Putusnya Waktu Bersama Pak Syarif

by arhamrahmat

 

(Sumber foto: Google)

(Sumber foto: Google)

Sehabis pulang sekolah sewaktu SD, seringkali saya menghabiskan waktu bermain di sebuah bengkel tambal ban di samping depan halaman rumah. Bengkel berukuran sekitar 2×3 meter itu milik Pak Syarif, sosok yang saya akrabi dari kecil kalau sepeda saya punya keluhan. Tubuhnya mungil untuk ukuran dewasa, rambut klimis disisir ke kanan dengan bau tanco yang menyengat, kulitnya yang hitam legam mungkin karena kesehariannya di bengkel. Pak Syarif gemar mengenakan celana berbahan wol dengan kaos tipis berkerah. Belum pernah sekalipun saya melihat dia mengenakan celana pendek sewaktu bekerja.

Selain sejuk karena pohon mangga dari rumah saya menjuntai menutupi seng bengkel Pak Syarif, saya senang melihat beliau sibuk membongkar ban mobil – untuk ditambal – dengan hidroliknya; membubuhkan lem di atas ban motor; atau menyalakan kompresor yang suaranya sungguh bising – saking bisingnya orang-orang di bengkel itu harus teriak jika ingin bercakap. Cekatan sekali tangannya dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Kadangkala juga saya duduk di bangku kayu sekedar membaca koran murah langganannya yang isinya kebanyakan seputar pembunuhan sadis dengan judul bombastis.

Jika sedang tidak sibuk, biasanya Pak Syarif menjawab pertanyaan saya jenis-jenis kunci apa yang dipakai kalau ingin memperbaiki sepeda atau motor. Di antara semua jenis kunci yang diberitahunya, saya masih terkenang ketika pertama kali tahu ada jenis kunci yang namanya kunci Inggris. Saya membayangkan jangan-jangan ada nama kunci negara lain selain yang disebutkan.

Dengan senyum yang hangat, istri Pak Syarif  membawakan rantang besi berisi menu 4 sehat bila waktu makan siang tiba. Saya biasanya jadi lapar lagi melihat khidmatnya Pak Syarif mengunyah sayur kangkung atau mencium bau ikan goreng yang dilahapnya beserta nasi. Pak Syarif mencuci tangannya sebersih mungkin sebelum makan, hingga nyaris tidak tersisa bekas oli menempel di tangannya, meskipun kalau saya perhatikan bekas oli itu masih tertinggal di sela-sela kukunya. Menunggu Pak Syarif menandaskan makan siangnya jadi bagian dari keseharian istrinya. Pemandangan romantis setiap kali saya ada di sana.

Setelah beranjak dewasa, saya masih suka menyempatkan diri ke bengkel Pak Syarif untuk sekedar salaman atau ngobrol bila pulang ke Makassar, beliau biasanya mengatakan, “Sekarang kau sudah besar ya! Saya masih ingat dulu kau masih main-main di sini, bongkar-bongkar sepeda atau pompa ban sendiri.“ Kalimat yang dilontarkannya seakan-akan saya masih tetap seorang anak kecil yang sehabis pulang sekolah bermain-main di bengkelnya sampai sore hari.

Pikiran ini lalu memunculkan dugaan bahwa ada waktu atau masa yang secara samar putus bagi diri saya dan Pak Syarief . Waktu itu adalah masa-masa di mana saya disibuki dengan hal-hal menarik di lingkungan sekolah – sejak SMP sampai SMA – dan dilanjutkan kuliah di Bandung. Masa-masa yang membuat saya merasa begitu jauh dengan sosok Pak Syarief meski secara fisik hanya beberapa langkah dari rumah. Saya hanya ke bengkelnya jika ada sesuatu yang diperlukan, seperti menambal ban motor atau meminjam peralatan bengkelnya. Menanyakan kabar pun bukan sesuatu yang penting karena melihatnya secara langsung dari halaman rumah dan melemparkan senyum jadi tanda kalau beliau baik-baik saja.

Wajar kemudian jika Pak Syarif memberikan pernyataan tersebut kepada saya, beliau tidak merasa kalau saya sudah beranjak dewasa. Seyuman yang kami lemparkan satu sama lain dari kejauhan jadi tanda bagi kami bahwa tidak ada yang berubah. Rasa Pak Syarif terhadap saya masih tetap rasa seorang anak kecil yang sering menghabiskan waktu di bengkelnya. Saya pun merasa demikian, Pak Syarif masih seperti yang saya kenal sewaktu kecil. Padahal secara tidak sadar setiap waktu orang berubah. Mungkin saya tidak memperhatikan ubannya yang telah tumbuh atau rambutnya yang tidak lagi diolesi tanco. Rasa Pak Syarif bagi saya tetaplah orang yang sama, orang yang tidak pernah berubah sedikit pun. Tidak ada yang statis, kita hanya merasa berjalan di tempat yang sama, kenyatannya tidak sama sekali.

Terakhir saya ketemu dengan Pak Syarif ketika lebaran tahun lalu. Beliau bertamu di rumah sehabis Shalat Id. Baru saya sadari sosoknya kali ini begitu kurus, bibirnya pucat, dan guratan senyumnya hambar. Mama mengatakan kondisi Pak Syarif jadi begitu setelah istrinya sudah tiada. Tidak ada lagi yang mengantarkan rantang dan menungguinya selesai makan siang. Bengkelnya banyak diurus oleh anaknya, sesekali saja beliau datang untuk mengecek. Jika kondisinya membaik, Pak Syarif sanggup menambal ban motor meskipun tangannya melambat sudah tidak cekatan seperti dulu lagi.

Kesadaran yang diberikan kepada saya nampaknya masih kurang sampai harus dihentakkan lagi oleh kesadaran lain.

“Asww, Pak Syarif tukang tempel ban di depan rmh meninggal dunia jam 7 pagi tadi hari ini.” Pesan singkat itu datang dari bapak sehabis saya makan siang di tanggal 17 Maret 2014. Pak Syarif telah tiada. Waktu kami sudah terputus selamanya di dunia.

 

Advertisements