Serba Pertama di Album Sheila On 7

by arhamrahmat

sheila-on-7Kalau bukan karena Fakhri Zakaria saya mungkin tidak akan melakukannya. Surat elektronik yang disampaikan pria ini, secara singkat berisi ajakan untuk menulis sebagai bentuk perayaan usia remaja Sheila On 7. Usia di mana penjurusan pada bangku sekolah menengah atas telah dialami. Apakah bakatnya cocok di bidang ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, atau lebih lawas lagi cocok di jurusan bahasa. Usia di mana seseorang begitu bergejolak perasaannya. Sulit untuk tertahan. Sebelum-sebelumnya jika waktu pulang sekolah ingin segera pulang mencapai rumah, usia ini mengalami masa pembujukan untuk betah berlama-lama nongkrong di warung depan sekolah atau tempat lainnya sembari bercengrakama bersama teman-teman atau membakar tembakau. Usia di mana pemilihan berjalan secara berkelompok tentulah menjadi barang mewah. Usia di mana ketika mempunyai pasangan, begitu sangat dibanggakan. Pokoknya usia di mana sesuatu hal yang ada di dalam diri begitu ingin ditonjolkan. Sampai begitu ingin diakui kehadirannya. Sampai begitu eloknya untuk menjadi beda. Namun, ada juga yang berkata usia ini adalah usia di mana seseorang yang sedang dalam dilema sebesar-besarnya. Lebih lanjut lagi, ada yang berkata usia ini dengan istilah menjadi keren, usia labil. Usia remaja yang nampak tidak ingin diakui sebagai remaja. Usia tujuh belas tahun.

Juga pada kenyataannya saya baru mengetahui usia Sheila On 7 yang sebegitu remajanya dari surat elektronik Fakhri Zakaria. Berarti sudah begitu lamanya Sheila On 7 saya kenal dan menemani kehidupan musik yang saya simak. Sudah begitu banyak lika-liku yang saya cermati semenjak melihat mereka di layar kaca. Di usianya yang ke tujuh belas, Sheila On 7 memang sudah sepantasnya untuk menentukan arahnya sendiri. Tidak lebih dari sembilan album – termasuk soundtrack 30 Hari Mencari Cinta dan The Very Best of Sheila On 7 – yang sudah mereka buat. Saya sendiri hanya mengikuti perkembangan mereka sampai di album 507. Seiring dengan perginya Anton dan Sakti, lambat laun saya sudah memastikan bahwa mereka sudah bisa menentukan nasibnya sendiri. Sudah terlalu lama mereka terlalu diikuti. Terlalu dijaga. Terlalu dielu-elukan. Bibit-bibit bahwa mereka ingin menentukan nasibnya sendiri dimulai dari Pejantan Tangguh, album keempat setelah Anton dipecat. Di album berikutnya 507, Sakti mengikuti jejak Anto dengan alasan ingin belajar ke luar negeri. Album yang dirilis tahun 2006 sejatinya merupakan bibit yang sudah berbuah. Penentuan nasih Sheila On 7 sudah dimulai. Merasakan bahwa sudah seharusnya membiarkan Sheila On 7 untuk menentukan arah dan berlayar sesuai dengan keinginan mereka.

Berlanjut kepada godaan Fakhri Zakaria, secara mendalam pria ini mengajak untuk sejenak memutar kembali ingatan masa lampau mengenai lagu Sheila On 7 yang paling termuach di hati. Begitu kilahnya, sembari memasukkan lirik “Terimakasih Bijaksana”. Tidak berpikir lama, godaan ini saya sambit dengan merespon singkat yang pada intinya adalah mengiyakan. Disinilah poin di mana kalau bukan karena pria ini saya mungkin tidak melakukannya adalah dengan segera mencari file digital lagu yang begitu berkesan selama menyimak Sheila On 7. Lagu yang berada di album perdana mereka dengan kover berwarna hijau dan putih. Mengadalkan ingatan, kover tersebut menyelipkan tulisan Sheila berwarna hitam dan On 7 berwarna merah. Di bawah tulisan tersebut terdapatlah foto mereka secara hitam putih. Lima orang dengan rambut dominan panjang – menandakan sebagai salah satu atribut pemuda. Foto mereka nampak diambil di sebuah padang rumput (?).  Foto tersebut kemudian dibingkai berbahan kayu dalam bentuk visual.

Lagu yang saya kagumi – sampai sekarang – di album tersebut juga merupakan album pertama yang saya beli. Proses pembelian album tersebut masih cukup jelas teringat. Waktu itu, saya duduk di kelas tiga sekolah dasar. Setelah sampai di rumah, kebiasaan saya adalah makan siang sambil menonton televisi. Sembari melahap makan siang secara sengaja mengganti saluran televisi untuk mencari film kartun. Entah mengapa tombol remot televisi itu terhenti di stasiun televisi ANTV – dengan logo yang berwarna keemasan. Pemberhentian di saluran tersebut membuahkan sajian visual yang bernuansa temaram, dilanjutkan dengan suara gitar dan beberapa instrumen lain yang ada di situ. Tidak lama berselang suara vokal itu pun masuk. Setelah kejadian itu, Kunyahan menjadi begitu lambat untuk menikmati siaran musik tersebut. Juga menunggu siapakah penyanyi dan judul lagunya. Tersebutlah nama Sheila On 7 – saya menyebut mereka pertama kali Sela On Tujuh – dengan judul “Dan” disertai tiga titik dibelakangnya. Di sela-sela penampilan mereka di televisi – yang kemudian saya ketahui bahwa siaran musik dengan jenis begitu adalah video klip – ada perasaan bahwa mungkin ini yang namanya cinta. Usia delapan tahun buat saya ketika itu hanyalah sekedar kata yang berlalu lalang di telinga tanpa bisa saya mendapatkan wujud nyatanya. Anggapan saya bahwa cinta selain berbentuk fisik, yang ada hanyalah perasaan suka dengan lawan jenis. Ternyata, ada juga cinta yang begitu mengikis perasaan suka berbaur duka. “Dan…” membuat saya beranggap seperti itu. Juga, lagu tersebut menandakan era baru mendengarkan musik setelah selalu ditemani ajakan bersepeda “Kring-kring Goes-goes”, anjuran untuk memakan tahu dan tempe, bahwa ada Si Komo yang kalau lewat menjadi macet.

Kejadian tersebut membuat saya menunggu mama pulang dari kantor untuk segera meminta uang dan membeli kaset Sheila On 7.

“Ma, Arham minta uang untuk beli kaset ” cegah saya di depan pintu rumah ketika melihat mama pulang dari kantor di sore hari.

“Kaset apa?” Mama balik bertanya.

“Kaset Sela On Tujuh, Ma. Tadi Arham dengar lagunya di televisi. Lagu orang besar. Bagussss.” Di Ujung Pandang (sebelum bernama Makassar), orang besar berarti orang yang lebih tua secara umur dan postur tubuh.

Tidak lama setelah itu, mama menanyakan harga kaset yang saya maksud berapa. Perkiraan sewaktu itu adalah harga yang tidak begitu jauh dengan kaset lagu anak-anak yang berkisar Rp. 17.000. Maka diberinya saya Rp. 20.000. Uang yang bergambar burung Cendrawasih. Toko kaset yang saya kunjungi tidak begitu jauh dari rumah. Sekitar 200 atau 300 meter. Ada perasaan gugup ketika memegang kaset tersebut. Gugup jika saja ditanyakan oleh penjaga toko kaset mengapa membeli kaset tersebut yang jelas-jelas tidak sesuai dengan usia. Gugup apakah pembelian kaset ini saya tunda saja. Tetapi perasaan gugup itu terkalahkan dengan keyakinan bahwa album ini harus segera dimiliki – maklum anak di usia tersebut keinginan dan kemauan merupakan hal yang begitu wajib untuk dipenuhi. Dengan langkah dan wajah yang tegang saya memberikan kaset itu kepada kasir. Perasaan lega akhirnya menghiasi setelah langkah terakhir keluar dari toko kaset tersebut. Tidak ada keinginan yang lebih patut kecuali langsung memutar kaset pertama yang saya beli. Berlari adalah jalan terbaik untuk segera mencapai rumah.

Dengan semangat dihiasi fisik yang ngos-ngosan setiba di rumah, kaset tersebut langsung saya masukkan ke dalam tape dan menekan tombol segitiga yang diputar 90 derajat. Menunggu detik-detik masuknya lagu pertama, saya melebarkan isi kover yang berisi tulisan “thanks to” dan lirik-lirik lagu. Secara seksama judul terbaca. Ada beberapa kata yang dijadikan judul dan baru pertama kali saya baca, “Bobrok”, “Pe De”, “Berai”, dan “Tertatih”. Judul yang disebutkan terakhir merupakan lagu pertama di album Sheila On 7 sekaligus lagu favorit, kesukaan, kekaguman, dan seterusnya bagi saya dari keseluruhan album yang mereka rilis. Saya menjadikan itu sebagai lagu favorit setelah menyimak satu putaran keseluruhan album tersebut. Jadi, seorang Arham membeli kaset pertama kali untuk album pertama Sheila On 7 dan menyukai lagu pertama di album tersebut. Untung saja judulnya bukan “Pertama”.

“Tertatih” menurut saya merupakan satu diantara dua lagu yang menonjolkan agresifitas Sheila On 7 di album pertamanya. Satu lagi adalah “Bobrok”. Agresifitas itu dimunculkan dalam tempelan rock. Kocokan gitar Eross saat membuka lagu ini ini menjadi penanda bahwa album ini begitu seksi di jaman arus musik utama di Indonesia. Suara Duta yang terdengar begitu belia tampil beriringan dengan aduan gitar Eross dan Sakti yang secara sengaja memainkan tempo. Adapun ciri khas bass line dari Adam sebelum lirik pertama dilantukan. Makin kelihatan saat bagian refrain, Adam dan Anton sengaja diberikan porsi masing-masing sebelum dilengkapi dengan melodi Eross dan Sakti.

Memang saya lebih dahulu menyukai musik “Tertatih” ketimbang liriknya – lirik lagu ini begitu susah dicerna untuk anak delapan tahun. Cukup dengan menyanyikan saja sudah cukup. Apalagi jika dinyanyikan tanpa melihat teks. Rasa senang bukan main. Baru kemudian coba saya baca ulang lirik-lirik tersebut ketika mulai masuk masa remaja. Jangankan sewaktu kecil dan remaja, sekarang pun saya masih bingung – bahkan belum tahu – untuk menafsirkan apa keinginan dari lirik “Tertatih” ini. Begitu banyak makna konotasi. Yang dapat saya terjemahkan dari lagu ini secara umum adalah kendali perasaan secara sadar ketika menginginkan sesuatu hingga menjadi mimpi. Untuk menjadikan mimpi tersebut ada proses yang dilalui. Proses tidak serta merta berjalan mulus pastinya. Ada proses yang Sheila On 7 namakan adalah tertatih. Ini adalah proses di mana semuanya menjadi lambat untuk dicapai dan atau digapai. Namun, setidaknya kata mereka dalam lirik ini, walau tertatih / walau tercabik / khilafkan putih / hanya kau mimpiku.

Satu juga yang saya senangi di album ini adalah membaca “thanks to” dari masing-masing personil. Ada beberapa hal yang menjadi menarik bagi saya ketika mengetahui rasa terimakasih masing-masing personil kepada siapa terlebih dahulu. Untuk urusan hal ini, saya sudah tidak mengingat secara pasti. Sepertinya kelima personil Sheila On 7 terlebih dahulu mengucapkan rasa syukur kepada tuhan lalu kepada kedua orang tua masing-masing. Lantas, nah ini juga yang menjadi hal menarik berikutnya. Orang-orang terdekat kemudian dituliskan satu per satu yang dipisah melalui tanda baca koma. Sempat terpikir kenapa menggunakan koma semua ya, tidak ada titik. Diantara ucapan terimakasih setiap personil yang saya masih ingat adalah potongan terimakasih Duta kepada teman-temannya yang berada di komunitas motor Yamaha RX-Z dan Milanisti. Oh iya, saya juga baru ingat, kemungkinan setiap personil tidak menggunakan kalimat “thanks to” atau “terimakasih kepada” tetapi ada juga yang menggunakan kalimat dalam bahasa Jawa, “maturnuwun kagem”.

Sebagai penutup, saya ingin lagi menyampaikan bahwa kalau bukan karena Fakhri Zakaria yang sejatinya adalah pendengar atau penikmat garis keras Sheila On 7 mungkin saya sudah lupa kapan terakhir kali menyimak “Tertatih”. Album pertama Sheila On 7 masih tersimpan di rumah yang membesarkan saya di Ujung Pandang (Makassar). Rumah yang selalu menemani saya mendengarkan album-album Sheila On 7 di ruang tengah keluarga pada hari Minggu sebelum menonton film kartun. Terimakasih Sheila On 7 telah menemani kehidupan musik saya yang dimulai sejak umur delapan tahun. Kalian sudah remaja, sudah bisa menentukan keinginan tentang hidup. Begitu banyak kisah klasik yang kalian haturkan. Asal jangan menetukan untuk menjadi generasi patah hati. Semoga umur kalian akan bertambah terus hingga saat lanjut usia. Tidak akan berhenti sebelum mengetahui bahwa ada waktu yang tepat untuk berpisah.

Advertisements