Suara-suara yang Mengganggu dari Daein Market

by arhamrahmat

11794396_853284321408562_1389018857750079019_o

Suara detak jantung yang semula pelan dan samar pada video Daein Market Heartbeat. Jadi begitu mengusik setelah suara aktivitas potong-memotong rumput laut, daging babi, ikan, dan beberapa kegiatan lainnya di pasar tradisional Daein Market datang silih berganti. Denyut suara yang ternyata tidak beraturan itu mampu mempengaruhi segala aktivitas pasar dalam karya Reza NM, seniman Makassar yang melakukan residensi di Mite-Ugro Gwangju, Korea Selatan dari bulan April-Juni 2015. Lokasi Mite-Ugro yang berada dalam Daein Market, menarik Reza untuk merespon aktivitas sehari-hari masyarakat pasar itu – didirikan setelah perang Korea – dengan mengeksplorasi denyut jantung manusia. Deskripsi karya yang dituliskan Reza: dia mengambil tolak ukur denyut jantung manusia yang tidak normal – detak jantung normal manusia dewasa 60-100 bpm: bradycardia (detak jantung manusia 50-60 bpm) dan tachycardia (detak jantung manusia di atas 100 bpm)yang merupakan metafora dari keadaan sosial pasar tersebut yang terus mengalami goncangan ekonomi setelah stasiun kereta Gwangju dipindahkan. Pasar yang sempat tenar di era 1970an itu kemudian lesu dan membuat pemerintah kota melakukan modernisasi untuk menghasilkan perputaran ekonomi yang lebih baik. Namun sebagian besar dari pedagang menolak proyek itu karena hanya akan menambah biaya sewa, beberapa bangunan yang saat itu sedang dikerjakan terhenti sampai sekarang.

Pendekatan Reza yang membaca kondisi sosial, politik, dan ekonomi di Gwangju lewat seni video sejalan dengan apa yang diungkapkan Hafiz dalam tulisannya Sekilas Dasar Pengetahuan Seni Video, “video lahir dari kemajuan teknologi media massa, yaitu televisi. Hal inilah yang menjadikan video, tidak pernah lepas dari persinggungannya dengan fenomena sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan.” Reza melakukan genealogi waktu lewat teknologi media yang dijelaskan Krisna Murti melalui Media Baru: Kultur Gerilya Hingga Seni Gadget, sebagai satu bentuk intervensi waktu: menangkap (capturing), mereka-bentuk (re-configuring), serta memanipulasi ragam siklus waktu semisal gerak lambat (slow motion), Krisna juga mengutip Henri Bergson yang menyatakan manipulasi waktu itulah yang menunjukkan kita realitas. Pada bagian lain Krisna menulis,

Pertanyaan ulang tentang waktu mengalami puncaknya sejak teknologi digital dan komputerisasi merebak. Kedua media ini tidak lagi mewacanakan realitas adalah mimesis (peniruan) atau reproduktif ala Walter Benjamin, tetapi produksi. Ini bisa terjadi karena media baru ini mampu mengubah citra menjadi informasi. Sejak itulah dengan mudah informasi dimodifikasikan, dikocok (scrambled) dan dihapuskan. Hal itu berarti waktu dinisbikan, artinya tidak ada batas masa lalu, kini, dan masa depan.

Reza coba menangkap situasi-situasi yang pernah dan sedang terjadi di Daein Market tanpa menyampingkan permainan visual aktivitas pasar secara bergantian yang dibayangi suara denyut jantung. Kita bisa menyaksikan dan mendengar denyut jantung bradycardia bersamaan dengan gambaran-gambaran repetitif, namun tidak sampai 10 detik kemudian dihantam dengan suara tachycardia yang begitu cepat. Karya yang diinstalasi dengan empat speaker aktif terpisah – membentuk setengah lingkaran – dalam ruangan tertutup berukuran sekitar 3×3 meter dan video yang ditembakkan lewat proyektor di salah satu sisi ruangan itu mampu memunculkan ketakteraturan yang betul-betul mengganggu (disturbing) secara visual, pendengaran, hingga detak jantung bagi setiap orang yang menyimak. Kecenderungan seni video yang dilakukan Reza merupakan video kanal tunggal yang dikonfigurasikan dengan objek seni lain dan barang sehari-hari dan dalam instalasi video ini, publik bisa menonton secara pasif atau terlibat aktif dalam ruang seni yang terjadi. Suara denyut jantung yang ditabrakkan dengan aktivitas pasar dengan bunyinya masing-masing jadi sebuah bentuk eksperimentasi visual yang masuk melalui eksplorasi atau permainan suara denyut jantung. Reza mengatakan bahwa, “sikap pemerintah kota yang terkesan mengambang atau bisa dibilang acuh tak acuh dengan kondisi Daein Market saya anggap sebagai sebuah gangguan bagi para pedagang yang tetap menjalankan aktivitas sehari-harinya dan itu jadi acuan saya untuk membuat karya yang juga punya kesan mengganggu.”

Kemunculan Mite-Ugro sebagai ruang alternatif di tengah hiruk pikuk aktivitas pasar bisa jadi sebuah fenomena tersendiri dalam medan seni rupa kontemporer. Bagaimana ruang yang didirikan tahun 2008 oleh sejumlah seniman muda Gwangju ini merespon banyak hal yang terjadi di Daein Market. Dari informasi yang didapatkan Reza, saat ini di kompleks Daein Market sudah ada sekitar lima sampai tujuh ruang alternatif yang muncul setelah Mitre-Ugro. Seni kemudian tidak bisa dilepaskan dan melekat dengan kehidupan sehari-hari saat interaksi antara seniman dan masyarakat atau pedagang di Daein Market terjadi. Membuat mural di dinding pasar hingga sama-sama menginisiasi Daein Night Market dua kali setiap bulan yang jauh dari kesan pengaruh budaya populer di Korea Selatan, misalnya K Pop. Mite-Ugro dengan program-programnya, termasuk residensi seniman lintas negara, ruang ini menawarkan sebuah strategi budaya dan memunculkan dinamikanya sendiri dalam peta seni rupa kontemporer di Gwangju dan Korea Selatan. Ruang alternatif, menurut Farah Wardani, sebagai penanda pergerakan-pergerakan sosial budaya yang mengedepankan konteks kelokalan dalam menghadapi arus globalisme yang mulai terasa otoriter atau juga penanda berbagai strategi counter-culture dari gerakan independen terhadap apa yang dianggap sebagai mainstream dalam tataran implementasi yang berbeda-beda.

Lewat “Daein Market Heartbeat”, rutinitas Daein Market sebagai pasar tradisional pada akhirnya jadi keteraturan sendiri bagi para pedagang. Hal itu lantas mengungkap genealogi lainnya, pendisiplinan tubuh yang berlangsung secara mekanis dan tanpa disadari. Pemikir Prancis yang memaparkan tentang hal itu, Michel Foucault dalam Discipline and Punish menyebutkan bahwa disiplin merupakan political anatomy of detail. Lebih jauh, dia membagi aktivitas kontrol pendisiplinan tubuh dalam lima poin yang diambil dari kegiatan-kegiatan pada abad 18 (keagamaan sampai militer) dan dampaknya bisa dirasakan dalam bentuk sekolah, tempat kerja, dan rumah sakit. Pada poin terakhir, Exhausive use, Foucault menyatakan bahwa disiplin pada sisi lain mengatur ekonomi secara positif karena tubuh merupakan, “target for new mechanisms of power, the body is offered up to new forms of knowledge. It is the body exercise, rather than imbued with animal spiritis; a body useful training and not of rational mechanic, but one in which, by virtue of that very fact, a number of natural requirements and functional constraints are beginning to emerge.“Dia juga menjelaskan kekuatan dari disiplin setiap individu berhubungan bukan hanya bersifat analisis dan “seluler”, tapi juga natural dan “organik” seperti yang nampak pada aktivitas para pedagang di Daein Market.
Dengan begitu, “Daein Market Heartbeat” menyingkap realitas saat waktu dinisbikan, mensejajarkan (juxtapose) masa lalu dan masa kini dengan pola tubuh yang mekanis.

Advertisements