Temu*

by arhamrahmat

(Sumber foto: Salinan gambar dari filem "A Woman Is a Woman")

(Sumber foto: Salinan gambar dari filem “A Woman Is a Woman”)

“Mungkin kamu belum tahu, bahwa kamu itu dulunya mitos,” saya berucap pada seorang perempuan
“Maksudnya?” perempuan itu bertanya
“Kamu gadis mitos. Dan sekarang mitos itu runtuh!”

Saya mulai berkenalan dengan perempuan itu pada suatu ketika dari suatu tempat**. Kami berkenalan bukan secara tidak sengaja, saya memang ingin berkenalan pada perempuan itu. Saya, ketika itu, menanyakan beberapa hal untuk keperluan penulisan. Dia memberitahukan jawaban yang sebenarnya biasa saja tapi entah mengapa saya merasa jawabannya begitu baik. Ada suatu keseriusan yang diberikan untuk jawabannya dan dia bersedia bertanggungjawab. Saya kemudian mulai tertarik untuk memancing obrolan lebih jauh dari semestinya. Namun, ada keunikan sifat dia yang saya rasakan. Kadangkala ketika asyik ngobrol dia tiba-tiba menghilang entah kemana dan itu sering terjadi.

Hal demikian yang memicu saya untuk menjadikannya mitos. Saya pun tidak ingin mencarinya. Ada semacam keyakinan tersendiri yang membuat saya merasa bahwa perempuan itu mungkin akan muncul lagi secara tiba-tiba. Lalu kami ngobrol dan kemudian dia hilang lagi. Di sela-sela saat perempuan itu telah menjadi mitos, ada satu lagu yang kemudian pas rasanya untuk keadaan tersebut. Lagu tersebut, saya tidak tahu apakah memang cocok untuk menggambarkan hal demikian. Tapi rasanya pas saja buat saya. Pernah suatu ketika, saya berada di luar kota untuk menghadiri sebuah acara. Tanpa basa-basi perempuan itu tiba-tiba muncul secara santai untuk menanyakan apakah ada tulisan saya yang bisa digunakan untuk keperluan tugasnya. Saya kemudian memberi satu tulisan yang dimaksud setelah dia menjelaskan. Dan seperti biasa, sehabis urusan itu dia kembali hilang. Bertualang sesukanya.

Ini sebenarnya menjadi keseruan tersendiri yang belum saya sadari. Bagaimana perempuan itu datang seperti kejutan. Saya merasa sepertinya ada kaitan juga yang terjadi. Saya tidak tahu pasti mengapa tiba-tiba memikirkan keterkaitan, tapi itulah yang saya rasakan. Keterkaitan akan hal-hal kecil disekitar misalnya, saya suka memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi dalam keseharian. Tiba-tiba perasaan ini menemukan afinitas pada perempuan itu. Atau akan kegemaran saya meminum kopi, perempuan itu juga. Singkatnya keterkaitan itu menemukan wujudnya sendiri saat waktu bergulir. Ini kemudian yang mempertegas bahwa perempuan itu memang semacam mitos tersendiri. Beberapa kali secara sadar sebenarnya saya ingin memecahkan mitos yang saya buat itu. Tapi tidak terjadi.  Mitos itu nampak menjadi begitu kuat. Semakin saya ingin pecahkan, semakin melenggang dia ke atas sana.

Secara diam-diam ternyata perasaan ini bersekongkol dengan otak untuk menikmati keterkaitan tersebut. Hingga akhirnya diri saya sendiri coba untuk memastikan keterkaitan yang saya rasakan pada perempuan itu. Bukan dia yang muncul secara tiba-tiba, melainkan saya yang muncul untuk menanyakan kabarnya. Dia menjawab baik mengenai kabar. Ya, perempuan seperti dia hidupnya akan baik-baik saja kok. Karena dia adalah orang baik menurut saya. Dengan cekatan saya coba melanjutkan obrolan dengan bertanya mengenai hal-hal kecil, perihal meminum kopi, dan apapun itu yang saya rasa berkaitan dengan diri sendiri. Memang keterkaitan itu ada dan terjadi dengan cara masing-masing. Bukan dengan cara bersama.

Selepas obrolan itu, semuanya kembali berlangsung biasa saja. Tidak juga selepas obrolan itu kami memikirkan satu sama lain. Sampai suatu ketika secara spontan saya mengajak dia untuk bertemu. Perempuan itu sepakat. Yang terjadi kemudian adalah saya secara tidak sadar telah menuju untuk memecahkan mitos tersebut. Yang sadar terkalahkan dengan yang tidak sadar. Barulah juga kemudian saya sadar bahwa perempuan itu tetap menjaga dirinya dalam bentuk mitos sampai pada akhirnya runtuh dengan sendirinya. Namun, dia menjaga mitos itu secara tidak sadar sebab dia tidak mengetahui dirinya menjadi mitos.

“Oh, jadi begitu ya ceritanya sampai kamu membuat saya menjadi mitos. Dan sekarang mitos itu telah roboh.” ujar perempuan itu.

Pada akhirnya saya menghapus perempuan itu dalam bentuk mitos. Untuk kemudian merubah yang semu menjadi temu.

*Tulisan ini merupakan lanjutan dari “Gadis Bertangan Satu, Lagu Romantis C’mon Lennon”

**Diambil dari buku Kumpulan Cerpen Asrul Sani dengan judul asli “Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat” (1972) Penerbit Pustaka Jaya.

Advertisements