Rubrik Eceran Sayang*

by arhamrahmat

IMAGE0103

Selepas membaca “Sanyo”, tangan ini langsung ingin mengetik ulang naskah tersebut untuk dimuat dalam Rubrik Eceran Sayang di blog saya. Tujuannya tidak lebih untuk mengarsipkan cerpen ini. Sedari awal Idrus menggambarkan seorang tukang kacang goreng yang keranjangnya penuh dengan kacang panas namun kantongnya kosong, sedari itu juga saya menduga kalau cerita ini cukup mujarab sebagai obat penghibur. Sebenarnya ada beberapa cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma yang juga yang tidak kalah menariknya untuk diketik ulang – sebut saja  “Heiho” atau “Fujinkai” – namun sudah keduluan saya memilih cerita ini. “Dan saya rasa anak-anak muda Indonesia sekarang harus tetap membaca buku-buku Idrus.” Begitulah kalimat Budi Warsito pada saya di satu kesempatan ngobrol santai. Berikut cerpen yang dimaksud:

Sanyo

Oleh Idrus

Di bawah radio umum, duduk seorang tukang kacang goreng, Kadir. Keranjangnya penuh dengan kacang panas-panas dan kantongnya kosong dengan uang. Lampu minyak tanah di atas keranjangnya itu kejip-kejip, seperti lampu menara di tengah lautan. Udara panas dan menyesakkan napas. Tak seorang pun yang ingin hendak makan kacang pada malam itu. Orang-orang lebih suka mendekati tukang es daripada tukang kacang.

Dua jam sudah, Kadir duduk di bawah radio umum itu, seperti tukang jaga. Mulutnya gatal-gatal hendak bicara. Hanya radio umum yang selalu bicara kepadanya, tentang pecah sebagai ratna, pengangkatan sanyo. Tak ada yang dapat dipahami Kadir, seakan-akan radio umum itu orang asing baginya. Orang asing yang datang jauh dari Pulau Jawa, pendek sebagai orang kubu, kuning sebagai kunyit, buas sebagai harimau.

Perlahan-lahan Kadir mengeluarkan beberapa perkataan, seperti ada orang yang mendengarkan perkataan itu.

Sanyo, sanyo. Apa itu? San aku tahu, tiga, Yo?

Kadir berpikir. Tiba-tiba katanya, “apa perlunya berpikir, jika kacangku tak dibeli orang. Mampuskah sanyo itu. Kacangku tak juga akan laku oleh karena itu.”

Seorang tukang es lilin mendekati Kadir. Topi tukang es itu lebar seperti pak tani. Celananya robek-robek. Ia tak berbaju. Badannya setengah putih, setengah hitam, seperti bunga pada gaun yang dipakai orang pergi dansa. Pikir Kadir, “Tentu es lilin akan bertambah enak dimakan, jika melihat bunga cita itu.”

Tukang es lilin itu bukan ahli nujum. Ia tak tahu apa yang dipikirkan Kadir. Ia tertawa kepada Kadir dan katanya, “Bang kasi kacang barang due sen.”

Lama Kadir melihat kepada tukang es lilin itu. Mengejek katanya, “Sekarang ini tak ada yang berharga dua sen lagi. Barangkali sanyo, tak tahu aku.”

“Sedikit saja jadi, Bang. Penghilang-hilangkan lapar. Dari tadi es saja yang aku makan.”

Kadir berasa kasihan. Diusainya kacangnya, dicarinya yang kecil-kecil dan diberikannya beberapa buah kepada tukang es lilin. Tukang es lilin memberikan dua helai uang kertas, kotor seperti tukang arang, kepada Kadir. Satu demi satu kacang itu masuk ke dalam mulut tukang es lilin. Menyesal katanya, “Banyak yang tak berisi, Bang.”

Tercengang Kadir menjawab, “Banyak? Kan kuberikan tadi hanya empat buah kepadamu?”

Tanya tukang es lilin, “Bang dari mana?”

“Dari Bogor. Sekali sebulan baru pulang. Di sana menjadi kumico.”

Tukang es terkejut. Ia selalu berasa takut kepada kumico. Kumico dikampungnya selalu diberinya es lilin sebatang setiap hari. Ia takut, kalau-kalau kumico menahan pembagian beras kepadanya. Lemah lembut dan hormat katanya, “Jadi selama Tuan Kumico di Jakarta, siapa yang menggantikan?”

Kadir merah mukanya, mendengarkan ia dipanggil tuan itu. Sombong dijawabnya, “Anak saya, Binu. Lepas sekolah desa. Ia lebih pandai daripada aku. Aku tak pandai membaca dan menulis. Hanya kalau terdengar ada pembagian rokok Kooa aku buru-buru pulang ke Bogor. Bukan untuk mencatutkan Kooa itu, bukan. Aku takut, kalau-kalau pembagian itu tak beres jalannya.”
“Tuan Kumico, kalau orang seperti saya ini boleh jadi kumico atau tidak?”

Kadir mengerincutkan keningnya. Dengan suara seperti Saiko Sikikan katanya, “Tak tahu aku. Dulu mudah saja. Tapi sekarang ini susah juga. Tapi kudengar diumumkan di radio, bahwa pangkat sanyo sudah ditambah pula. Tentu akan lebih teliti penjagaan kepada kumico-kumico.”

Tanya tukang es lilin, “Sanyo itu apa, Tuan Kumico?”

“Tak tahu aku. Orang sekarang memakai perkataan yang susah-susah untuk pekerjaan tetek bengek.”

Seorang laki-laki mendekati merekam rambutnya kusut masai. Ia berbaju piyama dan bercelana dalam, tampak pahanya kecil seperti batang padi. Katanya “Kasi tiga sen.”

Tukang es lilin mengambilkan sebatang es lilin dan diberikannya kepada orang laki-laki itu. Marah kata orang laki-laki itu, “Tolol, bukan es maksudku. Kacang.”

Lambat-lambat Kadir menjawab, “Hanya es yang berharga tiga sen, Tuan.”

Orang laki-laki itu marah lagi dan katanya, “Mesti kasi. Engkau tahu sanyo sudah ditambah sekarang? Nanti kuadukan.”

Kadir gemetar ketakutan. Dipilihnya kacang yang kecil-kecil, diberikannya kepada orang laki-laki itu.

Kadir memberikan dirinya dan katanya, “Tuan , kalau boleh saya bertanya…sanyo itu apa sebenarnya.”

Orang laki-laki itu membuka sebuah kacang dan katanya, “Sanyo itu tuan besar orang Indonesia. Kepalanya…” orang laki-laki itu membuka sebuah kacang lagi, tak berisi. Marah dilemparkannya kulit kacang itu kepada Kadir dan keras-keras katanya, “Seperti ini, hampa.”

Orang laki-laki itu memberungut dan pergi. Kata Kadir kepada tukang es lilin, “Dari sekarang aku mesti mengetahui arti sanyo. Dipertakutnya saja aku dengan perkataan itu. Siapa tahu sanyo itu orang biasa saja. Tukang catut misalnya.”

Mengeluh kata tukang es lilin sambil melihat ke badannya, “Sekarang ini serba susah. Badan kita seperti es lilin saja. Bertambah kecil juga, akhinya habis menjadi air. Dilemparkan orang,”

Jawab Kadir, “Aku melihat dari jurusan lain. Kita sama dengan es lilin. Sama-sama digigit dan dihirup orang.”

Tukang es lilin menjawab, “Banyak jalan, kalau hendak pergi ke langgar.”

Dari radio umum keluar sekarang bunyi musik. Sangka Kadir lagu Nippon, tapi dipertengahan lagu itu kedengaran, “Ya, jiwa,”
Kadir bertepuk dan katanya, “Ah, enak ini. Keroncongan modern barangkali.”

Kadir dan tukang es lilin terkejut. Di mukanya sudah ada seorang laki-laki pula. Kata orang laki-laki itu, “Kacang sepicis, Bang.”

Lekas tangan Kadir menjangkau sehelai kertas dan dibungkusnya kacang sepicis. Gembira tanya kadir kepada orang laki-laki itu, “Tuan, boleh saya bertanya sedikit?”

Orang laki-laki itu tercengang dan jawabnya, “Boleh.”

“Yang hendak saya tanyakan ini, Tuan. Apa sanyo itu tukang catut?”

Orang laki-laki itu terkejut dan marah katanya, “Apa katamu? Engkau jangan menghina Dai Nippon, ya. Engkau tahu siapa ini? Mata-mata ini. Ayo mari ke kantor polisi. Jahanam.”

*Rubrik ini menampilkan tulisan lama yang menarik untuk diketik ulang. Secara berkala Rubrik Eceran Sayang akan dikerjakan sedikit-demi-sedikit demi dan untuk menjaga rasa sayang. Cerpen ini diketik ulang dari buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, koleksi perpustakaan Kineruku.

Advertisements