Duga

by arhamrahmat

IMG-20130313-00622Seorang laki-laki berjalan menyeberangi jalan. Tiga detik setelahnya dia berpapasan dengan seorang perempuan. Laki-laki itu mengawasi jalan untuk memastikan angkot yang akan dinaikinya tidak terlewat. Juga dia melakukan satu tindakan tidak terpuji namun dapat dimaklumi; mencuri pandang pada perempuan itu. Laki-laki itu belum tahu kalau perempuan yang tadi berpapasan dengannya akan menaiki angkot yang sama. Dia hanya menduga kalau nantinya perempuan itu satu angkot dengannya. Dugaan menjadi benar ketika mereka sudah duduk di atas angkot. Ia duduk di belakang dan perempuan itu di depan.

Laki-laki itu akan turun di halte busway untuk selanjutnya menuju ke arah Harmoni. Dia juga belum tahu kalau perempuan itu akan turun di halte busway yang sama. Mereka baru benar-benar tahu saat perempuan memberi aba-aba ke sopir untuk memberhentikan angkot. Namun, jika perempuan itu tahu, laki-laki itu telah lebih dulu menduga-duga mereka akan turun di tempat yang sama. Apakah sikap semacam ini sudah termasuk golongan ketagihan? Sebab manusia umumnya seperti itu. Atau bisa saja ini tidak lebih daripada upaya untuk mencocokkan dugaan diri kepada lawan jenis yang ujung-ujungnya susah untuk berhenti.

Setelah membayar, mereka berdua naik jembatan penyeberangan agar bisa sampai ke halte busway. Pada perjalanan menyusuri anak tangga, perempuan itu menggunakan earphone untuk mendengarkan musik. Laki-laki itu berjalan di belakang, seperti mengawasi lalu lintas yang ada di bawahnya, namun tidak!

Matanya tetap mengawasi perempuan itu sesampainya di loket pembayaran busway. Bola mata hitamnya menanyakan, akan ada persamaan apa lagi setelah ini? Dia ingin menduga tapi tertahan. Takut bahwa terlalu banyak menduga dan benar akan lebih berbahaya ketika banyak itu berakhir dengan satu ketidakbenaran. Ia kemudian mengganti dengan pertanyaan yang terjawab ketika salah satu busway datang. Apakah perempuan itu akan naik ke arah Harmoni atau Lebak Bulus? Dia belum tahu bahwa loket ini tidak akan membuat mereka bersama lagi, karena perempuan itu akan menaiki busway menuju arah Lebak Bulus.

Tidak, mereka tidak berpisah. Diantaranya mereka telah mengucap kata sepakat untuk bertemu lagi di lain waktu, sebelum perempuan itu menaiki busway. Baru kemudian laki-laki itu tersadar dan mendapati dirinya telah seorang diri tanpa perempuan itu. Entah kapan kesepakatan itu terlaksana tetapi mereka sudah bersepakat.

Busway arah Harmoni telah membunyikan klakson, laki-laki itu bangun dari tempat duduknya untuk menjemput.

***

IMG-20130313-00623

Seorang laki-laki berjalan menyeberangi jalan. Tiga detik setelahnya dia berpapasan dengan seorang perempuan. Sembari menunggu angkot yang akan dinaikinya, dia melakukan pencurian pandang terhadap perempuan itu. Lebih dari satu kali. Sungguh perbuatan yang tidak terpuji! Dari perbuatannya itu muncul dugaan ia akan naik angkot yang sama dengan perempuan itu. Tidak lain daripada menghibur diri sendiri. Dugaan kemudian menjadi benar saat angkot yang ditunggu berhenti tidak jauh dari tempat mereka menunggu. Ia dan perempuan itu berlari kecil untuk mencapai angkot. Awalnya laki-laki itu ingin duduk di depan, namun kalah cepat sepersekian detik dari perempuan itu. Tidak masalah katanya, sebab dugaan yang benar lebih penting daripada pemilihan tempat duduk.

Laki-laki itu akan turun di halte busway untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju arah Harmoni. Dia memperhatikan jalan-jalan kecil yang dilalui angkot tersebut. Lebih tepatnya nampak seperti memberi perhatian, sebab pikirannya ada pada dugaan yang benar terhadap perempuan itu. Ketertarikan, manakala cobaan pertama berhasil membuatnya berani untuk melempar dugaan kembali. Yang dirasakan adalah kemauan untuk menduga lebih jauh lagi. Di mana perempuan itu akan turun? Apakah perempuan itu lebih dahulu turun darinya atau dia lebih duluan turun dari perempuan itu? Tentu, tidak menutup kemungkinan juga mereka akan turun bersama, lebih besar dan bisa jadi. Pertanyaan demikian dijawab dengan tujuh puluh persen dugaan bahwa perempuan itu akan turun bersamanya di halte busway.

Jantungnya berdegup tambah kencang tatkala tujuh puluh persen dugaannya mengalami kenaikan tiga puluh persen. Mereka mempunyai tujuan yang sama! Perempuan itu turun lebih dulu ketika angkot telah sampai di halte busway. Dengan santai memberikan tiga ribu rupiah pada sopir, laki-laki itu mengikuti di belakang untuk membayar ongkos angkot. Sudah dua kali dadu yang dilemparnya sesuai dugaan yang dirasa. Sembari menaiki anak tangga, dia merasa bahwa perempuan itu pasti juga sadar dengan persamaan mereka sejak menunggu angkot.

Dari jarak tiga puluh sentimeter di belakang, ia melihat perempuan itu telah menggunakan earphone. Semacam tameng untuk melindungi dirinya agar tidak bersikap salah tingkah. Setelah sama-sama melakukan pembayaran ongkos busway, tibalah mereka di ruang tunggu halte.

Laki-laki itu duduk disampingnya. Ia merasa harus berkenalan dengan perempuan itu. Basa-basi yang cekatan coba dibukanya untuk menanyakan apakah perempuan itu sadar kalau mereka naik angkot dan berhenti di tempat yang sama? Secara santai perempuan itu mengiyakan hal demikian, setelah melepas earphone yang menempel di telinganya. Responnya membuat laki-laki itu merasa senang.  Tidak nampak seperti tidak pandai membuka obrolan. Melampaui batasnya hingga tidak ada lagi batas, mereka menikmati obrolan, namun tidak sepenuhnya encer. Dalam setiap kalimat yang dilontarkan, laki-laki itu tidak lagi melempar dadu dugaannya. Hanya sekedar bertanya, bilakah mereka bersama lagi di dalam busway?

Untung saja, sebab jika dadu dugaan itu telah dilempar akan kecewa rasanya. Dengan kata lain dugaannya meleset. Yang terjadi kemudian adalah satu kesepakatan untuk jumpa lagi. Entah di mana kesepakatan itu terlaksana, apakah di tempat mereka menunggu angkot atau halte busway? Entahlah, pada akhirnya mereka telah sepakat untuk bertemu kembali.

Klakson busway arah Harmoni telah berbunyi, laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya untuk segera menjemput. Perempuan itu beberapa saat yang lalu telah lebih dulu menjemput busway arah Lebak Bulus.

***

IMG-20130313-00621

Seorang perempuan sedang menunggu angkot untuk mengantarkannya ke halte busway. Tidak berapa lama setelahnya, dia berpapasan dengan seorang laki-laki yang baru saja menyeberang jalan. Dia tidak merasa wajahnya tercuri oleh pandangan laki-laki itu saat mereka berdiri sejajar menunggu angkot. Segera dia duduk di kursi depan ketika angkot yang ditunggu datang. Dia baru tahu kalau laki-laki itu juga naik angkot yang sama dengannya ketika mereka sama-sama bergegas. Laki-laki itu duduk di kursi belakang.

Perempuan itu akan turun di halte busway untuk selanjutnya menuju ke arah Lebak Bulus. Dia belum juga tahu kalau laki-laki yang berpapasan dan satu angkot dengannya, juga akan turun di tempat yang sama. Perempuan itu baru tahu ketika memberikan aba-aba kepada sopir untuk memberhentikan angkot di depan halte busway. Ia melihat laki-laki itu ikut juga membayar ongkos angkot.

Menyusuri anak tangga untuk mencapai halte busway, perempuan itu mengeluarkan earphone untuk menyimak “Paradise” dari Wild Nothing. Saat lagu mengalun, ia mulai merasakan persamaan dari laki-laki yang awalnya hanya berpapasan, kemudian naik angkot dan turun di tempat yang sama. Perempuan itu mencoba untuk bersikap biasa saja dan tidak lebih dari satu hal yang memang sudah seharusnya terjadi, bukan kebetulan.

Setelah membayar ongkos busway di loket, duduklah perempuan itu di ruang tunggu busway. Laki-laki itu duduk disampingnya. Tidak lama kemudian perempuan itu tiba-tiba ditanyai, apakah ia sadar kalau mereka naik angkot dan berhenti di tempat yang sama? Perempuan itu lalu melepaskan earphone yang sedari tadi menempel di telinganya. Dengan santai ia mengiyakan tentang hal tersebut. Tidak begitu buruk untuk membuka obrolan, pikirnya. Tidak begitu lama ia menikmati obrolannya, busway arah Lebak Bulus datang. Dia mengucapkan, “sampai jumpa lagi!” sebagai bentuk tanda kesepakatan yang terucap akan keinginan untuk berjumpa. Perempuan itu tahu entah kapan kesepakatan itu terlaksana, tapi menyakini. Apakah ia akan berjumpa di tempat mereka naik angkot atau di halte busway?

Busway yang ia tumpangi mulai menyusuri jalan. Dipenuhi penumpang, perempuan itu berdiri dan memasang kembali earphone di telinganya. Kali ini “Plazamaya” dari The Sastro menemaninya untuk sampai tujuan.

Advertisements