Joni dan Susi Bukanlah Pesona Melancholic Bitch

by arhamrahmat

Melancholic Bitch (Foto: Marnala Eros)

Melancholic Bitch (Foto: Marnala Eros)

Sebagai paragraf pembuka, mulanya ingin dicarikan perumpamaan yang pas lagi enak. Agar bisa sedikit lebih bergaya. Tapi setelah lama dipikir, ah…tidak usahlah mencari yang dimaksud. Karena belum ada yang pas lagi enak, bisa juga karena pikiran ini belum mencapai apa yang dimaksud. Jadi alangkah baiknya dituliskan saja sesuai keadaan. Mudah-mudahan keadaan yang dimaksud ini menyenangkan.

Omong-omong tentang keadaan, pada Jum’at malam (31/5)  di Bandung, ada pertunjukan yang bisa dikatakan menyenangkan. Pertunjukan ini mempunyai latar belakang cerita. Lalu, cerita ini akan dibawakan secara langsung oleh pengarangnya – setelah sekian lama tidak pentas di Bandung – dalam bentuk lagu. Konon cerita ini sangat menarik sampai-sampai tersimpan di benak pada hampir semua penonton yang hadir. Jika diukur dengan angka, sekitar sembilan puluh persen. Jumlah angka ini diartikan sebagai bentuk kemauan untuk menikmati bagaimana pengarang tersebut secara langsung menceritakan kisah yang dibuatnya. Atau bagaimana Melancholic Bitch menceritakan kisah Joni dan Susi.

Mereka yang berjumlah angka ini sudah paham isi naskah cerita yang nantinya akan dilakonkan. Mungkin juga sudah terlalu hapal. Bagaimana menyimak atau menghayati kisah Joni dan Susi pun bisa jadi sudah khatam entah berapa kali. Maklum saja, kelompok musik ini jarang nongol di panggung sehingga muncul gejolak yang begitu besar kepada Melancholic Bitch untuk membawakannya secara langsung. Akibatnya, yang disebut terakhir ini tidak sadar kalau sudah menjadi idola dan dicari-cari untuk mempertanggungjawabkan karyanya. Untungnya tidak sampai dicegah ke luar negeri.

Benar juga adanya jika Melancholic Bitch tidak sering pentas adalah pilihan. Dalam satu tahun , syukur-syukur mereka nongol satu atau dua kali. Ya, sudah banyak juga yang tahu kalau masing-masing personil punya kesibukan lain selain pementasan pertunjukan musik. Itu merupakan satu alasan yang tepat.

Tapi lain soal andai saja mereka sering-sering nongol di panggung, niscaya kebosanan melanda. Bayangkan saja kisah Joni dan Susi terus menerus diulang dalam satu bulan empat kali misalnya. Habis cerita besoknya dipentaskan lagi, begitu seterusnya. Ibaratnya perkara sudah selesai, eh…dipentaskan lagi. Macam filem Armageddon yang seringkali hadir di layar kaca. Orang-orang pun lambat laun akan bosan dan tidak lagi setia mengelu-elukan ceritanya. Bukan tidak mungkin Joni dan Susi menjadi usang untuk diceritakan. Melancholic Bitch mengambil jarak untuk itu sebagai satu sikap memelihara rindu. Juga, menjaga agar cerita ini tetap menarik ketika dipentaskan kembali.

Memang, selain kisah tersebut ada Anamnesis yang merupakan album pertama dan bisa dijadikan penengah ketika pentas. Tapi Balada Joni dan Susi diakui mempunyai kekuatan yang lebih signifikan dibanding album pertama. Bahwa kemudian mereka menciptakan album konsep yang indah dengan pondasi kisah cinta Joni dan Susi. Pondasi cinta sudah merupakan hal biasa. Akan tetapi pondasi itu mempunyai sesuatu yang membuatnya berlainan dari biasanya. Berbulan madu ke Venesia hal biasa, namun bagaimana jika akibat bulan madu tersebut Joni tertangkap mencuri apel? Lebih kurang ajar lagi, yang tersebut ini mengajak Susi membuka lahan kebun apel.

Nampak pada pertunjukan Melancholic Bitch ada kesepakatan yang tidak tertulis dengan metode menduga-duga. Baiknya jika Balada Joni dan Susi ditampilkan secara berurutan sehingga tidak melanggar cerita. Dalam artian, Anamnesis akan dihabiskan terlebih dahulu baru beralih pada cerita Joni dan Susi. Yang terjadi kemudian kesepakatan itu dilanggar narator. Melancholic Bitch tahu punya hak privilese. Secara sepihak mengganti dengan kesepakatan baru dan bagusnya orang-orang yang hadir malam itu tidak menyentuh perasaan kecewa. Malah kadung senang.

Sebenarnya, di awal pertunjukan narator  masih menjalankan kesepakatan secara taat. Dua lagu dari Anamnesis, “Departemental Deities and Other Verses” dan “Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate, San Francisco”. Tak dinyana, narator memotong, “Joni dan Susi punya mimpi jalan-jalan”. Sementara “Bulan Madu” mengalun, kesepakatan itu sudah hilang keseimbangan.

Kesepakatan baru yang dilakukan Melancholic Bitch sebagai narator membuat sebagian orang mungkin berteka-teki ria, seperti apa penyajian kisah Joni dan Susi kali ini jika tidak menjadi sama dengan apa yang selama ini disimak melalui album. Tanpa jeda narator kembali pada Anamnesis dengan “On Genealogy of Melancholia”.  Diberinya lagi kesempatan menduga-duga. Dari teka-teki ria ternyata disadarkan bahwa ini masih tetap dalam kisah Joni dan Susi. “Ceritanya tentang Joni dan Susi. Cerita lama yang terus menerus diceritakan kembali sampai akhirnya bangkit kembali.” Ungkapan sedemikian rupa dari narator ternyata tidak melenceng dari dugaan sebelumnya. Oh, aman!

Mengenai penyadaran bahwa pertunjukan tersebut masih dalam kisah Joni dan Susi, ternyata masih ada kesadaran berikutnya. Narator memberikan satu bentuk penyajian baru untuk mengarungi cerita ini dengan memberikan keterkaitan lagu melalui narasi. Bisa disebut improvisasi, sehingga lagu yang Melancholic Bitch tampilkan tidak berdiri sendiri. Kisah Joni dan Susi yang pada dasarnya hanya satu album digabungkan dengan Anamnesis. Kisah yang tidak menjadi baru tapi menjadi lebih panjang dari semestinya.

Dari kepiawaiannya meramu cerita menjadi lebih panjang hingga memberikan keterkaitan antar lagu melalui narasi –terkadang loncat dari Anamnesis ke Balada Joni dan Susi – terlihat bahwa narator begitu mempersiapkan pertunjukan untuk tidak hanya menjadi sekedar pertunjukan atau formalitas belaka tanpa meninggalkan kesan. Tahu dan sadar bahwa yang ingin menyaksikan mereka adalah orang-orang yang telah mengikuti secara seksama menikmati karyanya. Melancholic Bitch punya keharusan untuk membalasnya di atas pentas.

Alhasil tanggung jawab pun akhirnya tidak mengucurkan perhatian Joni dan Susi melainkan pada narator. Sepertinya merupakan konsekuensi yang dihadapkan. Orang-orang yang hadir malam itu mungkin saja sudah tidak terlalu peduli lagi mengenai keterkaitan narasi yang disampaikan narator sebagai penyambung lagu berikutnya.

Orang-orang hanya ingin menyaksikan Melancholic Bitch pentas. Narator nomor wahid. Semakin nyata manakala keterkaitan lagu melalui narasi terkesan vulgar untuk mengajak orang-orang mengetahui lagu apa lagi yang selanjutnya dipentaskan. Ambil contoh, saat ingin menyeberangkan “Tentang Cinta” dari “7 Hari Menuju Semesta”. Narator mengatakan, “…iya aku klise, tapi itu benar. Ini tentang….” kemudian disambut teriakan “…cinta” secara refleks dari orang-orang tersebut. Tapi tidak bisa dikatakan salah, karena hal demikian adalah satu bentuk kegembiraan. Pada akhirnya bisa merasakan cerita Joni dan Susi dipentaskan.

Memang sebagian besar akhirnya berujung pada tebak-menebak lagu apa selanjutnya bukan narasi yang meninggalkan kata kunci untuk ke lagu selanjutnya. Semacam kesan sengaja untuk mengetes yang hadir malam itu. Apakah masih terbiasa membaca album Melancholic Bitch atau sudah agak samar.

Ini merupakan pertemuan antara Melancholic Bitch dan orang-orang yang menikmati karyanya. Memancing untuk terus bernyanyi bersama, begitu lancar saat menyampaikan narasi keterkaitan antar lagu, memberikan lelucon kecil sebelum “Mars Penyembah Berhala”, sampai sedikit alpa akan kelanjutan cerita tersebut ketika euforia “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa” selesai dipentaskan. Ini adalah sebagian kecil dari keadaan yang menyenangkan.

Sepertinya mereka juga sadar perhatian beralih. Sebelum pentas perhatian ada di pihak Joni dan Susi, ketika pentas perhatian merujuk pada narator. Tapi bagaimana narator tetap menjaga ritme dan memperhatikan keutuhan cerita Joni dan Susi itu juga yang tidak bisa luput. Mereka berpentas atas dasar itu. Seperti saat, “Tapi Joni dan Susi karena mati terus cerita mau diapakan? Cerita tidak mungkin berhenti di sini karena kita yang mendengarkan cerita itu, kita adalah batu.” Total 21 lagu yang dipentaskan dan sejatinya pertunjukan paling panjang Melancholic Bitch untuk menceritakan kisah tersebut.

Kisah Joni dan Susi hanya disimak secara seksama ketika didengar melalui album. Sebab saat pementasan, pesona cerita itu milik Melancholic Bitch. Narator sekaliagus pengarang cerita. Sementara, “Apel Adam” punya muatan proton yang lebih besar malam itu.

Advertisements