“Eh, Monyet Ngerokok!”

by arhamrahmat

smoking_monkeys (15)

(Sumber foto: Google)

Sungguh nyaman hidup di Indonesia! Tunggu dulu, jangan langsung bercocor cingcong. Nyaman di sini maksudnya adalah bagi para penghisap rokok. Iya! Memang nyaman. Bayangkan saja di negara-negara lain kemasan rokok sudah harus mengambil 40 % peringatan bahaya merokok, itu termasuk gambar menyeramkan akibat konsumsi rokok. Apakah itu gigi yang menguning hingga paru-paru yang menghitam. Di Indonesia? Cukuplah dilampirkan tulisan bahaya merokok. Tidak perlu repot menyertakan gambar. Itu pun tulisannya dikorting, jadinya cukup 20% saja.

Juga di Indonesia ruangan terbuka sudah barang tentu adalah tempat yang halal untuk merokok. Celingak-celinguk atau sembunyi-sembunyi layaknya anak di bawah umur tidak diperkenankan jika berada di ruang terbuka kalau hanya untuk sekedar membakar tembakau – kecuali kalau memang tidak punya korek api. Sampai rasanya tidak afdal kalau sebuah bis dengan mesin pendingin tidak menyediakan ruangan untuk merokok. Pasti orang-orang di dalamnya menggerutu – tapi hanya sebatas dalam hati – bahkan sampai tersiksa – karena saya juga mengalaminya.

Di suatu pagi saat dalam perjalanan bis dari Jakarta menuju Bandung, saya ingin merokok. Maka berpindah tempat duduklah saya ke belakang – bis tersebut memakai mesin pendingin dan ruangan merokok terletak di bagian belakang. Sesampainya di ruangan merokok, saya telah melihat dua orang penumpang pria –mungkin dari parasnya berusia 40 tahun. Mereka duduk agak berjauhan tapi saling mengenal. Ini saya ketahui karena mereka naik secara bersama dan mengobrol di lorong bis ketika masih di terminal. Pria yang satunya duduk di bangku paling kanan dan tertidur, yang satunya lagi duduk di bangku paling kiri dekat pintu sembari berlagak serius melihat pemandangan jalan.

Duduklah saya dekat pria yang menikmati pemandangan tersebut. Basa-basi sejenak dengan menawarkan rokok, karena saya lihat matanya begitu masam akan pemandangan tanpa ada sesuatu yang terselip di bibirnya. “Terimakasih ya, dek” ucap pria tersebut diselingi kebulan asap di ruangan merokok. Setelah mengucapkan, “Sama-sama, pak” kami lalu mengobrol ngalor-ngidul tentang sepakbola. Kebetulan dia yang membuka topik tersebut. Mulai dari semarak liga Indonesia sampai pertandingan final liga Champions antara Bayern Muenchen melawan Dortmund. Pria ini masih merasakan ada yang tidak lengkap jika membicarakan statistik sepakbola tanpa bauran taruhan. Padahal saya tidak terlalu paham mengenai bauran itu. Selanjutnya bisa diduga, pria itu secara matematis dan telaten menjelaskan hal yang dimaksud. Saya? Hanya mengangguk senyum saja. Kadangkala anggukan memang begitu ampuh sebagai jalan keluar untuk mempercepat lalunya percakapan yang tidak begitu dimengerti atau tidak diminati.

Hingga kilometer 52 Cikampek, di mana bis berhenti untuk melakukan pengisian bahan bakar, obrolan tersebut akhirnya disudahi tanpa sadar. Ada kesepahaman yang rasa-rasanya dipatuhi dengan sendirinya: selarasnya roda bis dengan perbincangan. Bis berhenti, obrolan juga terhenti.

Selepas pengisian bahan bakar, di mana bis sudah mulai menyusuri kembali arah menuju Bandung, ruangan merokok tiba-tiba menjadi ramai. Dua dari lima bangku tersisa yang ada di ruangan tersebut akhirnya terisi. Dalam ruangan merokok di bis, orang kemudian menjadi bisa begitu akrab tanpa perlu memperkenalkan secara formal menyebutkan nama, apalagi asal! Singkatnya, kami kemudian berbaur dalam obrolan santai tanpa saling mengenal nama. Kecuali rekan pria yang jadi lawan bicara saya, tetap pulas dalam tidurnya.

“Memang orang Indonesia itu susah diatur” kata pria bertopi yang baru saja mengisi sisa kursi ruangan merokok tersebut.

“Kenapa tuh, pak?” Sela pria yang tadi saya ajak obrol.

“Ya itulah! Sudah dikasih ruangan ber-AC, tetap aja ke belakang buat ngerokok. Tapi mau gimana lagi ya? Sudah kebutuhan. Bibir udah tawar nih daritadi.”

“Makanya saya daritadi di belakang duduknya, pak. Biar enggak usah pindah-pindah lagi. Mau ngerokok tinggal bakar.” Pria ini sudah mulai menyindir pria bertopi.

“Tapi harus hitung-hitung juga,  pak. Kita bayar normal pakai AC harus dinikmatin dong! Masa mau duduk di ruangan merokok. Sama aja bayar yang ekonomi!” balasnya cekikikan.

Dua orang yang lain –termasuk saya – menikmati obrolan santai mereka tanpa lupa mengepulkan asap dan senyum kecil. Layaknya obrolan seru ibu-ibu di pasar mengenai naiknya harga sembako yang menipiskan bibir. Sepertinya ruangan merokok  di bis adalah cara lain untuk memperat tali silaturahmi. Tidak lain untuk menganjurkan bahwa orang-orang yang berada di situ saling kenal, ibarat kawan lama. Entah mengapa semua percakapan menjadi menarik. Bisa jadi ini ada hubungannya dengan tarikan asap tembakau yang bisa menciptakan suasana tersebut.

“Saya punya pengalaman menarik mengenai rokok waktu itu bulan puasa.” Pancing pria bertopi itu untuk melihat reaksi kami. Nampaknya pria ini memang senang bercerita. Apalagi dibumbui dengan lema “menarik”.

“Wah! Pengalaman seperti apa tuh, pak?” Cegah saya dengan raut muka yang dibuat terkejut.

“Jadi, waktu itu saya dengan teman ada urusan kerja di Garut. Kami naik mobil. Saya yang nyetir, berangkat pagi dari Jakarta. Ketika siang, sudah memasuki daerah Garut, tiba-tiba saya enggak tahan buat bakar rokok. Kami ingat itu bulan puasa, tapi namanya manusia selalu aja ada godaan. Kayaknya ada setan yang lolos dari kurungan. Kami nyari warung buat berhenti sekalian ngopi. Eh, saya lupa kalau Garut itu kota santri. Enggak ada satupun  warung kopi buka. Yaudah deh, kita berhenti di bawah pohon aja buat ngerokok sekalian istirahat. Bener-bener deh kami kayak anak SMA yang lihat situasi dulu sebelum bakar rokok. Setelah merasa aman, kami bakar deh tuh rokok. Baru beberapa kali hisap tiba-tiba ada anak kecil teriak dari belakang pohon, ‘Eh, monyet ngerokok!’ Kami saling lihat, enggak tahunya kami dikatain seperti itu. Apes! Malu bener kami sama anak kecil.”

Kontan kami berempat tertawa lepas di kilometer 72 Cipularang. Rekan pria yang jadi lawan bicara saya pertama kali sampai terbangun dengan raut muka kaget dan tatapan sewot.

Advertisements