Siasat Merawat Cerita dari Theory of Discoustic

by arhamrahmat

theory of discousticSudah menjadi tradisi menjelang lebaran saya akan pulang ke kota asal merayakan bersama keluarga. Pulang menjelang lebaran ke kota Makassar. Kota ini memang sudah menjadi sangat sibuk. Pembangunan yang seakan tanpa henti dan kemacetan mulai menjangkiti beberapa ruas jalan hingga jalan tersebut harus diperlebar. Begitu riuh hingga kota ini memang tidak pernah lagi tidur.

Saya mencoba untuk menikmati realitas yang terjadi di kota Makassar dengan makanan khas – karena hal itu yang membuat rindu di samping keluarga. Sampai pada saya menemukan kenikmatan-kenikmatan lain berupa ruang publik dan kelompok musik bernama Theory of Discoustic. Sebuah acuan musik yang ringan dan segar untuk menjauhi keriuhan kota Makassar. Bagi saya, menyimak mereka adalah ajakan sederhana agar segera bergegas untuk bermain ke Malino dan mendengarkan musiknya.

Theory of Discoustic sejatinya memainkan musik folk. Rangkaian musik yang pada tahun belakangan ini semakin merebak di Indonesia dan Makassar sudah termasuk di dalamnya. Tipikal musik merdu dan sederhana. Dan satu lagi, memiliki lirik berbahasa Indonesia yang bisa dikatakan syahdu. Hal-hal demikian juga terjadi pada Theory of Discoustic.

Tapi, ada pembeda ataupun muatan tambahan yang mereka hadirkan pada salah satu lagunya. Saya merasakan unsur gitar pada lagu itu terkesan dengan irama etnik. Hal demikian yang membuat Theory of Discoustic jadi lebih segar dan memperkaya keragaman musik folk di Indonesia. Dengan jeli mereka memasukkan unsur tersebut yang kemudian terkait dengan lirik lagu “Bias Bukit Harapan”. Sebuah lagu yang didasarkan dari lagu daerah Bugis-Makassar “Indo’ Logo”.

Didasarkan di sini maksudnya adalah Theory of Discoustic mencoba menafsirkan ulang lagu tersebut ke dalam Bahasa Indonesia hingga menjadi satu lagu yang menarik untuk disimak. Sebuah lagu tentang harapan akan cerita yang terjaga untuk nantinya bertemu kembali pada satu waktu. Erat kaitannya dengan pasangan kekasih. Dengan menuangkannya ke dalam bentuk lagu, bisa jadi ini adalah semacam siasat untuk merawat cerita tersebut. Potret kesederhanaan itu coba dirangkai Theory of Discoustic dalam bait pertama:

Saat terang mentari kan mewujud kian nyata

Menuju rimbunan memori terjaga

Jejak pagi tiba menari bahagia

Bersua di bukit kita

“Bias Bukit Harapan” kemudian dibungkus lantunan vokal perempuan yang bernyanyi tidak seperti biasanya. Saya suka menyebutnya sebagai karakter suara dalam. Dengan demikian secara manis Theory of Discoustic adalah resep untuk sejenak melupakan kepadatan kota untuk kemudian menikmati ademnya musik mereka.

Kelompok musik ini diisi oleh: Reza Enem (gitar string), Dian Megawati (vokal), Nugraha Pramayudi (gitar nylon), dan Fadli FM (bas). Mereka juga dibantu Anca (drum) dan Ade (kibor). Theory of Discoustic yang terbentuk di tahun 2010 baru mempunyai tiga lagu. Di bulan September ini rencananya mereka akan merilis mini album pertama berjudul Dialog Ujung Suar. Berisi empat lagu, salah satunya adalah “Bias Bukit Harapan”. Mini album tersebut nantinya akan dilepas secara bebas unduh.

Untuk menyimak lagu dari mereka silahkan berkunjung ke Gigsplay

Advertisements