The Double Life of Veronique (Krzysztof Kieślowski, 1991)

by arhamrahmat

Sumber foto: google

Sumber foto: google

Ada begitu banyak PR yang tertinggal sehabis membereskan film-film Kieslowski. Pertanyaan demi pertanyaan tidak berusaha untuk diringkus tapi bagaimana bisa mempertanyakan hal-hal dengan lebih jernih atau setidaknya lebih baik. Persis di situlah letak kejeniusan sutradara Polandia ini, Kieslowski ingin agar manusia berusaha merogoh keluar kegundahan hati yang terpendam sesusah apapun itu. The Double Life of Veronique mengiris satu-satu dengan perlahan, halus, dan nyaris tak terasa bahwa ada kehidupan misterius yang membelenggu setiap orang (produser Leonardo de la Fuente menyebut film ini sebagai “A metaphysical thriller”). Weronika dan Veronique (Irene Jacob punya sisi malu yang sama cemerlangnya dengan rahasia dibalik tatapan matanya. Membuatnya meraih Best Actress Cannes tahun 1991)adalah dua orang yang tidak saling tahu bahwa mereka kembar dan tinggal di dua negara berbeda (Polandia dan Prancis). Sampai akhirnya salah satu dari mereka melihat dan menyadari bahwa kaca bukanlah satu-satunya alat untuk mencerminkan diri sendiri. Kecemasan berbuah kesedihan seakan tidak ingin beranjak dari perasaan si kembar saat mengetahui hal itu. Harapan masing-masing dari Weronika dan Veronique semoga mereka tidak punya episode hidup yang sama berakhir dengan kekhawatiran yang berlarut. Lapisan lain dari film ini memberi reaksi dengan tingkat keintiman makin samar namun bisa menggetarkan hati lewat gambar-gambar yang berbicara  (hanya 3 warna dominan di film ini merah marun, hijau tua, dan emas) dan musik orkestra –didasari dari puisi Dante – terus mengelilingi film ini (Weronika tergabung dalam kelompok musik tersebut sementara Veronique memutuskan untuk berhenti menyanyi dan mengajar musik pada anak kecil). Kieslowski mempertanyakan apakah kehidupan paralel itu akan sama dengan konsep kehidupan setelah kematian? Benarkah kita selalu menepis kesendirian dengan berkelit bahwa ada orang di luar sana yang juga merasakan demikian? Atau jangan-jangan hidup kita ini adalah sebuah novel yang dituliskan oleh seseorang dan direduksi jadi boneka kayu untuk nantinya dipentaskan ke banyak orang, seperti yang dilakukan Alexandre pada Veronique. Cerita-cerita Kieslowski bukanlah tema yang pas diobrolkan saat lagi makan malam santai bersama pasangan, teman dekat, atau keluarga. Tema itu hanya baik untuk kita obrolkan dengan diri sendiri. Obrolan yang sarat dengan perenungan dari sutradara yang sepanjang hidupnya tidak pernah berhenti membabat kehidupan manusia.

Advertisements