edisi Bung!. Pilar ini ditopang Budi Warsito – yang pada edisi perdana majalah Bung! merupakan pemimipin redaksi – dengan posisi sebagai moderator atau penghubung untuk perayaan kejantanan Bung!. Untuk melengkapi obrolan perayaan ini, Kunto Adi Wibowo dan Syarif Maulana menuliskan terlebih dahulu gambaran pendapat mereka dalam satu tulisan berbentuk makalah.

***

Kunto Adi Wibowo memulai kejantanan Bung! dengan makalahnya “Bung! Mari Rebut Maskulinitas Indonesia”. Dalam makalah itu, Kunto mampu menggambarkan apa yang saya rasakan ketika edisi terbaru majalah favorit telah terbit. Tidak ada yang lebih membanggakan ketika kita lebih dulu tau ketimbang orang lain isi dari majalah favorit. Dari majalah pula seseorang bisa merasakan gender maskulin. Karena hanya majalah yang mempunyai gender. Tidak perlulah disebutkan contoh majalah gender tersebut. Lalu lebih lanjut ketika mengemukakan pendapat mengenai majalah pria yang sedang dibahas dalam tulisan ini, Kunto Adi Wibowo merasakan bahwa Bung! menghadirkan nilai laki-laki Indonesia untuk mendefinisikan dan menciptakan kepada kategori baru. Hal itu ia rasakan sejalan dengan arus seni yang membidaninya. Seolah tampak tengil. Di akhir makalah ia menuliskan “Menjadi majalah laki-laki yang tengil berada di dalam ketegangan anatara maskulinitas global dan lokal, yang kian kapitalistik namun semakin sensitif terhadap isu-isu budaya, lingkungan, dan sosial.”

Sang penggiat klab filsafat Tobucil Syarif Maulana memberikan pengertian kepada Bung! sama seperti bidang yang ditekuninya. Antitesis dan Abnormalitas. Pernyataan menohok Syarif dan memang ada benarnya bahwa membaca majalah ini membuat alat yang bersangkutan tidak “bangun” sama sekali. Ditambah dengan artikel yang ditulis panjang oleh sejumlah kontributor ternama. Seperti inilah yang disebut anitesis. Karena menurutnya majalah pria sejatinya punya satu benang merah yang “kita-tahu-semua”. Melalui kover kita bisa menilai bahwa ini adalah majalah pria. Maxim, FHM, Popular, atau ME itulah beberapa contoh majalah pria yang dalam hematnya bisa dinilai melalui kover. Kalimat ini masuk ke dalam ranah abnormalitas. Namun, tunggu dulu. Syarif ternyata punya pembelaan yang hampir sama dengan Kunto. Bahwa kehadiran Bung! ini ingin mengusik para pria untuk memaknai ulang arti vitalitas. Bagaimana pria bisa seksi dengan melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, dengan menjadi dirinya sendiri, dan begitu seksi dengan tidak terpengaruh dengan keinginan media. Meski dalam obrolan itu, pada akhirnya Syarif lebih memilih majalah yang mengedepankan kover untuk menggugah naluri pria ketimbang Bung!

Lebih lanjut, Syarif memberikan perbandingan tentang majalah dan internet. Secara umum, ia tidak terlalu sependapat bahwa kehadiran tulisan yang ada dalam internet sulit menjangkau kedalaman. Memang ada benarnya jikalau karena kebutuhan serba cepat, internet menyajikan berita yang singkat. Namun, ada juga peluang yang menghadirkan tulisan dalam internet yang bersifat dalam, utuh, dan melalui riset yang cukup. Lalu, mari melihat perbandingan yang lebih mencolok antara majalah dan internet. Fisik. Ya, majalah menurut Syarif adalah sesuatu yang nyata. Ketika membeli majalah ada pertimbangan yang cukup memaksa kita untuk berpikir tentang ruang. Di mana majalah tersebut akan disimpan, sebagai apa, dan dengan tampilan seperti apa. Karena majalah yang dibiarkan begitu saja setelah dibaca akan mempunyai sentimentalis yang berbeda ketimbang majalah yang ditata rapi di sebuah rak atau tempat.

Menanggapi pernyataan dari para Pilar di atas, tim redaksi Bung! mencoba memberikan pendekatan-pendekatan secara redaksional untuk mengajak para kontributor untuk menulis. Ardi Yunanto dkk menyebutnya sebagai surat cinta. Surat ini berisi tentang untaian kalimat-kalimat indah dengan bahasa yang santai dan kadang juga jenaka – ini menjadi salah satu faktor mengapa artikel Bung! syarat dengan kejenakaan – membuat tim redaksi yakin, bahwa sang penulis tidak akan tidak sungkan untuk menulis di majalah Bung! Karena menurut Ardi, apabila satu penulis yang disasar gagal, maka mencari penggantinya akan sulit. Dalam surat cinta itu juga disampaikan bahwa tim redaksi telah membaca berbagai tulisan sang penulis entah dari website ataukah blog, sehingga menjatuhkan pilihan redaksi kepadanya. Ini juga merupakan siasat yang ditempuh tim redaksi untuk membawa pujian tersendiri bagi sang penulis. Salah satu contoh surat cinta Bung! kepada calon penulis ada di edisi terakhir atau keempat yang dituliskan Budi Warsito.

Akhirnya, memang bisa dikatakan bahwa majalah Bung! meskipun kehadirannya cuman sebentar, namun ia bisa menghadirkan ruang-ruang dari keseharian kita yang terlupa. Dengan membacanya, kita tersadar bahwa ruang tersebut memang selalu kita lalui tanpa pernah memperhatikan. Meskipun belum berhasil mendefinisikan kejantanan dalam empat edisi, setidaknya Bung! sudah menjadi penanda jaman di era-nya. Mungkin belum terasa jika masih hitungan lima tahun, namun dalam hitungan sepuluh tahun, manakala majalah ini sudah langka – bisa jadi – para pria masih sibuk apa arti kejatanan di tahun tersebut. Atau mungkin para pria ingin membanding kejantanan di era Bung! dengan era tersebut. Entahlah.

“Bilakah bung jantan? Bacalah majalah Bung!”

Advertisements