Ayu Dila Martina: Rentangan Hasrat, Rentetan Harap

by arhamrahmat

Tulisan ini merupakan dokumentasi proses kekaryaan seniman perempuan yang terlibat dalam proyek seni dari bulan September-November 2016, diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Rutan Pondok Bambu. Terbit pertama kali pada buku “Bon Seni”. 

Mural Ayu Dila bersama warga binaan Rutan Pondok Bambu (sumber: google)

TIDAK ADA KEKAKUAN YANG AYU DILA MARTINA RASAKAN ketika memasuki area rutinitas warga binaan Rutan Pondok Bambu. Hal itu hanya muncul sebentar di bagian pintu depan pemeriksaan yang menjadi penghubung antara bagian luar dan dalam rutan. Setelah bermain kata yang terkait dengan hal-hal perempuan di minggu pertama, seniman ini mencoba menguji sejauh mana ketegangan antara warga binaan dan petugas rutan lewat lokakarya desain di minggu kedua Proyek Seni Panoptic.

Seragam jadi titik berangkat Ayu untuk menjelajahi seberapa besar kekuasaan itu berjalan lewat cerita peserta membuat desain. Hasil yang ditampilkan para peserta lokakarya ini sebenarnya beragam, ada yang pemilihan warna dan bentuknya cukup berani, ada pula yang mengikuti langsung contoh desain dari Ayu, atau ada yang sama sekali bingung.

Pendekatan ini pernah dilakukan Ayu saat pameran Exi(s)t pada 2015, di mana dia membahas konsumsi pangan mie instan yang sudah menggejala dan merasuk di masyarakat Indonesia dalam bentuk institusi sekolah: seragam sekolah dengan desain bermotif mie instan dan modifikasi logo Sekolah Dasar Negeri Gandum.

Pada kasus Rutan Pondok Bambu kali ini, pengamatan yang dilakukan Ayu tersendat saat melihat hasil-hasil desain para warga binaan. Pola kuasa melalui seragam tidak bisa diketahui. Bisa diduga mengapa seragam rutan tidak menunjukkan simbol kekuasaan karena warga binaan di sini tidak mempunyai seragam khusus untuk yang berstatus tahanan maupun yang narapidana sebagai pembeda. Sehari-hari mereka berpakaian biasa yang menurut mereka pantas. Seragam baru dikenakan jika warga binaan menerima kunjungan (rompi jingga) atau menelpon di wartel area luar blok sel (rompi hijau).

Pakaian—seragam—sendiri merupakan hak bagi narapidana yang tercantum dalam Pasal 7 Ayat (1b) PP No. 32/1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan: pemberian pakaian seragam per enam bulan, pemberian satu stel seragam kerja per enam bulan, pemberian celana dalam, pemberian satu lembar kain sarung bagi narapidana laki-laki atau mukena bagi narapidana wanita, pemberian sepasang sendal jepit, dan pemberian bra bagi narapidana wanita.

Sedangkan PerMen Hukum dan Hak Asasi Manusia No.6/2013 tentang Tata Tertib Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan Negara pada Bab II pasal 3 berisi rujukan khusus soal kewajiban dan larangan. Disebutkan pada poin keempatnya, setiap napi dan tahanan wajib mengenakan pakaian seragam yang telah ditentukan. Lebih lanjut pada pasal 10 no. 1 yang menyebutkan penjatuhan hukuman disiplin tingkat ringan bagi narapidana dan tahanan yang tidak mengenakan pakaian seragam (poin 4) yang meliputi peringatan lisan dan tertulis (pasal 9 no. 1, poin 1 dan 2).

Temuan Center For Detention Studies dalam “Realitas Penjara Indonesia” (2014) sendiri menyebutkan pakaian seragam yang diberikan setiap enam bulan sekali rata-rata memang tidak dapat dipenuhi oleh lapas, begitu juga halnya dengan lapas khusus wanita. Pakaian lain seperti pakaian kerja, celana dalam, sandal jepit, dan mukena juga tidak diberikan di lapas wanita. Kelonggaran regulasi itu mungkin yang bisa membuat interaksi para warga binaan dengan para pegawai rutan terkesan cair–apalagi jika warga binaan itu berperan sebagai tamping yang menjadi penghubung antara pegawai rutan dan warga binaan pada kegiatan terentu. Dalam konteks Rutan Pondok Bambu, seragam hanya menandai dan melacak perpindahan ruang dari blok sel ke area kunjungan dan area telefon umum.

Namun mungkinkah hal tersebut menjadi semacam reduksi atas totalitas pengawasan di dalam rutan? Anne Schwan (2001) dalam sebuah penelitian menyoal hubungan tahanan perempuan melalui kacamata Foucault: “the panoptical institution for women in particular implicitly provides a model of the “perfect” patriarchal society because it trains women to subject to the constant surveillance by an (invisible) patriarchal ‘eye’ in society at large – an ‘eye’ which ‘gazes,’ observes and prescribes how to look, how to behave, where to go and where not to go – thus executing social control over all women[1]”. Maka, bukan melalui seragam, tapi melalui pengawasan yang mengadaptasi model-model patriarki sebagai nilai dominan di masyarakat untuk menentukan bagaimana tahanan perempuan melihat, berperilaku, dan mengamati ke mana ia pergi. Seperti dua sisi mata uang: cairnya hubungan warga binaan dengan petugas rutan sekaligus menipiskan ruang gerak dan mempertebal pengawasan terhadap diri mereka sendiri.

Hasrat seksual menjadi gagasan berikutnya yang dipikirkan Ayu. Hasrat seksual merupakan gejala umum yang akan terus dinegasikan pemasyarakatan sebagai bentuk hukuman lain. Ayu mencoba masuk untuk mengetahui hal itu lewat kuesioner dengan pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana menyikapi seksualitas di rutan.

Ruang penyaluran seksual sendiri memang sempat ada pada suatu masa dalam bentuk transaksi terselubung di Rutan Pondok Bambu, tapi lantas dihilangkan[2]. Sebenarnya sudah ada beberapa rutan dan lapas yang menerapkannya dan disebut “ruang biologis”: di Rutan Polda Sumatera Utara, Rutan Polda Metro Jaya, Rutan/Lapas Cipinang, Rutan/Lapas Salemba, dan Rutan Mako Brimbo Kelapa Dua[3]. Namun, belum ada peraturan yang mengatur tentang hak warga binaan untuk melakukan hubungan biologis suami-istri di dalam lapas atau rutan[4]. “Bilik asmara”—ide membentuk simulasi ruangan sebagai karya instalasi membuat Ayu harus memikirkan bagaimana menegosiasikan kepada pihak rutan untuk merealisasikan ide ini.

Menyamakan persepsi adalah tantangan bagi pihak rutan apakah ruang biologis yang pernah ada dan hasrat seksual yang menghantui warga binaannya bisa dihadirkan sebagai karya seni. Persoalan regulasi sendiri menjadi pokok utama pihak pemasyarakatan mengapa hubungan seks bagi warga binaan harus disisihkan.

Konsepnya yang terhalang itu itu membuat Ayu mencari cara dengan tidak menunggalkan gagasannya tentang hasrat seksual. Mural sebagai tawaran kemudian menjadi cara paling sederhana yang bisa dikerjakan bersama para warga binaan. Produk ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari rencana awal ketika mulai berproses merancang karya apa yang akan dipresentasikan nanti. Ayu berkolaborasi dengan peserta lokakarya Daniella melalui media gambar dan teks untuk mencari tema apa saja yang bisa dijadikan mural.

Tembok yang disediakan bagi Ayu untuk melakukan mural terbagi tujuh yang masing-masing terpisah oleh semacam pilar, berbatasan langsung dengan blok E, blok yang paling banyak penghuninya dan menjadi jalur para warga binaan untuk ke area pusat rutan. Setiap satu bagian berbentuk persegi menggambarkan satu kata kunci untuk mural itu, menyoal perasaan mereka: harapan, rindu, refleksi, keluarga dan sebagainya. Di antara semua itu, akan ditemui bentuk pengelabuan yang halus sebagai manifestasi hasrat seksual. Itu adalah upaya terakhir bagi Ayu untuk tetap menuangkan gelombang hasrat melalui metafora sayuran dan buah menyatu dengan personifikasi etnis, terong adalah Nigeria atau pare adalah Arab.

Mural yang dihasilkan secara kolektif oleh warga binaan bersama Ayu dan Marishka Soekarna – perupa perempuan yang menjadi salah satu seniman untuk edisi pertama Proyek Seni Perupa Perempuan DKJ, “Wani Ditata”. Gambar mereka yang semula ada di kertas, dipindahkan ke tembok rutan yang setiap hari dilewati, dengan resolusi yang lebih besar, warna kuning-hitam yang mencolok, dan bisa dilihat dari lantai tiga dari bangunan rutan. Selain itu, kerja kolektif dalam melakukan mural melahirkan rasa memiliki yang semakin besar terhadap proyek ini.

Seperti yang dikemukakan David E. Gussak – salah satu peneliti praktek seni sebagai terapi di penjara – yang dikutip oleh Alexandra Djurichkovic, art is the ‘ultimate hidden weapon’ because of its ability to ‘hide’ the therapeutic process[5].  Dengan kata lain, mural adalah ekspresi jujur bagi mereka tentang apa yang mereka hasrati dan fantasikan selama berada di rutan.

 

[1] Anne Schwan. (2001). Disciplining female bodies: Women’s imprisonment and Foucault. London

[2] Dalam wawancara, Ayu Dilla Martina mengatakan dari informasi yang didapatkan lewat warga binaan ruang penyaluran hasrat seksual itu sempat ada ketika Zarimah jadi tahanan Rutan Pondok Bambu.

[3] http://www.mantannapi.com/2016/03/pro-kontra-ruang-biologis-kamar.html diakses tanggal 10 November 2016.

[4] Ibid.

[5] Alexandra Djurichkovic, ‘Art In Prisons’ A Literature Review of the Philosophies and Impacts of Visual Arts Programs for Correctional Populations (Australia: UTSePress, 2011)

Advertisements