The Seventh Seal (Ingmar Bergman, 1957)

by arhamrahmat

(Sumber foto: Google)

(Sumber foto: Google)

Apakah ada kemungkinan untuk mengelabui kematian? Seorang prajurit perang salib berjalan pulang menunggang kuda menuju rumahnya bersama seorang asistennya. Di antara perjalanannya itu, prajurit ini dicegat oleh Kematian/Black-Death (!). Mereka berdialog (“I live now in a world of ghosts, a prisoner in my dreams.”) dan pilihan bermain catur adalah siasat prajurit ini untuk menunda kematian jika ia menang. Tapi benarkah kematian bisa ditunda? Bahwa prajurit ini sudah tahu dia tidak akan pernah menang melawan Kematian? Pertanyaan-pertanyaan itu bermuara dengan adegan-adegan yang penuh metafora di The Seventh Seal dengan penguasaan dialog teater, sungguh intens. Menggunakan latar belakang abad pertengahan di mana para penduduk Swedia terkena wabah penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan ini dikaitkan dengan jiwa-jiwa mereka sudah terasuki oleh kejahatan tanpa ampun. Jalan satu-satunya untuk menebus hal itu adalah dengan menyiksa diri mereka secara tragis demi mendapat perhatian Tuhan. Pada lain hal, prajurit ini melihat betapa mengerikannya para manusia ingin menaklukkan sesama manusia lain demi keunggulan duniawi, tapi di saat yang lain ia juga melihat bahwa ada kebahagiaan tersamar yang dipunyai oleh sepasang suami istri yang berkeliling dari satu desa ke desa lain untuk mengadakan sirkus beserta anaknya yang masih kecil, dia berkata “I shall remember this moment: the silence, the twilight, the bowl of strawberries, the bowl of milk.” Sebuah kebahagiaan yang ingin diselamatkan oleh prajurit ini, meskipun dia sudah bertemu dengan seorang perempuan lainnya yang tahu bahwa sudah tidak ada apa-apa selain kekosongan. Tepat pada puncaknya, Ingmar Bergman kemudian mempertanyakan mengapa seolah-olah Tuhan absen dengan segala apa yang terjadi di dunia ini? Mengapa Tuhan seakan-akan tidak menampakkan kekuasaannya tapi hanya menunjukkan kekejian dan kematian yang sudah jadi satu kepastian? Bergman tidak memposisikan dirinya sebagai kreator yang mengkritik Tuhan. Dia punya kegelisahan akan humanitas yang berlangsung di dunia ini yang dihadirkan melalui film-filmnya yang penuh dengan drama satir akan kealpaan manusia sebagai makhluk Tuhan. Kegelisahan-kegelisahan yang rasanya tidak pernah usang untuk dipertanyakan sampai hari-hari ini. Dia, Ingmar Bergman, punya caranya sendiri untuk mendekati, memahami, dan mempertanyakan tentang spritualitas itu sendiri.

Advertisements