Keganjilan Perempuan Dalam Tubuh Mia Wasikowska

by arhamrahmat

Mia-Wasikowska-widescreen-hd-wallpapers

(Sumber foto: Google)

I liked the idea of playing a perky psychopath.[1] Itulah ucapan Mia Wasikowska setelah merasakan dirinya sebagai Agatha Weiss di Maps To The Stars (2014). Film drama sindiran untuk Hollywood yang digarap David Cronenberg, seorang sutradara yang senang mengumbar hal-hal fetish dalam film-filmnya secara vulgar, kasar, dan menguji psikologis penonton. Mia sebagai Agatha Weiss adalah seorang perempuan lembut, namun punya sifat destruktif yang tersimpan rapih dan begitu menakutkan saat hal itu keluar. Cronenberg memainkan Agatha sebagai perempuan polos dengan luka bakar samar di bagian pipi. Sepanjang lengan hingga tangan kirinya ditutupi dengan baju berlengan panjang dan kaos tangan untuk membuat dirinya normal tapi disaat bersamaan perasaan depresi mengelilinginya, sadar bahwa dirinya bukanlah perempuan yang normal. Satu tahun sebelumnya, Park Chan-wook yang kerap memainkan humor gelap dengan brutal lewat episode pembalasan dendam, mengajak Mia bermain film. Stoker (2013) – film perdana Park Chan-wook di luar Korea Selatan – menampilkan Mia sebagai India, perempuan yang ketaknormalannya setipe dengan Agatha. Film tersebut secara punya elemen Psycho-nya Hitchcock, seperti koleksi pajangan burung, motel yang jauh dari keramaian, dan bahkan ada adegan shower India, debut telanjang Mia di depan kamera.[2]

Apa yang dimainkan oleh Mia dalam dua film tersebut adalah peran-peran gila mengganggu yang membuat si karakter tersisih dalam wacana kemasyarakatan. Michel Foucault, pemikir yang tertarik pada hal-hal yang ditolak dan dilanggar, pernah menuliskan bahwa kegilaan selalu dilarang di tempat yang kita kenal sebagai “bangsa maju”. Meskipun penyebutan “kegilaaan” itu memang kasar, salah satu hal yang Foucault pelajari adalah kegilaan yang ada dalam masyarakat di negara mereka – yaitu gangguan mental seperti neurosis obsesif, paranoia, dan skizofrenia – sebenarnya terdapat juga pada masyarakat primitif. Foucault menemukan refleksi atas kondisi bahwa orang gila ada dalam penghargaan terhadap suatu permainan di masyarakat industri. Dia mengambil contoh salah satunya pada Abad Pertengahan, dimana terdapat banyak festival dan di antara festival itu hanya ada satu festival yang tidak religius, yaitu Festival Kebodohan: aturan sosial dan tradisional dijungkirbalikkan (orang miskin memainkan peran orang kaya, seorang yang lemah namun begitu berkuasa, perilaku seks dibalikkan, larangan seksual dihilangkan.)[3]

Menurut Foucault pengobatan orang gila ini terjadi cukup terlambat dalam sejarah dan tidak memberikan hasil yang menimbulkan suatu pengaruh yang besar. Tampak bahwa pada dasarnya status orang gila itu tidak terlalu berbeda di antara masyarakat primitif dan masyarakat maju[4]. Salah satu adegan yang bisa menggambarkan hal itu adalah saat Agatha memukul kepala Havana Segrand (Julianne Moore) dengan piala Oscar-nya, tidak lama setelah dirinya mengolok-olok Agatha sebagai perempuan yang serba kekurangan. Atau saat India meregang nyawa pamannya dengan sniper setelah mengetahui dialah yang membunuh ayah India dan berselingkuh dengan ibunya. Peran Mia tersebut menunjukkan tidak adanya ketegangan berarti antara masyarakat maju dan masyarakat primitif, karena sifat-sifat primitif itu masih ada di sekitar dan mungkin kita salah satu yang mempunyai sifat itu.

Auteur lain yang menambah keganjilan peran Mia adalah Jim Jarmusch lewat film kisah cinta vampir Only Lovers Left Alive (2013). Di situ Mia tampil sebagai Eva, vampir perempuan genit yang kerjanya bikin rusuh dan mengganggu kehidupan cinta kakaknya Eve (Tilda Swinton) bersama Adam (Tom Hiddleston). Kecenderungannya untuk bermain dengan para sutradara yang punya ciri masing-masing ini diungkapkan Mia karena dia memang penggemar film, jadi perkara mudah untuk memutuskan ketika ada tawaran seperti dari Jarmusch atau Cronenberg[5]. Apa yang dilakukan Mia dalam film-filmnya adalah upaya untuk melakukan sebuah penampilan, penghadiran dan manifestasi atau penyingkapan (disclosure) belaka. Jean Luc-Nancy salah satu pemikir yang menghubungkan sinema dan filsafat mengatakan bahwa penampilan satu sama lain tak pernah habis, terus-menerus berbeda, tanpa sudut pandang tunggal yang dapat merangkum keseluruhannya karena penampilan itu multiple, berganda-ganda, dan menyebar.[6]

Di umur 14 tahun Mia Wasikowska tiba-tiba berhenti menari balet karena tidak percaya akan fisiknya[7]. Dia memberitahukan kepada ibunya yang juga penggemar film-film Eropa ingin bermain film dan mendapatkan peran pertamanya untuk film pendek I Love Sarah Jane (2008) di umur 18 tahun. Anak kedua dari tiga bersaudara yang lahir di Australia 14 Oktober 1989 ini mengakui dirinya sebagai pribadi yang tertutup sejak sekolah dan tidak banyak membuat pertemanan. Kedua orangtuanya adalah fotografer, nama Wasikowska didapatkan dari ibunya keturunan Polandia yang pindah ke Australia di umur 12[8]. Mia tidak pernah tahu atau mengenal orang dengan masa remaja yang populer dan menurutnya akan lebih menarik mempelajari hal-hal yang tidak berujung pada keterpsenoaan atau elegan. Tim Burton memperkenalkan Mia sebagai aktris muda yang punya potensi dengan peran-peran perempuan ganjil lewat wajah polosnya melalui Alice in Wonderland (2010). Wajah Mia selayaknya wajah perempuan yang punya kesan biasa sewaktu pertama kali melihatnya di film itu. Tapi saat percobaan kedua kali dan seterusnya, bukan hanya wajahnya yang menarik, tapi juga gestur dan gaya bicaranya dalam setiap peran-perannya di film yang membuatnya terasa beda dan unik tapi tidak terlalu menarik perhatian untuk aktris seumurannya.

The Kids Are Alright (2010) disutradarai Lisa Cholodenko – perempuan yang punya minat dengan isu lesbian sejak film pertamanya High Art (1998) – menempatkan Mia sebagai perempuan 18 tahun bernama Joni yang mempunyai orangtua yang lesbian. Joni mengalami masa-masa dimana dia mencari tahu siapa pendonor sperma yang membuatnya lahir, hubungan yang terus dijaga dengan adik laki-lakinya, hingga hubungan orangtuanya yang hampir bercerai karena salah satu dari mereka berselingkuh dengan laki-laki yang mendonorkan spermanya. Mia juga merasakan sebagi Jane, seorang perempuan muda abad 19 yang rapuh dan tidak pernah mengenal cinta sejak kecil. Jane Eyre (2011) film yang disutradarai Carry Fukunaga ini membawa Mia pada keterasingan rasa cinta dan kebahagiaan yang diambil dari novel Charlotte Bronte. Sekali-kalinya Jane merasakan cinta dan ingin mendekati kebahagian ia merasakannya pada pria dewasa yang usianya jauh berbeda. Di bagian lain, Jane secara tidak sadar menolak cinta kepada St. John yang menyelamatkan nyawa perempuan itu. Mia meleburkan dirinya sebagai Jane yang terus mencari definisi cinta yang seakan tidak ingin didekati. Film lain yang mempertautkan Mia dengan hal-hal seperti itu muncul lagi di Restless (2011). Gus Vant Sant mempertemukan Annabelle seorang perempuan remaja penderita kanker yang hidupnya tinggal 3 bulan lagi dengan laki-laki sebayanya Enoch (Henry Hooper) yang punya obsesi kematian sejak orangtuanya tewas dalam kecelakaan mobil dan berteman dengan seorang hantu tentara Jepang bernama Hiroshi.

Sementara Richard Ayoade tertarik memainkan Mia sebagai Hannah di The Double (2013) yang merupakan objek hasrat Simon (Jesse Eisenberg) secara diam-diam. Film yang didasarkan dari novel Fyodor Dostoevsky ini merupakan kisah distopia cinta dan kehidupan modern. Aura film yang sepi dengan gambar-gambar temaram, lampu minimalis, furnitur modern, dan punya rasa Orwellian saat melihat orang-orang kantoran secara seragam duduk di depan mejanya menyelesaikan pekerjaannya dengan bantuan sistem teknologi dan tepat waktu. Membuat orang-orang ini seperti tidak punya perasaan dan digerakkan oleh sistem, namun di tempat lain Simon tidak dapat menutup hasratnya kepada Hannah. Perkembangan hasrat yang secara tidak sadar memunculkan dua orang Simon (doplegaenger) dan merupakan pertentangan antara Simon yang menyadari realitasnya sebagai pribadi yang kaku dan tertutup dan Simon yang punya selera humor, mempesona, dan mudah bergaul dengan rekan sesama kantornya. Madan Sarup mengatakan bahwa hasrat muncul ketika pemenuhan kebutuhan tidak memuaskan, ketika muncul keraguan atau kesenjangan yang tidak dapat ditutup[9]. Karena hasrat muncul dari kesenjangan ini maka mendorong manusia untuk memunculkan permintaan lain yang merupakan perkembangan hasrat. Adegan-adegan di film ini penuh dengan ambiguitas dan teka-teki hasrat antara kekakuan Simon menghadapi Hannah sebagai perempuan yang punya daya misterius kuat dan kelenturan Simon yang membuatnya mudah mengeluarkan kata-kata gombal bahwa mereka sama-sama punya kesendirian yang bisa disatukan. Jika Simon “yang lain” adalah ketidaksadaran dirinya, maka Lacan melihat ketidaksadaran merupakan “kebenaran”, otensitas[10]. Di bagian akhir film saat Simon terjun bebas untuk bunuh diri dari apartemen Hannah setelah meneleponnya, sesuai dengan yang diyakini Lacan bahwa ketidaksadaran tidak dapat menjadi objek pengetahuan; ego memproyeksikan dirinya sendiri dan gagal menyadari dirinya sendiri. Pengetahuan-diri (self-knowledge), yakni konsep bahwa diri dapat merefleksikan dirinya sendiri, sama sekali tidak mungkin.[11]

Secara samar bisa terangkai peran-peran Mia sebagi sebuah montase. Marcus Boon menganggap bahwa kegiatan montase adalah praktik dari feminis yang dibayangkan adalah reproduksi seksual. Namun, mengapa tidak dikatakan itu sebagai montase, karena potongannya terjadi terlalu lamban; atau tidak tampak; atau dengan derajat kompleksitas yang terlalu besar, dalam cara yang terlalu kecil, dan simultan[12]. Montase itu lalu berhubungan dalam peran-peran Mia yang menjadikan laki-laki sebagai objek tatapan perempuan. E. Ann Kaplan mengungkapkan bahwa perempuan mengambil peran maskulin dalam film sebagai pembawa tatapan di film-film Hollywood awal tahun 1980an. Kaplan mengamati bahwa di dalam peran ini, perempuan selalu kehilangan karakteristik ‘feminin’ tradisionalnya, misalnya garis keibuan, keramahan, dan lain-lain yang mengadopsi karakteristik ‘maskulinis’ yang menyangkal feminitasnya[13]. Namun, secara tidak sadar ada penyamaran yang sebenarnya bermain dalam penyangkalan itu. Saat Mia bermain sebagai Robyn di Tracks (2013) film biopic yang menceritakan sembilan bulan perjalanan Robyn bersama onta di padang pasir Australia itu adalah salah satu bentuk penyamaran untuk menyangkal feminitasnya. Stephen Heath merangkum bahwa seorang perempuan mengidentifikasikan diri sebagai seorang laki-laki – menerima identitas maskulin – dan kemudian mengidentifikasi dirinya sendiri betapapun sebagai seorang perempuan – memungut identitas feminin. Posisi tersebut merupakan posisi yang kompleks; ‘penyamaran’ berada di dalam ranah perempuan, tapi telah dirampas oleh laki-laki[14]. Pada akhirnya penyamaran merupakan representasi feminitas, namun feminitas adalah representasi, representasi dari perempuan.

Penyamaran identik dengan metafor. Kata “metafor” yang pertama kali dirumuskan Aristoteles dalam Poetika mengatakan bahwa “metafor terdapat dalam pemberian nama yang sebetulnya milik sesuatu yang lain; transferensi dari genus ke spesies, atau berdasarkan analogi.”[15] Dengan kata lain metafor adalah bentuk ekspresi yang asing dan merupakan transposisi dari ekspresi bahasawi yang lebih orisinal, yakni makna literal atau pengertian harfiah (propen) dari suatu benda.[16] Metafor lekat dengan permainan yang bukan cuman bahasa melainkankan hubungan antara manusia, dirinya, dan alam untuk mendekati atau usaha menyingkap kebenaran yang tanpa usai. Mia mengatakan dalam satu wawancaranya, “I don’t know. It’s hard. I’m still learning how to find a balance between my film life and my home life because I don’t want to feel like I have two lives.[17] Secara tidak sadar dia sudah menarik metafor dalam hubungan dirinya dan peran-perannya yang juga sama dengan hubungan manusia dan alam yang tidak pernah diketahui polanya secara pasti. Manusia menjadi kreatif oleh sebab didorong kebutuhan-kebutuhannya, atau akibat kegemarannya bermain-main dengan bakatnya yang memang berlebih, terutama kecenderungannya menciptakan simbol, dalam metafor kita melihat sesuatu dari sudut yang lainnya[18]. Dari sudut inilah dapat dikatakan bahwa kita ini bagi diri sendiri hanyalah “penampilan” – seperti diungkapan Jean-Luc Nancy di atas – yang memahami dirinya melalui yang “bukan dirinya” tapi lewat metafor. Kenyataan bahwa manusia merupakan makhluk yang serba tak lengkap dan bahwa rasionalitas manusia itu kendati canggih, tak pernah bisa dianggap sebagai cermin murni kenyataan, dan karena itu ia bukanlah sarana yang serba mampu dan memadai.[19]

Montase dari karakter-karakter Mia Wasikowska tidak akan pernah lengkap dan akan terus menerus coba memahami dirinya di dalam peran-perannya, akan bertambah tapi tidak akan selesai. Mia dalam setiap filmnya punya kompleksitas yang tidak pernah tetap, kecuali menuju keganjilan-keganjilan perempuan yang lain.

[1] http://www.ellecanada.com/celebrity/celebrity-spotlight/the-fearless-mia-wasikowska-is-taking-over-hollywood/a/91147#.VQAHWXyUeSr (diakses terakhir 11 Maret 2015).

[2] http://www.telegraph.co.uk/culture/film/starsandstories/9902562/Stokers-Mia-Wasikowska-interview-Its-a-weird-love-triangle-between-a-mother-an-uncle-and-a-daughter….html (diakses terakhir 11 Maret 2015).

[3] Michel Foucault, Pengetahuan & Metode Karya-karya Penting Foucault, penerj. Arief (Yogyakarta: Jalasutra, 2009; diterbitkan pertama kali 2002), hal. 111-112.

[4] Ibid., hal. 115

[5] http://www.indiewire.com/article/mia-wasikowska-on-having-three-films-at-tiff-and-why-she-stuck-to-indies-following-alice-in-wonderland (diakses terakhir 11 Maret 2015).

[6] Dikutip dari Bambang Sugiharto, Untuk Apa Seni? (Bandung: Matahari, 2013), hal. 332.

[7] http://www.telegraph.co.uk/culture/film/starsandstories/9902562/Stokers-Mia-Wasikowska-interview-Its-a-weird-love-triangle-between-a-mother-an-uncle-and-a-daughter….html (diakses terakhir 11 Maret 2015).

[8] Ibid.

[9] Madan Sarup, Posstrukturalisme dan Posmodernisme, Sebuah Pengantar Kritis, penerj. Medhy Aginta Hidayat (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2003) hal. 30.

[10] Ibid., hal. 18.

[11] Ibid., hal. 18.

[12] Marcus Boon, Memuliakan Penyalinan, penerj. Lusiana Sari, dkk. (Yogyakarta: KUNCI Cultural Studies Centre, 2013), hal. 179.

[13] Dikutip dari Ann Brooks, Posfeminisme & Cultural Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif, penerj. S. Kunto Adi Wibowo (Yogyakarta: Jalasutra, 2009; diterbitkan pertama kali 2005) hal. 256.

[14] Ibid., hal 260.

[15] Dikutip dari Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1996) hal. 102.

[16] Muhammad Al-Fayyadl, Derrida, (Yogyakarta: LkiS, 2012; diterbitkan pertama kali 2005) hal. 154.

[17] http://www.ellecanada.com/celebrity/celebrity-spotlight/the-fearless-mia-wasikowska-is-taking-over-hollywood/a/91147/3#.VQFylXyUeSp (diakses terakhir 11 Maret 2015).

[18] Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1996) hal. 111.

[19] Ibid., hal. 120

Advertisements