Meggy Z dan 55 Tahun Usia Bapak

by arhamrahmat

Ketika saya masih beberapa bulan di pangkuan Ibu dan Bapak berada di belakang (Foto: milik pribadi)

Ketika saya masih beberapa bulan di pangkuan Ibu dan Bapak berada di belakang (Foto: milik pribadi)

Peribahasa “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” berlaku antara Bapak dan saya – dan mungkin juga sebagian besar pada anak-anak lain. Cukup banyak yang dia wariskan kebiasannya pada saya. Mulai dari kenapa saya suka menonton pertandingan sepakbola, datangnya dari beliau yang mengajak saya pertama kali untuk menonton pertandingan PSM di Stadion Mattoanging Makassar dalam rangka keikutseraan Liga Indonesia. Ketika itu saya masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Kemudian, kebiasaan saya membaca juga turunnya dari beliau. Banyak buku bacaan di rumah yang Bapak baca, sampai akhirnya saya mengikutinya. Entah itu mulai dari koran sampai dengan hal-hal kecil yang bisa saya baca, saya ladeni. Beliau juga sering mengajak saya ke toko buku untuk memilih dan membeli buku bacaan. Tentang kegemarannya bercerita hingga lupa waktu dengan ketawa yang lantang – sampai Ibu harus menegurnya – ketika ada tamu di rumah, juga sedikit banyak berpengaruh sama saya. Atau bagaimana saya suka sekali meminum air es sehabis makan, tentu saja itu dari beliau. Banyak juga anggota keluarga atau teman-temannya yang mengatakan bahwa muka saya mengopi muka Bapak. Sampai akhirnya saya sadari, selain saya mengikutinya, Bapak adalah salah satu orang yang saya kagumi. Kelas satu SMP, barulah saya tahu bahwa nama ilmiah untuk hal tersebut adalah gen dalam bidang Biologi.

Tapi ada juga kebiasannya yang tidak saya wariskan – atau mungkin belum. Bapak termasuk jagoan kalau dalam permainan domino. Semacam bisa membaca kartu apa yang akan diturunkan lawannya ketika bermain, sehingga permainannya taktis lagi tidak membutuhkan banyak waktu berpikir ketika tiba gilirannya menurunkan kartu domino. Beliau bahkan sempat pernah menjuarai pertandingan domino di kantornya dalam rangka tujuh belasan. Yang paling melekat buat saya adalah kegemarannya menggunakan sarung ketika sudah berada di rumah. Sangat jarang, bahkan mungkin hanya dalam hitungan jari saya melihat Bapak mengenakan celana pendek. Melengkapi sarung, beliau mengenakan singlet putih yang notabenenya adalah baju dalamnya ketika berkantor. Bapak memang santai atau malah kelewat santai ketika sudah berada di rumah. Hal itu berbeda ketika akan bepergian. Beliau sangat detail dalam penampilannya. Mulai dari menyisir rambut, memilih warna baju dan celana. Tentu saja, dengan bantuan menanyakan kepada Ibu apakah gaya berpakaiannya sudah sesuai dan cocok. Dalam hal ini, Bapak sangat teliti. Namun, tidak berhenti sampai di situ saja. Ketelitiannya melibatkan hal-hal lain. Pernah saya mendapatkan beliau memeriksa hasil ujian mahasiswanya – beliau adalah dosen di salah satu perguruan tinggi di Makassar – secara teliti. Lembaran demi lembaran dibacanya satu-satu. Karena telitinya itu, beliau bisa mengetahui mahasiswa mana yang jawabannya sama, dengan kata lain saling menyontek. Kejadian paling baru bagi saya mengenai ketelitian Bapak adalah saat saya akan berangkat ke Jakarta. Bapak, Ibu dan kedua adik saya mengantar sampai bandara. Ketika sampai di bandara, Bapak mempersilakan saya terlebih dahulu check in agar nantinya bisa keluar lagi untuk sekedar ngobrol bersama. Setelah melakukan check-in, saya bergegas keluar menemui mereka.

“Kamu berangkat jam berapa?” tanya Bapak.
“Jam delapan lewat sepuluh, bos” sembari saya menyerahkan tiket pesawat kepada beliau.
Tidak berapa lama, beliau kemudian berkata:
“Loh! Ini kok jam setengah sepuluh? Katanya jam delapan lewat sepuluh!”
Saya memeriksa tiket yang ada di tangan Bapak dan kaget melihat jam keberangkatan pesawat memang tertera seperti yang dikatakan beliau.
“Wah! Saya tidak lihat, bos. Tapi sebelum check in tadi jam keberangkatannya jam segitu”
“Bahaya ini! Kamu harusnya teliti dulu setelah check-in. Jangan sembarangan saja!”

Entah sudah berapa kali saya mendengar kata “teliti” itu. Atau kadang-kadang beliau berkata “jangan teledor!” Sedari saya kecil kata-kata tersebut sudah akrab di telinga ketika mengerjakan sesuatu yang disuruh Bapak. Setelah percakapan itu, saya berlari untuk masuk ke ruang check in menanyakan perihal keberangkatan pesawat yang saya tumpangi, yang ternyata memang pada akhirnya mengalami penundaan sesuai dengan yang tertera di tiket tersebut. Saya berangkat jam setengah sepuluh.

Sebenarnya saya mewariskan satu lagi kegemaran Bapak. Kegemarannya akan mendengarkan musik. Tapi, jangan berprasangka dulu kalau beliau mendengarkan musik pada era The Rollies, Panbers, Koes Plus, dan apapun itu. Bapak tidak mengikuti musik yang disebutkan tadi apalagi musik barat. Kecuali nama-nama yang sudah dituliskan tadi dan beberapa lagunya akrab di telinga. Satu atau dua lagu, mungkin. Bapak  sejatinya adalah penikmat musik dangdut! Rhoma Irama dan Soneta Group digemari. Kadangkala ketika membaca koran di pagi hari beliau menyiulkan “Begadang”. Tipikal orangtua yang menikmati pagi hari: membaca koran, minum teh hangat dan makan pisang goreng. Nama lain yang masih saya ingat dan tidak mungkin akan lupa adalah Meggy Z. Saya tidak mungkin lupa bagaimana ketika beliau mandi ada sayup-sayup suara dari kamar mandi, “Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ini” atau jangan-jangan “Lebih baik sakit hati daripada sakit gigi ini” Entahlah, yang jelas liriknya berkisar seperti itu, tinggal dicocokkan saja. Karena yang juga teringat oleh saya adalah, Bapak pernah merasakan sakit gigi kemudian melantunkan lirik itu di meja makan ketika kami ingin makan malam bersama. Makanya, saya agak lupa mengenai penyusunan liriknya. Bapak memang penggemar Meggy Z. Beberapa lagunya beliau hafal. Yang berhasil saya ingat hanyalah yang di atas. Ah, hampir terlupa, beliau juga menyukai lagu-lagu Caca Handika atau “Jatuh Bangun” dari Kristina.

Secara diam-diam dan konyol saya kemudian menyenangi musik dangdut, terutama Meggy Z. Saya pernah mengharapkan foto bersama dengan Meggy Z dan memberikan kepada Bapak sebagai bentuk lain untuk memberitahu bahwa saya berfoto bersama idolanya. Tapi, dengan saya menyenangi musik dangdut, segala kemungkinan untuk mendengarkan dan menikmati musik yang lainnya terbuka lebar. Dasarnya saya suka mendengarkan musik tidak lain adalah karena Bapak senang akan musik dangdut dan Ibu menggemari Chrisye, Broery Marantika dan Dewi Yull. Sampai akhirnya Bapak juga terikut kebiasaan Ibu mendengarkan apa yang menjadi kegemarannya. Untuk selanjutnya berkaraoke bersama di ruang tengah secara romantis. Apakah itu menyanyikan “Jangan Ada Dusta Di Antara Kita” atau “Galih dan Ratna”.  Bapak adalah orang yang cukup luwes untuk mendengarkan musik pada masanya.

12 September yang lalu Bapak telah berusia 55 tahun. Beliau mengatakan bahwa dia masih tetap berproses untuk terus membahagiakan istri dan anak-anaknya. Bagi kami beliau adalah sosok kepala keluarga yang nyata dan ideal dalam keluarga. Yang juga dipunyai pada banyak keluarga di luar sana. Bapak telah berhasil menciptakan suasana bahagia dan nyaman dalam rumah dengan kerangka sederhana. Asalkan anak dan istrinya berkumpul di rumah lalu makan bersama, beliau sudah sangat senang dan bersyukur – kata yang terakhir ini juga sering diucapkan beliau kepada kami. Atau dengan bepergian bersama. Ya, memang itu sudah selayaknya terjadi dalam keluarga harmonis. Tapi bagi beberapa orang seperti saya yang merasakan itu tidak sebagai kadar formalitas, akan begitu membahagiakan.

Pagi hari ketika usianya bertambah saya menelepon Bapak untuk mengucapkan selamat dan sekalian ngobrol sebentar:
“Halo, assalamualaikum, bos!”
“Waalaikumsalam, nanda!”
“Eh, selamat ulang tahun yang ke lima puluh empat ya, bos. Semoga semua urusannya dilancarkan dan tetap diberi kesehatan. Mama, Anto dan Iwan juga tetap sehat!”
“Bukan lima puluh empat, nanda. Tapi lima puluh lima, hehehe. Iya! Semoga Arham juga sehat selalu. Bagaimana kuliahnya? ”
“Amin. Alhamdulillah kuliah lancar. Nilai-nilai semester kemarin bagus, bos!”
“Ya, kalau begitu semoga bisa secepatnya sarjana”
“Amin. Eh, bos hari ini kegiatan apa saja?”
“Ini mau mandi terus ke kampus sekalian ada urusan kantor dengan teman”
“Ya! Semoga lancar urusan hari ini. Kalau begitu sudah dulu ya, bos. Silakan mandi. Arham juga mau berkegiatan”
“Oke, jaga diri yang baik ya, nanda. Assalamualaikum”
“Siap, bos! Waalaikumsalam”

Iya, masih banyak hal yang ingin saya contoh dari kisah hidupnya. Sekali lagi, Selamat ulang tahun yang ke 55, Bapak. 

Advertisements