Rubrik Eceran Sayang*

by arhamrahmat

(Sumber foto: Google)

(Sumber foto: Google)

Saya memahami bis malam sebagai sebuah moda transportasi massa yang tugasnya mengantarkan penumpang dari kota ke kota lainnya yang – bisa saja – beda provinsi. Bis malam pertama kali saya tumpangi saat perjalanan dari Jakarta ke Palembang bersama ibu dan kedua adik. Waktu itu saya masih kelas satu SMP, tidak begitu ciliklah. Ketika mengetahui perjalanan dengan bis memakan waktu hampir atau lebih dari 12 jam, disitulah perasaan benci dengan bis mulai muncul. Saya menggerutu untuk tidak akan lagi kedua kalinya naik bis malam. Yang saya bayangkan kemudian adalah menenggak sebanyak-banyaknya Antimo agar bisa tidur pulas dan ketika bangun sudah sampai di tujuan.

Bis malam juga sarat dengan beragam manusia dari beragam tempat di Indonesia. Dari yang kecil sampai yang besar. Dari yang muda sampai yang tua. Ada yang bepergian sendiri, ada juga yang bersama keluarga. Dengan kata lain bis malam membuat saya harus menyesuaikan keadaan secepat mungkin untuk menjadi nyaman. Sebab jika tidak, sepanjang perjalanan perasaan menggerutu tentang keadaan bis sedikit-demi-sedikit menjadi banyak. Dan hasilnya adalah perjalanan akan bertambah dua atau tiga kali lipat lebih lama dari yang dirasakan. Bis malam merupakan ajang untuk menguji sejauh mana sikap toleransi manusia terhadap sesamanya. Tentunya itu salah satu sikap terpuji, bukan?

Dari sikap toleransi itu tersebut ada satu faedah yang didapat. Apakah dengan menjadi kenal atau akrab dengan sesama penumpang atau sekedar mengobrol basa-basi untuk dikatakan menikmati perjalanan dan juga memangkas waktu perjalanan. Hal paling mudah untuk menikmati perjalanan dalam bis malam adalah mendengarkan atau menyimak sebuah lagu. Kita hanya membiarkan telinga untuk mendengarkan tanpa perlu berbalas ucap.

Namun, namanya bis malam pasti tidak semua penumpang ingin mendengarkan lagu yang diputar oleh pak sopir. Kemudian yang tidak ingin mendengarkan lagu tersebut biasanya nyosor menggunakan alat bantu dengar atau bahasa bekennya, earphone untuk mendengarkan lagu kesenangannya. Bagaimana jika hampir semua penumpang bis malam ingin memamerkan lagu kesenangannya? Apalagi jika lagu kesenangannya adalah lagu daerah asalnya. Sudah tentu pak sopir dibuat sibuk untuk terus mengganti kaset lagu yang penumpang dengar. Apalagi tidak semua lagu yang diinginkan penumpang dipunyai pak sopir. Ia tidak boleh tidak acuh terhadap keinginan penumpang, sebab penumpang ibarat raja yang harus dilayani.

Rubrik Eceran Sayang kali ini menuliskan ulang sebuah cerpen dari Hamsad Rangkuti mengenai hal tersebut. Tentang bis malam dan hiruk-pikuk antara penumpang yang satu dengan yang lainnya. Bagaimana setiap penumpang hanya memberikan kesempatan beberapa detik kepada penumpang lainnya untuk mendengarkan lagu kesenangannya. Untuk kemudian diganti dengan lagu daerahnya. Potret kecil ini yang dirangkum Hamsad sebagai bentuk kekayaan suku nusantara dan disatukan oleh kesatuan negara Indonesia. Tentunya Hamsad menyajikannya dengan gaya bahasa yang menawan.   

Lagu Di Atas Bis

Oleh Hamsad Rangkuti

Sebuah bis malam jarak jauh meluncur dalam kecepatan sedang-sedang saja. Para penumpang baru berhenti untuk makan pada pertengahan perjalanan di tempat persinggahan bis-bis malam. Pohon tumbuh menyungkup sepanjang jalan. Dari dalam rumah penduduk di antara gelap pohon lindung, ada juga cahaya membias. Selebihnya, cahaya yang menerangi kegelapan itu, adalah sorot lampu bis yang menerangi jalan yang tercentang di depannya. Lampu bis yang menerangi jalan yang tercentang di depannya, sama seperti sepotong kapur tulis yang mencoreng di atas papan tulis yang panjang, tetapi setiap garis putih itu tercipta, kegelapan akan menghapusnya, sementara garis yang baru tercipta pula.

Orang-orang di dalam bis itu tidak tertidur. Mereka merasa segar, karena mereka baru saja selesai makan malam di tengah perjalan mereka. Sopir menghidupkan tape recorder. Para penumpang mendengarkan lagu yang berkumandang sambil berlena-lena. Tetapi di tengah-tengah lagu itu, terdengar orang berteriak:

“Bolehkah lagu itu ditukar? Saya ingin mendengarkan lagu jazz!” kata orang yang berteriak itu.

“Tolong Pak Sopir. Lagunya ditukar saja dengan irama jazz,” kata penumpang yang lain.

“Tetapi saya tidak punya kaset jazz!” kata sopir.

“Aku membawa kaset lagu yang aku minta!” Orang yang meminta lagu jazz mengeluarkan kaset jazz dari dalam sakunya. Dan berkumandanglah lagu jazz.

Tetapi, baru beberapa detik saja lagu itu berkumandang, terdengar pula orang berteriak:

“Bolehkah lagu itu ditukar?” kata orang yang berteriak itu kepada orang yang meminta lagu jazz.

“Boleh!” kata orang yang meminta lagu jazz itu.

“Saya ingin lagu disko,” kata orang yang meminta lagu jazz itu supaya diganti.

“Tolong Pak Sopir,” kata orang yang meminta lagu jazz tadi. “Bapak ini tidak suka dengan lagu kesenangan saya. Dia minta ditukar dengan irama disko.”

“Tetapi saya tidak punya kaset disko,” kata sopir.

“Saya punya. Saya membawa kaset kesenangan saya,” kata orang itu. Dia pun mengeluarkan kaset dari dalam sakunya. Kemudian mengumandang pula lagu disko.

Para penumpang mendengarkan lagu itu hanya beberapa detik saja, sebab terdengaar pula orang berteriak dari bangku lain.

“Bolehkah lagu itu ditukar?”

“Boleh!” kata orang yang meminta lagu disko.

“Saya ingin lagu keroncong.”

“Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu disko kesenangan saya. Dia minta lagu keroncong.”

“Tetapi saya tidak punya kaset keroncong,” kata sopir.

“Saya punya. Saya membawa kaset kesenangan saya.”

Orang itu mengeluarkan kaset dari dalam saku bajunya. Kemudian mengumandang lagu dari irama keroncong.

Para penumpang mendengar lagu itu hanya beberapa saat saja. Seseorang berteriak pula dari bangku yang lain.

“Bolehkah lagu itu ditukar?”

“Boleh!” kata orang yang meminta lagu keroncong.

“Saya ingin lagu dangdut.”

“Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu keroncong, lagu kesenangan saya. Dia minta lagu dangdut.”

“Tetapi saya tidak punya kaset dangdut,” kata sopir.

“Saya punya. Saya membawa kaset kesenangan saya.” Orang itu mengambil kaset dari dalam saku bajunya. Kemudian mengumandang lagu dangdut.

Para penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi beberapa saat kemudian, terdengar pula orang berteriak.

“Bolehkah lagu itu ditukar?”

“Boleh!” kata orang yang meminta lagu dangdut.

“Saya ingin lagu pop Indonesia.”

“Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu dangdut kesenangan saya. Dia minta ditukar dengan lagu pop Indonesia.”

“Tetapi saya tidak punya kaset pop Indonesia,” kata sopir.

“Saya punya. Saya selalu membawa kaset lagu kesenangan saya.” Orang itu mengambil kaset dari dalam saku bajunya. Kemudian mengumandang lagu pop Indonesia. Tetapi baru saja lagu itu mengumandang, terdengar pula orang berteriak:

“Bolehkah lagu itu ditukar?”

“Boleh!” kata orang yang meminta lagu pop Indonesia.

“Saya ingin lagu gending Jawa.”

“Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu pop Indonesia, padahal lagu itu kesukaan saya. Dia minta ditukar saja dengan gending Jawa.”

“Tetapi saya tidak punya kaset gending Jawa,” kata sopir.

“Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset gending Jawa setiap saya bepergian. Ini kaset lagu kesukaan saya. Gending Jawa!”

Para penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi beberapa saat saja kemudian, terdengar orang berteriak:

“Bolehkah lagu itu ditukar?”

“Boleh!” kata orang yang meminta lagu gending Jawa.

“Saya ingin lagu kecapi Sunda!”

“Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka gending Jawa, padahal saya paling suka gending Jawa. Dia minta lagu kecapi Sunda.”

Para penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi orang berteriak pula sebelum kaset kecapi Sunda berkumandang tiga puluh detik.

“Bolehkah lagu itu ditukar?”

“Boleh.” Kata orang yang meminta lagu kecapi Sunda.

“Saya ingin irama Minang, saluang.”

“Tolong Pak Sopir. Bapak ini minta lagu Minang, saluang.”

“Tetapi saya tidak punya kaset Minang, saluang,” kata sopir.

“Aden punya! Awak selalu membawa lagu kampuang den, saluang.” Orang itu menyerahkan kaset dari dalam saku bajunya. Dan berkumandanglah lagu saluang. Dan seperti tadi, orang pun berteriak pula beberapa saat kemudian.

“Bolehkah lagu itu ditukar?”

“Boleh!” kata orang yang meminta lagu saluang.

“Saya ingin lagu Tapanuli modern.”

“Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu saluang, padahal lagu itu kesenangan saya. Dia minta lagu itu ditukar dengan lagu Batak!”

“Kamu menyinggung, ya?!” orang itu memegang leher baju orang yang meminta lagu saluang.

“Oh, tidak. Maksud awak, Tapanuli modern.”

“Untung kita sama-sama dari Sumateranya. Kalau tidak, Saudara telah saya pukul.”

“Saya juga berpikir begitu, kalau tidak, Saudara telah saya pukul. Siapa yang bisa sabar kalau leher baju kita dipegang orang. Maaf! Tolong Pak Sopir. Bapak ini minta lagu Tapanuli modern.”

“Tetapi saya tidak punya lagu Tapanuli modern.”

“Aku punya! Aku selalu membawa lagu daerahku. Aku senang lagu daerahku sendiri. Putar Pak Sopir!” Orang itu menyerahkan kaset dari dalam saku bajunya. Kemudian mengumandang lagu Tapanuli modern. Tetapi orang berteriak pula meminta lagu diganti.

“Bolehkah lagu itu ditukar?”

“Boleh saja! Mengapa? Kamu tidak suka lagu Tapanuli modern?”

“Saya minta lagu mars perjuangan!” kata orang berseragam hijau. Dia membawa pistol.

“Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu Tapanuli modern, padahal lagu itu lagu kesenangan saya. Bapak ini minta lagu mars perjuangan.”

“Tetapi saya tidak punya kaset mars perjuangan,” kata sopir.

“Saya punya! Saya selalu membawa ke mana saja lagu-lagu kesukaan saya. Ayo putar! Sampai selesai! Tidak boleh diputus sebelum selesai!”

Tetapi baru saja lagu mars perjuangan itu mengumandang, terdengar pula orang berteriak meminta lagu itu ditukar.

“Bolehkah lagu itu ditukar?” kata orang yang berseragam hijau. Dia membawa pistol dua.

Orang yang meminta lagu mars perjuangan melihat kepadanya. Tetapi pada akhirnya dia berkata:

“Boleh! Mengapa tidak? Boleh! Lagu itu boleh ditukar.”

“Saya ingin diputar lagu Indonesia Raya!” katanya.

“Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu mars perjuangan. Padahal lagu itu menimbulkan semangat perjuangan pada saya. Bapak ini minta diputar lagu Indonesia Raya.”

“Tetapi, saya tidak punya kaset lagu Indonesia Raya.”

“Kaset lagu apa saja yang kau punya?” kata orang yang berseragam hijau lengkap dengan dua pistol di pinggangnnya.

Sopir membongkar seluruh kaset dalam laci.

“Kau harus punya kaset lagu Indonesia Raya. Cari! Dan mesti kau dapatkan!”

Sopir terus membongkar semua kaset. Dan dia menemukan kaset lagu Indonesia Raya di antara kaset yang dia bawa.

“Saya punya kaset lagu Indonesia Raya!” teriak sopir gembira.

“Putar! Saya suka lagu Indonesia Raya!” kata orang berseragam hijau lengkap dengan dua pistol di pinggangnya.

Tetapi, baru beberapa detik lagu Indonesia Raya itu berkumandang, terdengar pula orang berteriak:

“Bolehkah lagu itu ditukar?” kata orang berseragam hijau. Dia membawa tiga pistol.

Orang yang meminta lagu Indonesia Raya ini memandangnya. Dia berkata tegas:

“Tidak! Lagu itu tidak boleh ditukar. Kita harus mendengarnya sampai habis!”

“Tetapi telinga saya sakit mendengarnya!” kata orang yang berseragam hijau dengan tiga pistol di pinggangnya.

“Apa katamu? Sakit telingamu, katamu? Berarti kau tidak cinta pada tanah air!”

“Tetapi, tidak saatnya lagu kebangsaan diputar sekarang!”

“Sekarang adalah saatnya! Tidak kau lihat mereka sudah mulai berkelahi. Masing-masing meminta lagu daerah mereka sendiri-sendiri.”

“Tetapi telinga saya sakit mendengar lagu Indonesia Raya itu.”

“Berarti kau pengkhianat! Kau boleh keluar dari dalam bis ini!”

“Tetapi…” kata orang berseragam hijau dengan tiga pistol di pinggannya.

“Tetapi, kau sudah membayar ongkos? Itu maksudmu?” kata orang berseragam hijau dengan dua pistol di pingganya.

“Ya! Saya sudah membayar ongkos!”

“Saya akan ganti uang sisa ongkos perjalananmu. Kau boleh turun. Dan naik bis yang lain. Lagu Indonesia Raya ini harus mengumandang sampai tujuan kita berakhir. Kalau kau tidak suka, kau boleh keluar! Tidak ada tempat untuk orang yang tidak suka pada lagu kebangsaannya sendiri. Siapa yang tidak suka dengan lagu ini?”

“Saya suka!” kata orang berseragam hijau dengan sebuah pistol di pinggangnya. Mereka berdua menjadi memiliki tiga pistol.

Orang yang memakai seragam hijau lengkap dengan dua pistol di pinggangnya berdiri di atas tempat duduknya. Dia diikuti orang yang berseragam dengan satu pucuk pistol di pinggangnya.

“Cepat katakan! Siapa yang tidak suka pada lagu ini?!” teriak orang yang berseragam dengan dua pistol di pinggangnya. “Tidak ada tempat bagi pengkhianat di dalam bis ini!”

Semua orang diam. Termasuk orang yang mengenakan seragam dengan tiga pistol di pinggangnya. Dan lagu Indonesia Raya itu berkumandang sepanjang perjalanan, sampai mereka tiba di terminal terakhir.

1981

*Rubrik ini menampilkan tulisan lama yang menarik untuk diketik ulang. Secara berkala Eceran Sayang akan dikerjakan sedikit-demi-sedikit demi dan untuk menjaga rasa sayang. “Lagu Di Atas Bis” merupakan tulisan Hamsad Rangkuti yang terdapat dalam kumpulan cerpennya berjudul Cemara.

Advertisements