Nicodemus Freddy: “Armada Racun Adalah Sebuah Keluarga”

by arhamrahmat

Nicodemus Freddy (Foto: Indra Gunawan)

Nicodemus Freddy (Foto: Indra Gunawan)

Ada satu kala dimana saya begitu tidak bisa melepaskan khidmatnya menyimak setiap pagi alunan dengan cirinya yang kasar dari salah satu kelompok musik, yang lemanya sama (tercuri?) dari salah satu kelompok musik lainnya dimana orientasinya begitu berbeda. Ada satu kala dimana saya mendendangkan larik demi larik secara fasih “Drakula” dan “Amerika”, menyelinap terbata-bata mengibaskan “Tuan Rumah Tanpa Tanah”.

Begitu lugasnya mereka menyampaikan keinginan untuk mengumandangkan musiknya yang dikategorikan sebagai red rock poison. Begitu rapihnya struktur instrumen yang mereka sajikan hingga harus merekam secara live. Begitu sadarnya mereka hingga harus memasukan cingcongnya mulai dari suara batuk, gesekan kaki, atau bunyi stik dram yang jatuh ke dalam utuhnya La Peste.

Hingga kala itu berakhir saya meyakinkan diri bahwa keutuhan La Peste ini harus dilestarikan.  Sepertinya terdengar berlebihan, memang. Namun saya ingin mengidentifikasi satu keindahan dari keutuhan “La Peste” melalui “Amerika”. Mereka berani menyerap sumpah pemuda, mengganti kata akhir (Indonesia) sumpah tersebut dengan Amerika. Lantunan lagu itu terdengar gagah. Pukulan dram secara estafet berlanjut ke dentingan piano. Mereka tahu tidak perlu terlalu banyak mencampuri komposisi itu dengan melodi. Cukup dua menit lebih, mereka berhasil membuat satu deklamasi.

Belum sempat saya menyaksikan penampilan mereka di panggung. Batas saya hanya sampai ketika melakukan pertunjukan Keracunan Ingatan di bulan Juli 2011. Itupun sebagai penanda mereka sebelum vakum. Sampai akhirnya mereka kembali dengan personil baru,  terbang menuju Singapura bersama The Experience Brothers dan Dried Cassava di Rockin’ The Region bulan Juni lalu.

Mungkin harus diakui bahwa Armada Racun memang mengikuti siklus musikus Yogyakarta. Mengeluarkan atribut berupa album perdana; secara perlahan menghilang karena kesibukan masing-masing personilnya. Hal itupun diakui oleh Nicodemus Freddy Hadiyanto, pengisi vokal dan bass Armada Racun disaat saya berbincang kemanakah kelompok musiknya yang seperti terserap lumpur hidup.

Suatu perbincangan yang kala itu diungkapkan bahwa keadaan Armada Racun sedang baik-baik saja. Perbincangan akrab berbumbu kejujuran dan kejelian makna dari setiap lagu dalam album Armada Racun. Mengungkapkan materi album kedua, perubahan formasi, kebahagiaan akan La Peste. Sampai saat dimana Freddy merindukan bermusik; menikmati beberapa penyelewengan untuk memuaskan hasratnya. Keadaanlah yang mempertemukan kami hingga menghasilkan rangkuman wawancara yang terekam dibawah ini.

Bagaimana kabar Armada Racun?

Baik. Tapi sekarang lagi sibuk masing-masing. Ada yang tinggal di Jogja, Jakarta dan Bali. Kami masih sering berhubungan melalui media sosial dikarenakan sama-sama menyukai pertandingan sepak bola dan masing-masing dari kami mempunyai tim favorit yang berbeda jadi sering bercanda melalui ejekan untuk terus menjalin komunikasi. (tertawa)

Kalian baru mengeluarkan satu album mengapa memutuskan untuk istirahat?

Sebenarnya materi album itu sudah cukup lama ada namun terlambat dikeluarkan. Semua lagu dari album itu sudah sering dimainkan hingga dilanda kebosanan membawakannya. Salah satu mensiasati kebosaanan itu mengaransemen hingga memainkan lagu baru namun tetap saja bosan itu datang. Akhirnya datang satu cara untuk mengatasi kebosanan yaitu dengan istirahat atau vakum. Kebetulan juga teman-teman sudah mulai banyak beraktivitas, saya sudah menetap di Bali lalu ada di Jogja dan Jakarta. Kita semakin jarang bertemu hingga akhirnya sepakat untuk vakum. Namun sebelum vakum kami ingin membuat momen. Hadirlah Keracunan Ingatan, konser perpisahan yang kami sepakati dengan Melancholic Bitch untuk vakum dengan waktu yang tidak ditentukan.

Seperti apa proses kreatif album pertama Armada Racun, La Peste?

 Armada Racun itu dimulai (berdiri) pada 25 Desember 2006. Kita langsung mengerjakan beberapa lagu diantaranya “Amerika”, “Drakula”, dan “Tuan Rumah Tanpa Tanah”. Ketiga lagu itu kami buat secara jamming. Setelah ketiga lagu itu selesai saya membawa pulang ke rumah untuk dipoles biar lebih rapih. Sebelum album La Peste hadir terlebih dahulu ada mini album yang kami buat di tahun 2007. Selain ketiga lagu itu Armada Racun menambah tiga lagu lagi. Distribusi mini album tersebut kami sebarkan di Prancis dan habis terjual. Dari penjualan mini album itu kami kumpulkan untuk merekam ulang materi mini album di studio Mas Djaduk Ferianto dan ditambahkan lima lagu hingga jadilah La Peste. Di tahun 2009 Lil’Fish Records menghubungi kami meminta beberapa materi hingga Armada Racun dinaungi oleh label rekaman tersebut.

Mengapa lirik “Amerika” mengambil serapan sumpah pemuda?

Ketika sumpah pemuda itu dirumuskan, pemuda-pemuda dari Jong Java, Celebes, Borneo, Sumatera, dan lain-lain bersatu. Pemuda-pemuda itu ingin bersatu dan bersepakat untuk Indonesia. Namun pada perjalanannya, banyak pemuda sekarang ini kadar atribut Indonesia-nya semakin menipis. Misalnya ketika anak kecil ulang tahun, identik untuk merayakannya dengan tumpengan lalu merayakan bersama teman-teman dekat. Sekarang, tumpeng itu terhapus dan digantikan dengan perayaan di tempat makan cepat saji, ambil contoh misalnya McDonalds. Saya tidak mau munafik bahwa benci Amerika, anak saya pun kalau berulang tahun dirayakan di tempat tersebut. Dari situ saya memikirkan bahwa hidup orang Indonesia begitu dekat dengan Amerika. Ada ironi juga yang saya temukan disitu, bahwa orang Indonesia benci dengan Amerika dan gampang tersulut emosinya. Kedutaan Amerika misalnya, kenapa untuk menjaganya dibutuhkan sebuah tank bukan hanya dua orang satpam. Sementara kehidupan kita begitu lekat dengan negara tersebut. Film yang banyak dikonsumsi datang dari sana, di satu waktu ada khayalan tentang Zooey Deschanel misalnya, hingga ingin mengikuti kegantengan Johnny Deep. (tertawa) Pada akhirnya pemuda sekarang tidak seperti pendahulu kita di tahun 1928. Sumpah pemuda sekarang adalah Amerika. Saya saja lebih percaya diri ketika diatas panggung menggunakan alat dari Amerika bukan dari Indonesia. (tertawa) Bukan berarti saya tidak cinta Indonesia, tetapi hal yang menggelitik buat saya adalah ketika kita membenci Amerika namun kenyataannya kita semakin dekat dengan produk mereka. 

Cerita apa yang ingin disampaikan dari lagu “Drakula”?

Kita berada dalam bentuk pemerintahan republik. Bentuk pemerintahan yang bercabang dari rakyat. Tanah misalnya, itu adalah milik rakyat yang dikelola oleh negara sebagai sebuah instansi yang mewakili rakyat apalagi menganut sistem demokrasi kerakyatan. Pada kenyataannya banyak sekali terjadi penyimpangan, sekolah begitu mahal dan hukum tidak memperlihatkan keadilan. Saya menganalogikan ini sebagai sistem isap-mengisap. Sebuah sistem siapa yang lebih besar akan mengisap yang kecil begitupun dengan kedudukan. Pada lirik “Drakula” saya sebenarnya menulis tentara drakula dan polisi drakula. Namun dari pihak label tidak berani menerbitkan lagu itu hingga saya menggantinya dengan semiotik warna, yang hijau drakula / yang cokelat drakula. Uang itu seperti darah, terus diisap. Di akhir lagu tersebut saya menulis kami tak kenal pancasila / kami hanya kenal punksila. Karena memang drakula tidak kenal pancasila. Dia adalah tokoh fiksi yang saya datangkan dari Eropa Timur. Yang dia kenal adalah punksila. Dalam hematnya adalah panca dan punk.

Selain bahasa Indonesia dan Inggris, ada bahasa Prancis juga yang menonjol di beberapa lagu seperti “Dreams” dan “I’m Small”. Judul album ini pun menggunakan kata Prancis. Mengapa?

Sebelum saya bertemu dengan teman-teman Armada Racun, saya sangat menggilai musik Prancis. Itu yang memberi pengaruh kepada saya untuk membuat musik dengan menyisipkan gaya Prancis dalam satu tema. Ketika itu juga saya mengurangi mendengarkan musik dengan bahasa anglo saxon dan menekuni musik francophone .Menurut saya itu merupakan satu hal yang baru. Teman-teman juga merespon dengan baik ide saya tersebut. Seperti pada lagu “I’m Small”, diawal lagu itu ada monolog berbahasa Prancis yang dibantu oleh rekan kami.

Singapura menjadi tempat Armada Racun kembali merasakan panggung pada bulan Juni 2012. Mengapa memilih luar negeri, bukan Indonesia ataupun Yogyakarta? Apakah Singapura menjadi tawaran pertama Armada Racun?

Ada beberapa tawaran untuk bermain di kota Indonesia ataupun Yogyakarta namun karena jarak dari vakum kami terlalu pendek maka kami menolak. Tawaran untuk bermain di Rockin’ The Region Singapura juga tidak langsung kami terima, terlebih dahulu berdiskusi bersama teman-teman dan diputuskan Singapura menjadi tempat kami kembali setelah vakum. Namun diantara kevakuman itu kami juga merasakan kegelisahan untuk ingin bermusik, hingga mendapatkan jalan keluar untuk merilis satu lagu bebas unduh tepat di hari Ibu berjudul “Terikat Pada Kayu Yang Kering”. Lagu tersebut merupakan kerjasama dengan seorang seniman di Bandung Yunis Kartika. Saya tertarik dengan bukunya dimana dia menuliskan secara tegas tanpa menghakimi. Artwork lagu tersebut juga merupakan hasil karya Yunis Kartika.

Seperti apa album kedua Armada Racun?

Materi untuk album kedua sudah terkumpul enam laug. Kami mungkin menambah lima lagu lagi. Untuk album kedua ini rencananya akan digarap oleh label rekaman kami sendiri. Menurut drummer Armada Racun, kami lebih dewasa di album kedua ini. Lebih minimalis, tidak lagi mengeksplorasi di bas dengan berbagai efek. Album kedua ini dibantu pemain bas Melancholic Bitch dan murni memainkan bas tanpa efek kemudian pengisi keyboard dibantu dari Lazyroom juga ada tambahan saxophone. Tetap mempertahankan tanpa gitar karena saya tidak bisa bermain gitar dan teman yang lain juga tidak terlalu bagus main gitarnya. (tertawa)

Untuk pengaruh di album kedua ini saya banyak mendengarkan Nick Cave dan Tom Waits. Ada satu cerita yang cukup membuat muka kami merah ketika rangkaian baru ini kami bawakan di Singapura. Alangkah terkejutnya saya ketika dalam konfrensi pers, teman media menanyakan apakah Armada Racun medengarkan Nick Cave dan Tom Waits.

Proses rekaman album kedua ini mungkin juga akan sama dengan album pertama yang dilakukan secara live, memasukkan segala unsur suara yang terjadi dalam proses rekaman layaknya suara batuk, stik dram yang jatuh, dan sebagainya.

Apakah ada kekhawatiran bahwa album kedua Armada Racun tidak akan sebaik album pertama?

Kekhawatiran itu sempat saya alami. Album La Peste jika diulang ibaratnya mengimitasi apa yang telah kita buat. Hingga akhirnya saya merasakan perbedaan dengan jamming dan mengajak beberapa teman yang baru untuk membuat suasana baru. Buat saya yang sudah bosan dengan La Peste, lebih semangat dengan perbedaan ini. Pada album La Peste, vokal saya dominan berteriak tapi di album kedua nantinya tidak akan seperti itu.

Apa tanggapan Armada Racun ketika ada kesamaan nama yang dipakai oleh kelompok musik lainnya? Tidak terpikir untuk mengganti nama?

Tidak ada tanggapan khusus dari kami. Karena secara musikalitas juga sangat berbeda. Terlebih Armada Racun duluan muncul dan kami tahu kalau band itu adalah band “buatan”. Saya juga sudah mendapat bocoran dari teman di Jakarta bahwa besok ada band yang akan sama dengan band-mu tapi tidak pakai racun.Kami tidak pernah berpikir mengganti nama karena itu sebuah ketegasan. Dua kata dan sangat Indonesia.

Bagi Freddy, seperti apakah kebahagiaan yang dirasakan dari album La Peste?

Sebuah kebahagiaan yang tidak terduga. Saya masih ingat, waktu itu hujan kami kumpul dan masing-masing dari kami mempunyai band. Melontarkan ajakan untuk jamming dan akhirnya La Peste jadi. Sebelumnya saya kenal mereka tapi tidak sekalipun berpikir untuk nge-band. Kami seperti keluarga.

*artikel ini juga dimuat di Gigsplay

Advertisements