Membaca Imajinasi Mufti Priyanka

by arhamrahmat

photo 2

Mufti Priyanka atau Amenkcoy selalu punya pernyataan tentang keseharian. Dia kaya akan hal itu. Karya-karya seniman gambar ini terlalu sulit untuk lepas dari gejolak batin manusia yang senantiasa bergulat dengan hubungan maupun kondisi sosialnya. Narasi yang dibangun Amenk mampu memberi ketegangan antara keseriusan dengan lelucon, merintih dan merengek, atau mengecoh tapi terselip ketegasan. Ketegangan itu bisa menghadirkan tumpang tindih akan hal-hal yang menyiratkan bahwa keseharian yang dihadapi oleh manusia pada dasarnya kompleks dan tak terbendung dari segala macam kejutan.  

Cara Amenk yang mengalami dan melihat potensi keseharian secara demikian bisa dibaca dari dimensi kekaryaannya. Slebor Fanzine misalnya, sebuah jurnal kumpulan karya gambar Amenk beserta puisi dan tulisan di dalamnya. Di edisi Vol. 3 terbitan April 2015, gambar-gambarnya yang kasar, vulgar, banal diungkapkan secara sendu dan lirih. Terasa ada ‘keretakan’ setiap kata yang dibangun dalam puisi-puisinya ataupun tulisan-tulisannya. Memunculkan narasi-narasi yang gamang sekaligus juga nyeleneh dalam konteks hari ini dan cukup membuat kita mengernyitkan dahi ketika membacanya. Keseharian, mengutip Henri Lefebvre adalah “momen-momen” pengalaman intens yang memungkinkan kita memberikan kritik imanen atasnya (kritik dari dalam): momen-momen perasaan yang kuat seperti jijik, kaget, gembira, terpseona, terharu, dst. Di fanzine tersebut, akan didapati bagaimana hasrat seksual seorang perempuan yang terbelenggu oleh dunia seni; kisah Adam dan Hawa dikemas ulang sesuai gejolak trendi anak muda hari-hari ini; kerisauan untuk mengenal dan menjalin hubungan lewat media sosial; hingga sentilan tentang praktek klenik; atau sampul yang sarat akan kemewahan seorang polisi – asesoris batu akik dan arloji berwarna emas–yang ingin mengalungkan permata kepada kekasihnya, pada saat bersamaan ada semacam rona yang sulit dibaca–entah itu sebuah kelicikan, keseriusan, atau kesungguhan terselip di wajahnya, namun tersirat perasaan melankolis dari puisi yang dituliskan Amenk.

IMG_6815

Dengan penyejaran gambar dan narasi, Amenk mampu mempermainkan kepungan fantasmagoria (pesona akan yang magis atau citraan benda-benda)  yang bisa dibaca sebagai bagaimana bentuk atau kualitas hubungan antar manusia hari ini bisa tereduksi akan hal-hal tersebut. Selain itu, ia juga dengan lihai mengaburkan peran tokoh ciptaannya antara protagonis dan antagonis yang justru mempertanyakan seperti apa tingkah laku yang tak kasat mata. Apa yang dilakukan Amenk merupakan pendekatan atas misteri keseharian yang menurut Lefebvre keseharian bukanlah obyek melainkan totalitas hubungan-hubungan dan untuk mentransformasikannya diperlukan kreativitas dan kebermainan. Pendekatan seorang Amenk atas realitas keseharian tidak bisa lepas dari imaji yang datang padanya. Sebab imaji itu berasal dari realitas yang dihadirkan melalui karya seni, dengan bantuan kekuatan imajinasi.[1]

“Imajiku”, pameran tunggal kedua Amenk yang diadakan di Omnispace–Omuniuum Bandung – 26 sampai 31 Desember 2015 jadi salah satu cara untuk melacak bagaimana kecenderungan gambar-gambar Amenk itu muncul lewat kumpulan foto dari dokumentasi pribadinya. Imaji-imaji yang nampak dari foto-foto di pameran itu sebenarnya sungguh ringkih, tapi terpaut dengan kejujuran seorang Amenk. Ada dimensi realitas yang luas dalam bentuk remeh temeh. Bagaimana dia memotret kawan-kawan dekatnya secara cuek yang tidur pulas, selfie-selfie yang dia lakukan sejak tahun 2002 secara gengges, food porn ala Amenk, sigapnya merespon video lirik lagu pop Sunda dari Youtube, atau romantika akan warung penjual Anggur Merah. Melihat dan memperhatikan setiap foto-foto itu, kita sebagai audiens bisa memiliki kesan sudah mengenal Amenk lama dan dekat secara kepribadian.Susah untuk tidak mengakui bahwa kumpulan dokumentasi visual itu bukan lagi tentang representasi keseharian, tapi apakah diri kita ini mampu mengapresiasi setiap keseharian yang kita hadapi atau alami – pengalaman yang seakan-akan tidak bisa diulang kembali? Foto-foto itu adalah hasil gerakan imajinasi yang menghampiri Amenk dan ketika dihadirkan olehnya – dengan bantuan kurator tentunya, siapapun yang ada di situ terkena dampaknya, termasuk seniman itu sendiri. Pada posisi ini, imajinasi seorang seniman tidak menciptakan, tapi malah menghadirkan ketersingkapan realitas.

photo 1

Ewing dan Arum  menuliskan di pengantar kuratorialnya bahwa kehidupan Amenk yang tumbuh besar di daerah pinggiran Kiaracondong dengan segala permasalahan dan tingkah laku penduduknya memiliki kepribadian yang supel dan ramah. Penjelasan tersebut cukup untuk mengetahui bagaimana kepekaan yang dimiliki Amenk itu mempengaruhinya untuk tidak melihat hal-hal atau masalah-masalah sebagai sesuatu yang harus diringkus tapi bagaimana dia mengartikulasikan kesenimanannya. Kejelian Amenk dengan mendekati atau menghadirkan realitas remeh temeh itu secara dinamis sebagai sesuatu yang benar-benar real – baik itu lewat fotografi atau karya gambar – membuka kemungkinan untuk dideteksi sebagai sesuatu yang bersifat arus bawah (under-currents) sesuatu yang bisa berada di luar situs yang dominan, bisa jadi alternatif, namun kadang juga masuk ke dalam. Melani Budianta mengajukan beberapa nama untuk hal tersebut di antaranya ghost, shadow, atau spirit; dalam artian bagaimana sesuatu yang hidup di dunia ketiga itu ternyata lebih real dari yang real. Kita tahu bahwa praktek perdukunan, atau warung penjual Anggur Merah itu ada tapi cenderung tidak mau tahu atau memperhatikannya, namun Amenk memilih hal-hal itu untuk membuka sesuatu yang ada tapi tidak termasuk pada struktur umum yang kita ketahui atau kenal. Dia tidak terjebak dalam bentuk-bentuk yang kelihatan atau muncul dalam permukaan.

Kita juga bisa menikmati karya-karya Amenk di publikasi gigs–khususnya di Bandung atau desain kaos band, serta sempat menjadi kurator untuk beberapa pameran rekannya yang menandakan bahwa ia mampu berinteraksi dengan percakapan yang lebih luas dan berbeda-beda. Dari kegemarannya mendengarkan dan mengoleksi kaset hingga hobinya menenteng kresek hitam dengan sedotan putih yang menonjol, Amenk bisa begitu luwes bergaul, mempunyai jaringan pertemanan yang elastis, dan punya tabungan yang akan jadi muatan di setiap karyanya. Seniman itu diapresiasi sejauh memiliki kepekaan pada gerakan imaji-imaji yang adalah fenomena yang sudah selalu ada di dalam realitas tanpa jasa dan usaha manusia.[2]

“Imajiku” sebagai salah satu pameran penutup akhir tahun bisa jadi refleksi bagi Amenk atas apa-apa saja yang sudah dia lakukan, tapi juga punya potensi proyeksi akan hal-hal yang akan datang. Pertemuan seseorang dengan masa lalu muncul dari foto-foto di konteks hari ini yang tidak bisa dicegah untuk menduga masa depan itu seperti apa. Seniman slebor ini bisa menelanjangi kesehariannya lewat–mengutip Ewing dan Arum–catatan visualnya sekaligus menantang kita berpikir sejauh mana keseharian yang remeh temeh itu mempertajam imajinasi, bagaimana realitas sosial itu jika didengungkan, dan apakah kita punya cukup kepekaan untuk mencerna dan berani menyisipkan tawa akan hal-hal itu. Amenk melakukan itu tanpa meromantisir. Dia ingin memahami keseharian–lebih daripada mengalami– dengan menempatkan dirinya sebagai contoh.

 

[1] Hadrianus Tedjoworo, Seni dan Imagologi: Menuju Emansipasi Imaji dalam Fenomenologi Seni, makalah disampaikan pada Extension Course Filsafat Unpar, Bandung, 23 Mei 2014

[2] Ibid. hal. 8

Advertisements