Catatan Lebaran

by arhamrahmat

(Sumber foto: milik pribadi)

(Sumber foto: milik pribadi)

Idul Fitri telah berlalu. Hari yang disebutkan sebagai hari kemenangan bagi umat Islam setelah melaksanakan bulan puasa. Banyak yang merayakan tapi ada juga yang hanya melewati itu sebagai hari biasa dalam kalender. Setelah melaksanakan shalat berjamaah pagi hari kemudian berkumpul bersama keluarga, saling bermaaf-maafan. Saya adalah yang disebutkan demikian. Sudah menjadi rutinitas tahunan untuk berkumpul bersama keluarga besar dalam menyambut Idul Fitri hingga akhirnya menjadi biasa saja.

Yang menarik kemudian bagi saya adalah bagaimana di setiap tahun itu selalu ada ingatan yang muncul ketika pelaksanaan Idul Fitri. Ingatan sewaktu kecil pada saat merasakan Idul Fitri sebagai hari yang istimewa. Selain sudah tidak berpuasa lagi, tentu mendapatkan banyak uang lebaran hasil dari ziarah ke rumah keluarga. Ujung-ujungnya uang itu habis digunakan untuk jajan di pasar, membeli mainan atau makanan ringan. Padahal ada baiknya dimasukkan ke dalam celengan. Oh iya, satu hal lagi yang membuat saya merasakan kemenangan sebelum Idul Fitri, malam takbiran!

Kami sekeluarga mempunyai agenda untuk berlebaran di desa orang tua, Kabupaten Soppeng – sekitar 170 kilometer dari Makassar. Desa yang menjadi tempat bermukimnya kakek-nenek. Soppeng mempunyai udara yang sejuk karena letaknya yang berada pada jajaran dataran tinggi. Waktu itu akhir tahun 90an, mungkin tahun 1999. Kegirangan saya yang duduk di kelas 4 SD begitu besar menyambut lebaran di Soppeng. Apalagi kalau bukan malam takbiran! Di desa kekerabatan terjalin begitu erat. Semua warga dianggap saudara. Begitu pun ketika malam takbiran, mereka menyambut lebaran ini secara kolektif. Pawai mengelilingi desa sembari menyerukan takbir. Berbagai macam ornamen melekat dalam pawai ini. Ada yang menggunakan mobil bak terbuka dengan hiasan serupa masjid dan kerlap-kerlip lampu kecil, atau ada juga yang berjalan sembari menyerukan takbir. Ini adalah keceriaan untuk menyambut hari kemenangan.

Ada ornamen yang tidak akan saya lupa dan sampai sekarang masih melekat yaitu kembang api! Karena dengan demikian, kembang api membawa saya pada satu cerita yang terus akan saya rawat. Merasakan malam takbiran dan melihat kembang api, cerita makin lekat. Begini ceritanya:

Buka puasa hari terakhir baru saja selesai. Rumah kakek-nenek sudah penuh dengan saudara-saudara yang datang dari jauh. Ini yang membuat saya selalu senang. Berkumpul, bermain, dan melakukan apapun yang sekiranya menarik dan hanya bisa terjadi setahun sekali. Setelah menunaikan shalat Magrhib, kami yang masih anak-anak dan berjumlah sekitar delapan orang turun dari rumah menuju ke jalan untuk segera menunggu arak-arak malam takbiran. Saya menuliskan turun dari rumah karena rumah kakek-nenek kami adalah rumah panggung. Orang-orang biasa menyebutnya begitu. Ini bukan merupakan rumah adat, melainkan salah satu bentuk rumah umum yang terdapat di Soppeng. Terbuat dan mempunyai pondasi yang kuat dari kayu, sehingga untuk mencapai pintu utama atau masuk ke dalam rumah harus menaiki tangga, begitu juga sebaliknya. Mungkin ini yang menyebabkan mengapa model rumah seperti ini disebut sebagai rumah panggung.

Deru suara mesjid telah melantunkan takbir lebih dahulu. Untuk mengenyahkan rasa bosan, kami mulai menyalakan kembang api. Mercon dan sebagainya yang sekiranya membahayakan diri tidak diperkenankan oleh orang tua untuk memilikinya sedari kami mengetahui ada permainan bakar-membakar yang mengasyikkan dibanding korek kayu. Apalagi yang namanya meriam bambu, itu sudah masuk dalam kaidah haram jadah untuk seusia kami. Kembang api adalah tolak ukur permainan bakar-membakar bagi kami.

Tidak lama setelah mulai membakar kembang api, apa yang kami tunggu akhirnya mulai berdatangan. Arak-arakan malam takbiran satu-per-satu lewat. Untuk menambah semangat tersebut, kami terus membakar kembang api. Kadang-kadang ada juga yang usil dari arak-arakan ini, mereka menyiram kembang api kami yang menyala. Tertawa lalu berlalu. Biasanya kalau begitu kami hanya bisa manyun, selain postur tubuh yang kecil, kami tentu tidak berani untuk meledek orang yang postur tubuhnya dua kali lebih besar. Suka saya berpikir mengapa orang besar ini hanya berani melakukan hal tersebut kepada anak kecil dan tidak dengan orang besar. Orang yang secara ukuran postur tubuhnya sama besar dengan posturnya. Kemudian saya mengetahui saat usia bertambah, bahwa ada kata yang tepat untuk sebutan orang seperti ini. Pengecut.

Kakek juga ambil bagian turun dari rumah untuk meramaikan pesta kembang api ini. Beliau ternyata punya cara jitu agar kembang api tidak sekedar dipegang lalu diputar-putar saja oleh tangan. Bagaimana kakek mengikat seutas benang pada bagian pegangan kembang api yang berbahan kawat, lalu menaikkan ke ranting pohon Mangga. Di sekitar rumah kakek-nenek memang cukup banyak pohon. Untuk membakarnya, kakek tinggal mengulur benang tersebut ke bawah lalu membakarnya. Kami yang baru melihat itu, merasa bahwa ini adalah penemuan baru yang patut ditiru. Kakek kami soraki untuk segera membakar kembang api. Tidak sabar kami melihat seperti apa keindahan kembang api disandingkan dengan pohon.

Kembang api sudah dibakar, sorak-sorai kami teriak melihat pengalaman baru ini. Takjub! Sampai kemudian, saya yang termasuk paling riang di situ tidak sadar telah menginjak bara kembang api yang baru saja habis nyalanya. Injakan itu begitu terasa panasnya karena ternyata saya tidak menggunakan alas kaki alias sendal! Keriangan berganti teriakan “kakiku bolong, kakiku bolong, kakiku bolong” secara berulang dilanjutkan dengan suara tangisan. Kakek dan saudara lainnya panik seketika, terasa raut ceria itu berganti. Ada juga saudara yang berucap bijak, “Makanya, pakai sendal dong kalau mau main kembang api. Seperti saya nih! Jadi aman kan”. Kakek kemudian membopong saya dengan segera naik ke atas rumah untuk diobati.

Sampai di dalam rumah, saya sudah dikelilingi banyak orang. Kakek, nenek, om, tante, saudara-saudara, dan kedua orang tua. Mereka semua nampak panik melihat kondisi telapak kaki saya yang bolong termakan bara kembang api hingga menganga. Adakalanya ketika mengingat kejadian itu, saya merasa baru saja ditabrak di jalan raya oleh mobil, darah mulai berceceran, dan dikerumuni orang untuk melihat kondisi kemudian panik untuk segera meminta pertolongan.

Datanglah seorang nenek yang bukan dari orang tua saya. Sampai sekarang saya belum mengetahui namanya siapa. Kami hanya menyebutnya nenek saja, karena seperti yang saya tuliskan di atas bahwa semua warga dianggap sebagai anggota keluarga. Ketika nama tidak menjadi prioritas dan sapaan adalah hal yang utama. Jadi bisa dibayangkan, manakala nenek-nenek berkumpul di ruang tamu, kemudian saya menyebut kata nenek, hasilnya tentu mereka semua menoleh. Padahal sebutan nenek yang saya maksud merujuk pada seorang saja.

Sejurus kemudian, beliau telah duduk di depan saya dengan membawa madu yang ditempatkan di piring ceper. Kaki saya diambilnya lalu bergeser ke bagian telapak. Jari tengah dan telunjuk kanannya dicelupkan ke piring ceper yang berisikan madu kemudian diusapkan pada telapak kaki saya yang bolong. Setelah mengusap, beliau lanjutkan dengan bisikan-bisikan yang hanya saya bisa dengar secara samar. Orang-orang disekeliling juga tak kalah herannya akan bisikan itu. Barulah pada suatu hari saya tahu bahwa bisikan itu erat kaitannya dengan meminta pertolongan kepada yang mahakuasa untuk disembuhkan dengan segera. Penggunaan bahasa dalam bisikan itu adalah bahasa Bugis.

“Coba kamu berdiri dan jalan,” kata nenek itu. Awalnya saya tidak ingin mempercayai apa yang diserukan. Tapi, menuruti kata orang tua itu hukumnya wajib. Saya mencoba berdiri dan jalan dengan telapak kaki kiri tidak menyentuh pijakan, hingga nampak seperti agak pincang berjalan. “Telapak kakinya coba sentuh di lantai,” nenek itu melanjutkan. Seruan itu saya laksanakan lagi. Alangkah terkejutnya saya ketika telapak kaki kiri sudah menyentuh pijakan, tidak ada rasa sakit akibat bolong itu. Walupun bolong itu masih ada namun tidak ada rasanya. Orang-orang disekitar yang memperhatikan juga nampak terkejut atas aksi saya. “Lho! Kok bisa, nek? Tidak ada rasa sakit akibat bolong” tanya saya. Beliau melempar senyum, “Syukur Alhamdulillah, nak.” Ucapnya. Di kemudian hari barulah juga saya ketahui bahwa nenek itu adalah seorang yang selalu membantu untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit atau luka pada kondisi tubuh. Bisa jadi memenuhi dengan apa yang disebut unsur magis. Yang belum saya ketahui sampai sekarang adalah penggunaan madu sebagai penghantar luka. Diam-diam secara konyol, saya kemudian merasa bahwa setiap luka yang menganga pada tubuh bisa sembuh dengan menggunakan madu dan tidak terasa perih. Alternatif lain dari Betadine yang menimbulkan perih ketika diteteskan pada luka.

Dua hari setelah hari raya Idul Fitri dan perawatan intensif yang diberikan oleh nenek itu, bolong telapak kaki kiri saya sudah berangsur tertutup dengan kulit telapak kaki. Hingga tidak ada bekas. Orang tua menasihati agar kalau bermain kembang api harus pakai alas kaki. Jangan sembrono. Anggukan iya sebagai bentuk balasan dan mau mendengar apa yang sudah disampaikan.

Malam ketiga setelah lebaran, saya sudah mulai bermain kembang api lagi di depan rumah bersama saudara-saudara. Tidak ingin mengulangi kesembronoan kali ini saya menggunakan sendal. Meskipun sendal yang saya gunakan adalah sendal bapak yang ukurannya lebih besar dua kali dari ukuran kaki saya dan tentunya cukup memberatkan langkah, namun saya tidak acuh.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saya adalah orang yang malas menggunakan alas kaki sewaktu kecil jika hanya sekedar bermain di pekarangan rumah. Untungnya sekarang, kebiasaan itu sudah tidak berlanjut.

Advertisements