Sesama Perokok Marilah Saling Menghormati

by arhamrahmat

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

(Sumber foto: Google)

Sesama perokok marilah saling menghormati. Sepertinya ini merupakan kaidah yang dipatuhi dengan sendirinya manakala sudah masuk dalam haluan perokok.  Bukan kaidah yang mengharuskan, tetapi kaidah yang diri sendiri rasakan setelah melakukan hal tersebut. Contohnya, ketika saya ingin menyalakan rokok namun tidak mempunyai pemantiknya, maka saya akan mencarinya. Pemantik yang dimaksudkan di sini adalah mencari orang yang juga menghisap rokok untuk kemudian meminjam bara api rokoknya.

“Bisa pinjam apinya?” Biasanya begitulah ciri khas saya menegur orang yang merokok untuk meminjam bara apinya.

“Oh iya, silahkan!” Sembari menyodorkan rokoknya kepada saya, orang tersebut telah melakukan kaidah yang dimaksud.

Akhir dari cuplikan di atas adalah saya mengucapkan “terimakasih.” Lalu, secara biasa orang tersebut membalasnya, “sama-sama.”

Demikian hal tersebut sudah menjadi satu kelaziman bagi saya – mungkin juga bagi perokok di Indonesia. Itulah pertanyaan mengapa tidak membeli saja korek api dari pada meminjam bara api rokok orang dijadikan satu pemakluman. Peristiwa tersebut baru akan terjadi jika saya tidak menemukan orang yang merokok. Seraya melangkahkan kaki untuk membeli korek api barulah hinggap perasaan menyesal. Mau merokok kok tidak punya korek api. Sama saja mau main domino tapi jumlah kartunya 27.

Meminta bara api rokok seringkali terlihat di tempat-tempat umum, seperti: ruang merokok, ruang publik, atau pada pertunjukan musik. Hingga kemudian saya menemukan tempat baru: lampu merah!

Kejadian tersebut saya rekam di salah satu simpang Jalan Riau Bandung. Lampu merah yang saya tahu biasanya merupakan sebuah tempat hadirnya pengamen, pengemis, atau penjual koran. Lampu merah yang saya tahu juga adalah bentuk kepedulian mata untuk senantiasa awas terhadap warna. Sore itu, gantian lampu merah memberitahukan saya bahwa ada pemandangan lain disela-sela pengendara menikmati dan menunggu pergantian warnanya – secara terpaksa. Pemandangan yang jarang terjadi. Bagaimana seorang pengendara motor meminta bara api rokok ke pengendara motor yang berada disebelahnya.

Hal tersebut memicu saya untuk kemudian membuat atau mengkhayalkan seperti apa percakapan yang terjadi. Percakapan yang mungkin saja, bisa membuat malaikat pencatat amal bingung menempatkan di rak mana harus disimpan catatan perbuatan manusianya.

Kemungkinan Satu:

“Pak, bisa pinjam apinya?”

“Pinjemin enggak ya?”

Lampu merah berubah menjadi hijau. Dengan wajah nista pengendara motor yang merokok meninggalkan si pengendara motor yang ingin meminjam bara api rokok.

Kemungkinan Dua:

“Pak, bisa pinjam apinya?”

“Waduh! Sebenarnya saya mau pinjemin. Tapi tengoklah, lampu sudah berubah warna. Lain waktu ya, pak!”

Kemungkinan Tiga:

“Pak, bisa pinjam apinya?”

Klakson mobil bersahut-sahutan

“APAAAAA???”

“PINJAM APINYA, PAK! BISA ENGGAK???”

Belum sempat menjawab, lampu sudah hijau. Yang diharap sudah berlalu.

Kemungkinan Empat:

“Pak, bisa pinjam apinya?”

“Oh iya, silahkan!” menyodorkan rokok.

“Terimakasih ya, pak!” membuang rokok.

“Loh! Kok rokok saya dibuang?”

“Ya, saya kira enggak akan diisap lagi. Tinggal puntung gitu!”

“Tapi, saya kan masih mau isap! Mana itu rokok saya yang terakhir.”

“Maaf deh, pak! Lain waktu saya ganti ya. Lampu sudah hijau soalnya. Enggak enak diklakson dari belakang.”

Kemungkinan Lima:

“Pak, bisa pinjam apinya?”

“Oh iya, silahkan!” menyodorkan rokok.

“Terimakasih ya, pak,” mengembalikan rokok.

“Loh! Kemana apinya rokok saya?” bertanya dengan muka heran.

“Ya! Jatuh, pak!” lalu menengok ke bawah, “saya kira apinya masih ada”

“Yasudah, sini saya pinjam api rokok bapak”

“Bukannya enggak mau nih, pak. Tapi lampu sudah hijau. Enggak enak diklakson dari belakang.”

Kemungkinan Enam:

“Pak, bisa pinjam apinya?”

“Oh iya, silahkan!” menyodorkan rokok.

“Waduh! Tunggu ya, pak. Angin lagi kencang. Rokok saya susah kebakarnya.”

“Ayo cepat, pak. Lampunya sudah mau hijau. Saya juga buru-buru mau jemput istri saya!”

“Iya, pak. Tunggu ya! Maklum, Garpit soalnya. Tembakaunya tebal.”

“Yasudah, bapak bawa saja rokok saya. Isap sekalian dua. Saya masih banyak. Lampu sudah hijau soalnya. Daaahh”

Untung saja semua kemungkinan yang saya tuliskan di atas tidak terjadi. Sudah barang tentu kaidah dilaksanakan! Pengendara motor yang berada disebelahnya meminjamkan bara api rokoknya. Untungnya juga catatan perbuatannya masuk ke dalam rak kebaikan Malaikat Raqib. Meskipun yang saya perhatikan, belum bagus betul rokok yang dibakarnya lampu sudah berubah menjadi hijau. Secara tergesa-gesa si peminjam mengembalikan rokok kepada yang meminjamkan.

Demikianlah bahwa kedua pengendara motor ini tidak saja menghormati sesama pengguna jalan. Tapi telah menghormati sesama perokok. Pahalanya dobel.

Advertisements