Catatan Mingguan (21 – 28 Juli 2013)

by arhamrahmat

odol-zeppelin

(Sumber foto: Google)

Begitu banyak kejadian dalam seminggu. Entah itu kejadian kecil atau besar, tidak masalah. Dalam seminggu itu pula yang menarik perhatian saya adalah beberapa kejadian kecil di sekitar. Kejadian yang sebenarnya hanya terlintas sesaat atau hanya terjadi beberapa detik, namun coba saya maknai lebih jauh seperti apa kejadian tersebut jika tidak dalam kondisi sebenarnya.

1. “Ini harganya sebungkus berapa?”

Dalam satu perjalanan kaki menyusuri Jalan Pasteur di Bandung pada hari Minggu (21/7) saya mendengar selintas percakapan. Tepatnya di depan BTC. Percakapan antara seorang anak laki-laki dan anak perempuan.  Mengapa saya menuliskan anak laki-laki dan anak perempuan sebab kedua orang ini berperawakan selayaknya anak SMP. Sebelum percakapan itu saya dengar, terlihat dari jauh anak laki-laki itu duduk di atas motor sementara anak perempuan berdiri disampingnya. Sepertinya mereka pacaran.

Peneman perjalanan setia saya adalah rokok. Saya perhatikan kedua anak tersebut ketika melintasinya. Anak perempuan memegang bungkus rokok Garpit, sementara anak laki-laki menghisap rokok tersebut. Tidak lama setelah saya berpapasan, anak perempuan itu berkata dan tepat mengarahkan matanya kepada pembungkus rokok yang dipegangnya, “Ini harganya sebungkus berapa?” Dia menyebutkan kalimat ini secara ketus. Saya hanya sempat melihat muka anak laki-laki itu. Nampak seperti ingin menjawab tapi tertahan oleh asap rokok. Tidak mungkin juga saya berhenti untuk menunggu jawaban anak laki-laki itu, sebab kondisinya adalah melintas. Lagi pula tidak etis juga. Cukup bersikap asertif saja.

Beberapa langkah di depan, saya kemudian menengok ke belakang untuk melihat kondisi terakhir kedua anak itu. Mereka menyerbu tatapan saya. Secara otomatis, kembali saya alihkan pandangan ke depan. Tidak lama setelah itu senyum kecil mengembang muncul dari bibir ini. Alasan munculnya senyum tersebut tidak lain karena ini:

Saya membayangkan bahwa anak perempuan itu mengomeli pacarnya yang tidak lain adalah anak laki-laki itu. Anak perempuan itu ingin memperlihatkan kebijaksanaannya dalam berpacaran. Untuk mengatakan bahwa daripada membeli rokok satu bungkus, lebih baik uangnya itu dipakai untuk makan bareng, pacaran, atau apalah yang sekiranya bermanfaat bagi kelangsungan hubungan mereka. Yang jelas dipakai bersama, tidak sendiri. Hal demikian terjadi setelah anak laki-laki itu menjawab pertanyaan pacarnya. Sungguh malang jika hendak dikata. Ingin tampil jantan malah dapat omelan.

2. Membeli “Aqua” atau membeli aqua?

Mata saya tergoda ketika melihat seorang bule masuk mengantri makan di salah satu restoran cepat saji di bilangan PVJ pada hari Selasa (23/7) lalu. Bukan, yang membuat saya tergoda bukan karena bulenya – lagipula dia seorang pria tua. Melainkan benda yang terdapat di saku tasnya. Benda itu adalah air mineral botol bermerek “Club”. Biasanya yang saya lihat bule menyimpan air mineral botol dengan merek “Aqua”. Baru kali ini saya lihat dengan merek berbeda. Kesan kemudian saya dapatkan bahwa bule tua itu ada sedikit dari banyaknya korban penyebutan “Aqua”.

Yang saya rasakan adalah dia ingin membeli air mineral botol bermerek “Aqua” di warung, tetapi sudah tahu sendirilah bahwa merek “Aqua” itu sudah merupakan sebutan baru atau menjadi begitu lazim untuk air mineral. Saat bule itu menyebutkan “Aqua”, pemilik warung secara langsung memberikan “Club”. Sudah pasti di membeli di warung, sebab kalau membeli di toserba, bule tersebut pasti bisa memilih secara gampang air mineral mana yang dia inginkan. Mungkin saja ada pertanyaan dalam hati bagi bule ini, kenapa yang diberikan adalah merek lain atau lebih parahnya lagi bule itu menyangka bahwa “Aqua” adalah sebutan untuk air mineral di Indonesia. Masalah menjadi beres.

Hal di atas cukup menggelitik buat saya. Bagaimana di Indonesia sebutan air mineral mengalami pengambilalihan makna, pengkondisian makna, atau apapun itu yang sejenis dengan sebutan dan maknanya. Selain contoh di atas, yang dikenal juga adalah penyebutan “Indomie” yang jelas-jelas maksudnya adalah mie instan. Bisa saja munculnya lema ini tidak lain dan secara tidak sengaja untuk mengganti sebutan aslinya karena dirasa terlalu panjang jika diucapkan.

Ada juga benarnya, saya coba untuk menyebutkan lema “Aqua” menjadi air mineral sungguh tidak efektif. Sudah tentu kalah telak dari jumlah huruf dan suku kata, apalagi jika ingin membeli di warung. Kebanyakan pemilik warung mengerti sebutan aqua sebagai air mineral dan bukan “Aqua” yang secara makna adalah salah satu dari berbagai macam merek air mineral. Cocok juga diilustrasikan seperti ini, “Nama, air mineral. Nama panggilan, Aqua.” Atau cobalah mengganti “Indomie” menjadi mi instan, “Odol” menjadi pasta gigi, “Baygon” menjadi obat nyamuk.

Jangan-jangan ini jugalah yang menjadi alasan sebuah perusahaan menggunakan nama yang lebih pendek pada setiap produknya. Siapa tahu saja dengan cara tersebut, produknya menggeserkan kekuatan nama asli benda yang kadung sudah memiliki nama asli.

Advertisements