Fallen Angels (Wong Kar-wai, 1995)

by arhamrahmat

Sumber foto: google

Sumber foto: google

Sejarah gelombang baru sutradara Hong Kong tidak bisa lepas dari nama Wong Kar-wai, ia seperti nama-nama babon lainnya Zhang Yi Mou atau Kim Ki-duk jika mau berbicara tentang sinema Asia. Chungking Express (1994) adalah sebuah perayaan penting bagaimana tema-tema kegamangan dilebur dengan halus dalam teknik sinematografi yang ciamik. Fallen Angels (1995), kemudian seperti sebuah estafet yang tetap mempertahankan cita rasa itu. Bersama Christopher Doyle, Wong Kar-wai mengutak-atik segala bentuk teknik film dengan vulgar tapi terasa nyaman dan tidak membuat penonton terlena karena  orang ini punya cerita khas yang sentimentil: begitu sulit manusia mengelabui cinta. Dia dengan mudah mengaburkan cerita secara cuek dengan quick cutting (memindahkan fokus dari cerita partner in crime yang melibatkan ketertarikan perasaan lompat ke kisah cinta seorang laki-laki yang berhenti bicara setelah memakan buah nanas yang basi); emosi setiap karakter yang meluap-luap dalam film ini diwakili oleh gambar-gambarnya, perasaan gundah adalah wujud dari slow motion, ketegangan menjadikannya fast motion atau freeze frames, atau bagaimana sayang itu dimunculkan secara black-white, tapi tidak jarang nongol permainan warna lampu neon yang jadi salah satu tipikal Wong Kar-wai. Karakter-karakternya jarang berbicara langsung atau verbal, tapi ada selalu voice over yang penuh dengan perenungan dari setiap karakternya, “…the best partners don’t get emotionally involved.” sebagai salah satu contoh yang diucapkan saat si perempuan tidak lagi bareng dengan teman laki-lakinya untuk melakukan kejahatan, atau yang tidak kalah sentimentil adalah munculnya angka-angka unik yang jadi penanda saat huruf dan kata tidak mampu menerjemahkan perasaan, begitu jenius (!). Wong Kar-wai bermain-main dengan keacakan yang manis dalam filmnya.

Advertisements