Karebosi Kemarin, Karebosi Sekarang

by arhamrahmat

Karebosi Kemarin

Karebosi Kemarin

Kembali, ingatan saya melayang. Pada suatu masa. Pada usia belasan. Pada masa itu, saya menikmati mulainya masuk masa mandiri. Masa mandiri saat berangkat dan pulang – ke dan dari sekolah – tanpa bantuan orang yang berada di rumah – yang tentu saja merepotkan. Masa  di mana saya menikmati dari apa yang dinamakan realitas angkutan kota – di kota di mana saya dibesarkan disebut pete’-pete’­. Masa penting dalam hidup saya. Karenanya saya bisa tahu arti dari kemandirian – tanpa menyinggung keuangan. Masa penting dalam hidup saya. Karenanya saya bisa merasakan semangat kolektif pertama kalinya. Semangat kolektif yang saya dapatkan bersama teman-teman saat berjalan menuju pemberhentian – dengan kisaran jarak 800 meter – pete’-pete’. Di ujung pemberhentian, disitulah berkumpul pete’-pete’ dengan segala macam jurusan. Menuju pemberhentian yang memisahkan saya dan teman-teman – karena tentu saja arah kembali ke rumah masing-masing dari kami berbeda. Saya juga meyakini di awal usia belasan menjadi fase di mana cap anak-anak perlahan  ingin dihilangkan – yang secara sadar – ingin mencoba untuk lebih bisa mengatur hidupnya sendiri. Campur tangan orang tua pasti ada, namun tidak begitu signifikan. Selain contoh di atas yang saya sebutkan, ada kalanya  di awal usia belasan mereka lebih nyaman untuk bepergian bersama temannya. Lebih banyak menggalakkan kerja kelompok ketika ada tugas – mungkin juga saat ujian sekolah.

Baiklah, kembali kepada ingatan saya. Dalam perjalan menuju pemberhentian tersebut, pasti ada yang selalu menemani kami. Selalu menemani langkah kami di sisi kiri jalan sepulang dari sekolah. Dia bukan sosok. Bukan benda. Melainkan ruang. Ruang yang sangat saya gandrungi pada masa itu. Jika ada uang jajan yang tersisa, sesekali kamimemasuki ruang itu untuk singgah membeli bikandoang – jenis makanan dengan komposisi tepung terigu, sayuran, dan udang. Dicampurkan kemudian digoreng –  dan es sirup – dengan nominal seribu rupiah. Lima ratus rupiah – yang pada masa itu masih banyak beredar dalam kertas – untuk dua biji bikandoang dan lima ratus rupiah lagi untuk segelas es sirup – sirup yang berwarna merah marun yang mengkombinasikan rasa buah dengan merek DHT. Ruang itu, mempertemukan segala kelas di kota. Ruang itu memberikan interaksi yang luas; kelas bawah, menengah, hingga atas. Ruang itu membuka khazanah publik. Ruang itu bernama Karebosi.

Saya adalah satu diantara sekian generasi terakhir – mungkin menjadi juga generasi terakhir – yang merasakan nikmatnya berjalan tiap hari – pagi dan siang – melintasi rindangnya pohon di Karebosi. Ya, itu adalah satu rutinitas ketika menginjak usia tiga belas tahun – pada masa itu sekolah tempat saya mengenyam pendidikan belum atau tidak(?) menyebut SMP, melainkan SLTP. Usia dimana saya mulai memutuskan – bersama adik – untuk tidak lagi menaiki antar jemput sekolah. Alasan utama adalah kami sudah bisa untuk dilepas menuju dan pulang ke sekolah dengan mandiri – mengingat usia saya dengan adik hanya berbeda satu tahun. Alasan kedua adalah lebih murahnya menggunakan pete’-pete’ dibanding antar jemput sekolah. Dari situlah saya mulai akrab secara dekat dengan Karebosi.

Keakraban saya dengan Karebosi sebenarnya sudah terjadi sejak masuk Sekolah Dasar (SD). Lahir di awal tahun 90 dan besar di kota Makassar di era 2000-an membuat saya mengenal Karebosi. Sembilan tahun saya menimba ilmu di salah satu perguruan swasta yang bertumpu pada pendidikan keagamaan – SD hingga SLTP –  dan setahun lagi untuk masa Taman Kanak-kanak (TK) – total sepuluh tahun saya berada di lingkungan tersebut. Lingkungan yang diapit oleh Karebosi. Lingkungan yang pada mulanya, mengenal Karebosi hanya sebagai lapangan sepak bola saja. Wajar, mengingat kompleks ruang ini terdiri dari beberapa lapangan sepak bola – biasanya dijadikan sebagai arena latihan klub profesional kota Makassar PSM. Seberapa luas Karebosi? Saya tidak mengetahui pasti. Yang jelas dia berada di tengah empat jalan protokol Makassar: Jalan Ahmad Yani, Jalan R.A Kartini, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan Kajaolaliddo. Yang terakhir disebut ini merupakan alamat tempat saya bersekolah.

Ada satu agenda yang biasa kami lakukan waktu itu menjelang hari kemerdekaan Indonesia. Gerak jalan lampion adalah salah satunya selain upacara kemerdekaan di Karebosi. Ya, Karebosi adalah arena tempat berkumpulnya semua – mungkin juga tidak semua – sekolah di Makassar untuk mengikuti gerak jalan lampion. Arena yang berfungsi sebagai tempat dimulainya gerak jalan lampion. Kemudian mengelilingi beberapa jalan protokol di Makasar dan kembali lagi di Karebosi. Perasaan bangga kami rasakan saat memegang aneka pernak-pernik lampion berkumpul satu di Karebosi. Kagum melihat teman-teman dari sekolah lain dengan beraneka ragam atribut lampion. Dari gerak jalan lampion ini juga, kami bisa mengetahui nama-nama sekolah lain melalui kostum yang dikenakan. Kostum gerak jalan lampion ini adalah baju olahraga dari masing-masing sekolah. Sekolah negeri menggunakan baju yang dibelakangnya tertera nomor sekolahnya. Misalkan SLTP Negeri 3, SLTP Negeri 6, dan sebagainya. Bagi yang pernah mengikuti gerak jalan lampion, mungkin merasakan juga keasyikannya.

Dari Karebosi juga saya bisa memperhatikan legenda sepak bola PSM Ramang berdiri megah di pintu masuk ruang itu dari arah Jalan Ahmad Yani. Seolah Ramang menjaga dengan tenang ruang tersebut. Dia mempersilahkan segala macam orang maupun pengusaha masuk untuk berinteraksi. Apakah itu pengusaha obat keliling – dari sinilah saya mendengar pertama kali kalimat “Yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Tapi tetap perhatikan dompetnya.” Pengusaha obat yang memasarkan segala macam bentuk dagangannya dengan perlengkapan mik dan speaker minimum. Untuk melengkapi kepercayaan pengunjung, pengusaha ini memanggil satu orang pengunjung untuk mencoba khasiatnya – dan tentu saja berhasil. Belakangan setelah saya menceritakan keampuhan pengusaha obat itu, seorang teman berkata bahwa pengunjung yang dipercaya untuk mencoba khasiat obatanya adalah temannya sendiri. Dia menyamar sebagai pengunjung. “Astaga! Ada-ada saja” itulah kalimat pendek saya untuk mengakhiri rasa kagum saya. Tidak hanya pengusaha obat keliling yang bergumul disitu. Pengusaha semacam minuman dingin sungguh laku keras disitu. Apalagi di tengah terik matahari. Tak ketinggalan penjual es krim yang menarik minat pembeli dengan melodi monoponik. Yang jika dijadikan lagu seperti ini: Beli dong /Beli dong/Aku capek dorong

Di malam hari, Ramang mempersilahkan para pengusaha makanan untuk membuka lapak dagangannya. Mereka berjejer seperti warung seafood. Seingat saya beberapa macam makanan khas ada disitu: Sop Konro, Sop Saudara, dan Coto. Lihatlah, Ramang mempersilahkan bagi para pengusaha untuk membiarkan rezekinya tetap tersedia. Membagi dengan tepat waktu usahanya. Membiarkan strata sosial berkumpul dalam satu ruang publik, Karebosi. Meskipun Ramang yang saya maksud dalam bentuk patung setinggi kurang lebih lima meter – maafkan jika salah. Dan oh iya, malam hari diatas jam sepuluh malam, Karebosi juga dikenal dengan godaan waria-nya. Sungguh menarik, bukan? Karebosi adalah ruang publik yang begitu baik.

Hal yang paling mengesankan saat bersama Karebosi adalah sore hari. Ruang itu mencapai puncak betapa mustahak keberadaannya di penghujung hari; menjelang senja. Karebosi menyediakan segala macam anjangsana saat klub sepakbola kebanggaan masyarakat Makassar PSM melakukan latihan. Mulai dari penjual yang menggelar dagangannya yang berhubungan dengan atribut PSM. Entah itu kaos, poster, atau aneka macam lainnya. Parkiran di sisi kiri sepanjang Jalan R.A Kartini mendadak penuh. Pedagang mendadak ramai. Selagi PSM latihan, di sisi lapangan lainnya berjejalan sekolah sepak bola – saya juga pernah memimpikan untuk begabung dengan sekolah tersebut. Setidaknya saya mencatat ada tiga nama Sekolah Sepak Bola (SSB) di Makassar yang terkenal karena prestasinya: Bangau Putra, Persis, dan MFS (Makassar Football School). Yang terakhir disebutkan adalah SSB elit, yang memang dikelola secara manajemen untuk menyalurkan pemain mudanya kepada PSM. Selain itu MFS ini mempunyai lapangan tersendiri di bagian Karebosi. Diberikan pagar untuk membatasi. Ya, MFS ini sarat dengan kompleksitas termasuk biaya masuknya. Berbeda dengan Bangau Putra dan Persis yang menggunakan lapangan kosong di Karebosi. Kedua SSB ini mungkin melakukan asas siapa cepat, dia dapat. Entahlah, saya tidak mengetahui pasti. Dan Bangau Putra serta Persis adalah SSB yang diisi oleh anak-anak dengan kemampuan ekonomi orang tuanya menengah kebawah. Tapi toh, prestasi kedua SSB ini tidak kalah mentereng dengan MFS. Mereka bisa bersaing dengan MFS disamping kedua SSB ini lebih dulu muncul.

Pengalaman seperti ini saya alami secara rutin ketika memasuki periode kelas tiga SLTP – yang berarti umur lima belas. Di akhir bangku SLTP, diadakan materi pelajaran tambahan agar lebih matang mempersiapkan Ujian Akhir Nasional. Materi tambahan itu meliputi materi pelajaran yang akan diujiankan: Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Pelaksanaan materi tambahan tersebut dimulai sekitar jam setengah tiga siang. Ada waktu istirahat setengah jam dari jam bubaran sekolah. Durasi untuk materi tambah pelajaran tersebut berkisar dua setengah hingga tiga jam. Otomatis jam pulang saya menjadi setengah lima atau jam lima sore. Pada waktu pulang itulah menjadi salah satu waktu favorit saya menghabiskan waktu menuju senja.

Terkenang di saat-saat itulah saya mencoba menerobos untuk menyaksikan secara dekat latihan PSM – maklum badan saya tidak begitu tinggi. Pemain-pemain seperti Christian Gonzales, Oscar Aravena, Irsyad Aras, Syamsul Chaeruddin, dan beberapa nama lainnya yang sudah saya lupa menjadi primadona. Di masa itu, saya mengingat ketajaman tandem Christian Gonzales dan Oscar Aravena menjadi pencetak gol terbanyak. Meskipun di masa itu mereka tidak berhasil menjadi juara, toh animo masyarakat tetap setia untuk menyaksikan mereka latihan. Selesai PSM latihan, sesekali masyarakat mengerumuni pemain tersebut untuk sekedar foto atau meminta tanda tangan. Kedekatan terjadi begitu erat.

Dari lapangan Karebosi dan sepak bola juga pernah ada berita duka menaungi PSM. Kejadian itu terjadi sewaktu saya kelas empat – mungkin lima SD. Saat itu adalah masa dimana PSM merebut juara. Dengan pelatih Syamsuddin Umar, PSM merengkuh trofi Liga Indonesia – kalau saya tidak salah yang ke VI – dengan skuad yang tangguh. Hendro Kartiko, Joseph Lewono, Rony Ririn, Bima Sakti adalah sederetan nama yang meramaikan percaturan PSM. Di bagian penyerang, lawan akan merasakan keganasan tridente Kurniawan Dwi Julianto-Miro Baldo Bento-Fouda Ntsama. PSM mengalahkan PKT Bontang di final. Saat itu sistem Liga Indonesia terbagi dua wilayah: Barat dan Timur. Empat besar masing-masing wilayah akan beradu dalam grup yang dibagi dua. Urutan satu dan dua dari grup tersebut akan masuk ke dalam semifinal dan selanjutnya final.

Momen itu tidak akan pernah saya lupa. Setelah merengkuh juara, PSM tetap kembali latihan untuk mengarungi musim berikutnya. Datang kabar dari koran bahwa Fouda Ntsama mengalami cedera saat latihan. Saya mengira hanya cedera biasa yang pasti akan sembuh dalam waktu dekat. Namun, dalam waktu dekat Ntsama pun meninggal dunia. Bukan akibat cedera. Kuat diduga meninggalnya karena dia menyalahi aturan magis dari Karebosi. Ntsama sewaktu latihan kencing di sembarang tempat. Akibatnya, dia mengalami gangguan kesehatan. Konon tempat Ntsama membuang kencinganya itu adalah makam penjaga Karebosi. Sedikit banyak saya menyimak cerita dari koran tersebut bahwa ada tujuhmakam disitu. Secara dramatis Ntasama tidak tahu menahu tentang informasi makam itu harus menjadi tumbal. Sampai sekarang saya masih menanyakan apakah meninggalnya Ntsama karena hal yang berbau magis atau memang murni karena sakit? Entahlah. Hanya Karebosi yang tahu sejarahnya.

Karebosi Sekarang

Karebosi Sekarang

Namun, Karebosi seperti itu tidak lagi ada. Karebosi yang bercokol patung Ramang di pintu masuk. Karebosi yang merambah para pengusaha obat dan minuman segar di siang hari. Para penjaja makanan pada malam hari, para pedagang di sore hari yang menemani PSM latihan, dan para penggoda waria. Semua itu sudah hilang. Semua itu tergantikan dengan tiang pancang yang mengarah ke bentuk: pusat perbelanjaan dan mal. Saya lupa secara jelas kapan mal itu dibangun, mungkin sekitar tahun 2008.

Karebosi saat ini sudah begitu elit. Begitu rupa dihiasi dengan segala macam produk budaya. Saat ini di bagian bawah Karebosi sudah jadi mal. Di bagian lapangan sudah di pangkas hingga menyisakan mungkin setengah atau kurang lapangan sepak bola. Di sisi Karebosi sudah menjadi arena parkir. Ini yang membuat saya miris, patung Ramang dirobohkan diganti dengan pintu masuk Karebosi Link. Nama yang sudah diadopsi sejak mal itu berdiri.

Saya tidak akan lagi melihat semua rutinitas usia belasan terjadi lagi. Pemandangan itu sudah menjadi satu kenangan. Kenangan yang hanya bisa dirangkai dengan tawa haru. Mungkin sebagian orang menancapkan senyuman ketika Karebosi terubah wajahnya seperti ini. Wajah yang dianggap oleh orang ini sebagai suatu bentuk kedewasaan Karebosi, tidak lagi disumpeki oleh segala macam pengusaha obat dan segala macam pedagang. Penjualan sudah seharusnya masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Berjejal rapi. Dan jualan yang ditawarkan pun bukanlah obat atau aneka macam minuman segar murah, melainkan barang elektronik. Bila lapar ada are food court, bukan lagi disisi Karebosi dengan harga murah. Karena duit memang tidak rata dibagi.

Orang seperti inilah yang tidak menurut saya tidak menyadari esensi dari alun-alun dari sebuah kota. Alun-alun sejatinya adalah tempat pertemuan segala macam orang di penjuru kota. Tidak perduli statusnya apa. Dalam pada alun-alun semuanya berbaur. Lalu apa yang terjadi jika alun-alun di kota Makassar sudah tidak berfungsi seperti seharusnya? Karebosi kini sudah bergeser menjadi kebudayaan kalangan atas, tidak lagi menggapai moda kelas menengah ke bawah. Karebosi tergilas. Kebudayaan massa pada masanya yang bergerak dari bawah sudah berganti dengan kebudayaan massa yang terelitisasi dengan dalih memperindah ruang publik.

Ruang publik? Karebosi sekarang tidak ubahnya seperti menunggu senja. Perlahan-lahan perhatiannya kepada publik sudah terbungkus jauh dalam bentuk mal. Tidak ada lagi realitas sosial yang terjadi. Realitas sosial itu tinggal kenangan. Tidak ada lagi kerumunan manusia yang tertarik mendengarkan kesaktian penjual obat, tidak ada lagi SSB yang berlatih setiap sore – saya tidak tahu apakah MFS masih latihan atau tidak – dan tidak ada lagi jenis makanan khas yang berjejer menggunakan tenda.

Saya tahu saya bukanlah seorang pengamat tata kota yang pandai menyulap bentuk kota secara menarik. Tapi saya, satu diantara sekian puluh – mungkin ratusan(?) – yang sangat menyayangkan proses revitalisasi Karebosi dengan cara seperti ini. Proses yang seperti ini menurut saya bisa menimbulkan perbedaan kelas yang begitu mencolok. Karebosi dengan mal-nya tidak akan bisa bercampur dengan golongan kelas bawah hingga ke atas – mungkin hal demikian bisa terjadi di bagian lapangan.

Sejak saya memutuskan untuk melanjutkan studi di luar kota Makassar, kedekatan saya dengan Karebosi menjadi jauh. Pun bertambah jauh dengan segala bentuk revitalisasi-nya. Satu waktu saya pulang ke Makassar, melintasi Karebosi hanya menjadi sekedar formalitas – karena tujuan yang ingin saya capai harus melalui rute atau jalanan yang menghubungkan Karebosi. Tidak ada lagi rasa ketertarikan untuk sekedar menikmati pagi, sore, ataupun malam di alun-alun kota Makassar itu.

Semoga kau menjadi alun-alun yang membanggakan Makassar. Oh…..Karebosi. Semoga Ramang tersenyum melihatmu sekarang ini.

Advertisements