Siasat Zine Di Era Informatika

by arhamrahmat

jalantikus

Hari-hari ini mudah mengidentifikasi webzine yang muncul dengan menyajikan informasi bersifat khusus atau kadang eksklusif: mereka punya kalangan pembaca sendiri; sarat dengan hal-hal yang berbau anti arus utama; memberikan tempat kepada musik yang menurut mereka bagus namun jarang atau bahkan tidak pernah dibahas; atau menghilangkan hal-hal yang tabu dengan tulisannya, seperti pemikiran “kiri” misalnya. Kata obscure maupun cult jadi sesuatu yang seksi. Webzine yang baik kemudian mempunyai basis data dan riset dengan kemampuan menuangkan pikiran secara bernas dalam tulisan. Permulaan dari webzine sendiri adalah zine. Media yang dicetak secara fisik dengan memuat bahasan tulisan tertentu dan diedarkan dengan terbatas untuk kalangan tertentu.

Kemunculan zine sendiri sudah menyita perhatian sejak pertama kali muncul pada 1970an di Amerika yang saat itu dilanda krisis ekonomi sehabis perang. John Leland dalam buku Hip: the history menuliskan,

The urban collapse of the 1970s, which hollowed out inner-city-neighborhoods like the East Village and the South Bronx, bred the fourth hip convergence, which filled the vacant spaces with do-it-yourself, or DIY, media: punk, hip-hop music, graffiti, break dancing, skateboarding and zine explosion.

Tidak begitu mengherankan sebenarnya jika zine atau pun webzine identik dengan kata “beda dan unik”. Zine bagian dari generasi hip. Mulai dari beda tentang tulisan yang diangkatnya; siapa saja pembacanya; bahkan jangan mengharapkan terbit rutin karena itu akan sia-sia. Inilah juga yang menjadi jawaban mengapa zine atau webzine sekarang masih tetap ada. Mereka selalu datang dengan kebaruan-kebaruan yang tidak banyak orang atau pembaca pikirkan. Kebaruan-kebaruan yang sifatnya apa yang mereka yakini dan pantas untuk banyak orang mengetahuinya.

Seperti yang dilakukan Primitf Zine misalnya dengan menuliskan konteks sosial musik atau menyoal tentang scene musik. Zine yang hadir akhir tahun 2009 ini diinisiasi oleh Dimas dan Manan. Webzine ketika itu sudah mulai banyak bermunculan seperti Jurnalica, Geeks Bible, dll. Layaknya zine era 90-an, Primitif Zine bersifat fisik dan disebar melalui acara-acara yang mereka kunjungi. Provoke dan fanzine Efek Rumah Kaca “Di Udara” adalah role model-nya.

“Edisi pertama kita gak ngomongin konsep secara detail. Pokoknya bikin zine, fotokopian, dan beberapa tulisan seperti review gigs, scene report. Itu standar di zine punk hardcore yang sudah jarang ditemui.” ungkap Manan. Terbitnya edisi pertama Primitif Zine didengar oleh Fajri Siregar yang memberikan masukan agar lebih diperlebar pembahasaannya. Edisi pertama sampai ketiga Primitif Zine berjumlah 200 eksemplar.

Jebakan dari zine yang dicetak fisik secara fotokopian adalah tidak semua orang punya minat untuk membacanya, meskipun itu dibagikan secara gratis di gig. “Gak enaknya, habis dibagiin bisa diduduki, dijadiin tutup nasi.” kata Manan yang diperjelas oleh Dimas, “Yang paling mengharukan ngasih ke salah satu idola, terus waktu itu lagi gerimis. Zine-nya dijadiin penutup nasi.” Namun, “intinya zine, bikin dulu aja,” sambung Manan. Mereka juga melebarkan ruang penulisannya ke primitifzine.net. Uniknya, mereka tidak memikirkan siapa saja pembaca Primitif Zine, “pembaca adalah sesuatu yang dikhayalkan,” tukas Manan. Karena gimmick itu mereka juga tidak pusing memikirkan dan menerbitkan jumlah edisi yang baru menyentuh angka 10.

Primitif Zine yang dikerjakan secara santai dan menyenangkan selalu mengarsipkan apa yang mereka sudah buat. Sepuluh edisi yang sudah diterbitkan tersebut, masing-masing punya satu soft copy. Satu hal yang saat ini masih kurang dilakukan di Indonesia. Menurut mereka, semua orang bisa membuat zine dan itulah celahnya zine karena membuatnya juga mudah. Mengabarkan dan menyebarkan apa yang orang awam tidak banyak mengetahui merupakan poin penting mengapa zine itu ada.

Semangat demikian menurun pada Disorder. Webzine yang berisi kumpulan penulis muda dengan muatan utama menerbitkan artikel-artikel musik secara mendalam. Raka, Zaka, dan Adit adalah tiga orang pemuda berusia 20-an yang punya kesamaan ingin mengelola webzine sendiri dan menerbitkan tulisan-tulisan yang selama ini jarang dibahas di wearedisorder.net. “Edisi pertama ngangkat Poster Cafe. Narasumber dari penggiat di sana dulu, seperti Taba ‘Pestol Aer’, Edo Wallad, Ondy ‘Young Offender.’” ungkap Zaka. Artikel yang muncul dan beredar di jaringan media sosial ini rencananya akan dikembangkan menjadi sebuah trilogy tentang scene musik Jakarta 1990an: Poster Cafe, BB’s Cafe, dan Park Cafe. Disorder sendiri menurut Raka sebagai media ekspresi. “Fungsi zine adalah mengangkat apa yang penting bagi diri lo sendiri.” Pengadopsian semangat zine terasa jelas ketika mereka menganggap menganggap bahwa zine itu sebagai media alternatif, ekspresi, dan citizen journalism. Menulis hal-hal di luar musik yang tetap berkaitan dengan seni adalah siasat Disorder agar tidak terkesan dengan webzine lainnya. Webzine juga menyoal tentang konsisten, baik itu dari segi bahasan tulisan, tampilan visual, maupun lainnya.

Selain konsisten dan konten yang disajikan, masalah klasik dari zine atau webszine adalah pembiayaan; cetak fisik atau server website. Apalagi kebanyakan zine itu gratis. Sampai saat ini cara paling ampuh untuk pemecahan masalah tersebut menggunakan uang pribadi dari para editor atau pengelola agar apa yang mereka kerjakan ini tetap langgeng. Sebuah cara yang juga tidak kalah klasiknya. Primitif Zine dan Disorder mengaku masih menggunakan cara tersebut.

***

Berbeda dengan Primitf Zine dan Disorder yang punya porsi besar pada tulisan mengenai musik. IndoProgress lebih kepada hal yang bersifat pemikiran “kiri”. Webzine yang dimulai dari blog tahun 2000an oleh Coen Pontoh, Roy Septa, dan Martin Manurung. Tahun 2010 berubah menjadi indoprogress.com dengan jumlah redaksi 20 orang yang terdaftar di luar kontributor. “Arahnya sekarang ingin menghidupkan kembali pemikiran kiri. Mungkin sudah ada beberapa website atau media lain yang mencoba setelah 1998. Cuman kiri-nya IndoProgress itu spesifik. Kita ingin memperkenalkan Marxisme sebagai metode pemikiran.” ucap Windu, salah satu editor bersama Berto Tukan dan Manan Rasudi yang juga orang dibalik Primitif Zine.

Selain itu ada Eltri yang merupakan akronim dari Lingkar Trisakti, webzine yang menjadi sayap penerbitan koran atau zine Bakti. Secara khusus, Anom Astika, pemimpin redaksi Eltri menjelaskan tentang Eltri sebagai media alternatif untuk menyebar gagasan-gagasan Trisakti yang diusung Jokowi. Sebuah media yang punya keberpihakan politik dengan tujuan menjadi simpul-simpul pendukung Jokowi yang diarahkan ke 60 kota. Oplah Bakti sendiri sekitar 20.000 eksemplar.

Kedua webzine tersebut dengan cerdas menerjemahkan pemikiran sebuah mazhab atau politiknya melalui tulisan-tulisan yang bersifat mendobrak. IndoProgress setiap minggu dengan rutin menerbitkan tulisan baru. “Diusahakan setiap minggu selalu muncul tulisan. Ada juga rubrik yang muncul per bulan. Dengan sistem kerja seperti itu tulisan selalu ada,” Berto menjelaskan. Salah satu rubrik yang cukup menyorot perhatian pembaca adalah Logika, rubrik yang berisi tentang teori Marxisme yang berangkat dari kegelisahan Martin Suryajaya, pengasuh rubrik tersebut. IndoProgress yang memanfaatkan metode “siapapun boleh mengirimkan tulisan” secara tidak langsung menjadikan laman ini terbuka bagi siapa saja yang ingin tertarik dengan Marxisme.

Tidak berhenti sampai di situ, mereka juga membuat jurnal bersama penerbit Resist Yogyakarta. “Sudah terbit tiga kali (jurnal) yang diambil dari kumpulan tulisan di website. Di jurnal ini kriteria tulisannya beda dan memang lebih banyak ilustrasi dibanding teks.” lanjutnya. Porsi ilustrasi diperbanyak pada edisi fisik ini dikarenakan IndoProgress kekurangan kontribusi pada bidang visual. Berto mengatakan, “karena kami bertiga berfokus pada LKIP (Lembar Kebudayaan IndoProgress).” Dari segi pembiayaan website IndoProgress, mereka punya cara yang cukup jitu dengan menggunakan donasi seperti model kick starter. Sebuah model pembiayaan yang berasaskan timbal balik berupa t-shirt misalnya, tidak beda jauh dengan model crowdfunding.

Agak sejalan dengan IndoProgress, Eltri pun rutin menerbitkan tulisan-tulisan dengan “memanfaatkan jaringan prakarsa rakyat yang selama ini diorganisir oleh lembaga praksis dan menggabungkan dengan tema-tema aktivis di daerah,” ucap Anom. Lebih lanjut dia juga mengajak bagi siapapun untuk menulis sesuai dengan platform Trisakti. “Banyak yang kami terima tulisan tapi karena keterbatasan ruang maka kami membuat website lingkartrisakti.org.” Selain berisi tulisan dan konten lainnya, website ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan koran Bakti berformat PDF. “Tujuannya adalah mendorong teman-teman di daerah untuk mencetak sendiri.”

Menarik kemudian melihat bagaimana kiprah Anom dkk. dalam memobilisasi gerakan sebagai pendukung Jokowi di pilpres. Dia menyatakan bahwa Eltri lebih melihat kepada kondisi pendukung Jokowi yang kurang mendapatkan bahan-bahan politik. Dengan media tersebut diupayakan ada penyajian tulisan yang bisa masuk ke masyarakat. “Sejauh ini responnya cukup menarik. Yang meminta koran Bakti ini mulai dari kalangan aktivis ataupun juga kalangan pengusaha.” katanya. Kecenderungan itu pun terlihat pada IndoProgress yang menitikberatkan pilihannya ke Jokowi. Partisipasi melalui tulisan banyak yang bermunculan.

Anom juga menegaskan Eltri tetap akan terbit setelah pemilihan presiden tanggal 9 Juli 2014. “Kalaupun Jokowi menang, dia (Eltri) akan menjadi barikade propaganda untuk menjelaskan program-program Jokowi. Kalaupun kalah, dia pun akan tetap jadi barikade untuk kepentingan masyarakat.” ucapnya. Dan sekarang kita sudah tahu bahwa arah Eltri akan kemana nantinya.

Fenomena zine atau webzine ini tak bisa juga dilepaskan sebagai produk kebudayaan “Me Me Me Generation”. Generasi yang menyimbolkan dirinya selalu melawan arus utama dengan siasatnya. Selalu menggali pengetahuan dan pengalaman yang nantinya akan disebarkan ke orang banyak sebagai konsumsi. Bahwa berbeda itu tidak masalah selama masih menarik perhatian dan memberi pengaruh kepada orang lain. Keempat zine atau webzine di atas adalah beberapa contohnya. Bergerak dengan apa yang mereka yakini; menjadi distraksi untuk media arus utama; memanfaatkan era informatika sebagai penyebarluasan informasi. Seperti itulah siasat zine di era informatika ini.

Tulisan ini pertama kali dimuat di jalan-tikus.org

Advertisements