Videodrome (David Cronenberg, 1983)

by arhamrahmat

Videodrome - 3

(Sumber foto: Google)

David Cronenberg gemar membiarkan manusia melakukan hal-hal tidak normal dan umum dalam setiap filmnya. Mungkin baginya, manusia memang selalu dipenuhi dan akan sangat susah lepas akan hasrat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi bahkan melampaui mesum dan jorok itu sendiri. Hal-hal itu ditambah dengan komedi satir yang diperagakan lewat tubuh sebagai unsur eksternal. Videodrome di satu sisi adalah kisah science fiction horor tentang transformasi realitas manusia, di sisi lain merupakan sebuah tingkah laku atau sindirian terhadap masyarakat modern dalam memahami moda teknologi yaitu televisi dan video. Seorang pebisnis video bernama Max menyadari bahwa kunci dari bisnis ini memberikan tontonan apa yang orang-orang inginkan, tidak peduli apakah itu melanggar norma atau tidak. Pemikiran itu didasarkan pada tayangan acak yang ditontonnya menampilkan video kekerasan seksual yang ternyata dinikmati dan jadi fetish oleh beberapa orang. Tayangan yang awalnya disangka Max dipancarkan dari satelit televisi swasta Malaysia, ternyata terjadi di area Pittsburgh. Nicki adalah perempan yang punya daya rangsangan kuat bagi tiap laki-laki dan Max jadi salah satu obyek yang dipermainkan hasratnya oleh Nicki lewat peragaan-peragaan yang membuat dirinya sakit, namun dinikmati (mematikan rokok di dadanya jadi salah satu contohnya). Dua hal itu disatukan dalam satu kanal bernama Videodrome – nama acara yang menampilkan adegan kekerasan seksual itu. Max tidak terjebak di sana, dia memang sengaja menghampiri hal itu sama dengan penonton televisi yang secara tidak sadar sudah terhipnotis dengan keterpukauan apa yang ada di belakang layar itu, tidak sadar sudah menjadi korban. Di sini Cronenberg menampilkan hal itu secara banal, kasar, dan horor: saat di mana realitas manusia berbaur dengan apa yang dikonsumsinya lewat televisi dan video bahkan bagaimana realitas kedua piranti itu mengendalikan realitas manusia. Max bergerak sesuai dengan apa yang diperintahkan kaset Videodrome, dia mengalami delusi dan halusinasi, serta merasakan Videodrome adalah realitas aslinya. Hari-hari yang kata Jean Baudrillard adalah simulakra (sebuah realitas yang tidak lagi menampakkan keasliannya dan hanya ilusi yang menghadirkan keaslian). Opsi yang seolah ditawarkan film ini untuk lepas dari hal itu adalah dengan membakar piranti itu yang nampak pada akhir film. Karena seperti kata Brian O’Blivion di film ini, “The television screen is the retina of the mind’s eye. Therefore, the television screen is part of the physical structure of the brain. Therefore, whatever appears on the television screen, television is reality and reality is less than televison.

Advertisements