Venti Wijayanti: Menyamun Akhir Pekan

by arhamrahmat

Tulisan ini merupakan dokumentasi proses kekaryaan seniman perempuan yang terlibat dalam proyek seni dari bulan September-November 2016, diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Rutan Pondok Bambu. Terbit pertama kali pada buku “Bon Seni”.

Suasana “Sehari Bersama Mereka” yang juga diisi oleh siaran Keong Radio. (Sumber foto: DKJ)

MUNCUL PEMAHAMAN BERBEDA KETIKA membicarakan akhir pekan bagi warga binaan. Pegawai rutan yang libur dan tidak ada kegiatan membuat mereka mati gaya selama dua hari di dalam sel blok. Sedangkan di hari kerja, mereka bisa keluar sel blok untuk berkegiatan di unit tertentu seperti mengurus tanaman, senam pagi, voli sore hari, dan seterusnya. Venti Wijayanti kemudian menemukan cara memangkas kebosanan itu dengan menyisipkan musik di blok-blok rutan.

Proyek seni yang berhubungan dengan musik dan perempuan sudah pernah dikerjakan oleh Venti dalam proyek Paduan Suara Dialita, paduan suara yang berisi perempuan korban tragedi 1965. Selain sempat tampil di Biennale Jogja XIII, proyek musik yang dikerjakan bersama Wok The Rock dan Agung Kurniawan ini mengundang beberapa musisi muda: Frau, Cholil, Sisir Tanah, dan sebagainya untuk merekam ulang lagu-lagu mereka.

Perempuan Jogjakarta ini awalnya memikirkan untuk membuat dua proyek yang saling berhubungan: radio dan grup vokal/perkusi. Yang disebutkan terakhir ini memang sudah menjadi rutinitas warga binaan yang punya bakat menyanyi atau tari menggunakan musik pop. Tapi Venti mendapati saat grup vokal ini berlatih, arahan lagu yang mereka bawakan dan diciptakan mereka bersama pelatih vokal sekaligus penata musik –  malah bercerita soal kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan dan sepatutnya menyesali itu. Ada kesan bahwa musik yang harusnya bisa merangkul perasaan mereka malah ikut dijadikan sarana untuk menghakimi warga binaan sendiri.

Ada hal yang dirasa oleh Venti bahwa aktivitas seperti itu tidak menciptakan ruang dialog, meski dibawakan secara santai. Gambarannya adalah mereka ini bersalah dan harus menebusnya dengan dipenjarakan. Konsep yang ditawarkannya adalah bagaimana nyanyian grup vokal/perkusi ini bisa direkam dan disiarkan lewat proyek radio ini nantinya. Sayangnya, ide itu harus dirampingkan karena waktu persiapan kurang dari sebulan. Venti memilih fokus memikirkan formula yang pas tapi juga menyenangkan sebagai pendekatan ketika dikerjakan bersama warga binaan, yaitu dengan media radio.

Proyek radio ini diturunkan menjadi tiga agenda, yaitu membagi pemahaman soal radio komunitas berbasis rekaman, seperti apa format radio dan lagu-lagu yang diputar, dan peluang untuk menjalankan radio komunitas sebagai kegiatan baru di rutan.

Selama proses menggarap radio komunitas Rutan Pondok Bambu, terjadi obrolan-obrolan yang menarik dari warga binaan seputar keseharian mereka di rutan, misalnya menyoal kecantikan yang menjadi salah satu tumpuan rasa percaya diri mereka atau memutarkan lagu-lagu yang diakrabi oleh mereka.

Dari enam orang yang awalnya mengikuti proyek radio komunitas ini–jumlah yang cukup untuk membagi tugas: produser, music director, dan penyiar–yang benar-benar tertarik hanyalah dua orang dengan peminatan posisi penyiar. Secara teknis radio ini akan berbentuk podcast yang sudah lebih dulu direkam beberapa hari sebelum pemutaran. Hasilnya akan disiarkan lewat USB yang dicolok pada bagian pengeras suara area koperasi. Selama proses berjalan, Venti dibantu seorang rekan untuk memberi pengenalan soal radio. Keong Radio 114.2 FM dipilih sebagai nama dan frekuensi samaran: ‘keong adalah istilah sel blok dan ‘114.2’ adalah pasal hukuman yang diterima oleh salah satu dari penyiar ini.

Keong Radio menemukan momentum uji coba siaran dan rekaman pertama pada Minggu, 9 Oktober 2016) di Rutan Pondok Bambu. Kementerian Hukum dan HAM mengadakan acara berjudul “Sehari Bersama Mereka” yang diadakan serentak di seluruh pemasyarakatan Indonesia, sebuah acara pemenuhan hak warga binaan dalam mendapatkan kunjungan, khususnya keluarga dan kerabat.

Para warga binaan yang dikunjungi mungkin tidak menyadari bahwa dua orang di panggung yang menemani mereka menghampar di area kunjungan (lapangan rutan), beralas dan beratapkan terpal sejak jam delapan pagi bukan hanya menjadi pemandu acara tapi juga penyiar radio. Berkaos kuning bertuliskan Keong Radio di bagian belakang, Christa dan Ena lincah mengobrolkan hal-hal, sampai mengundang salah satu rekannya membicarakan soal obat jerawat. Meskipun sebagian besar warga binaan lebih asyik bertukar rindu dengan keluarga dan kerabat masing-masing, namun kehadiran Keong Radio bisa memberikan warna dalam acara kunjungan itu yang membedakan dari kunjungan biasanya. Acara itu juga menjadi momen kolaborasi bersama duo ukulele Tetangga Pak Gesang  dan dongeng PM Toh kepada anak-anak kecil yang orangtuanya sedang menjalani masa tahanan.

Venti ingin membaca potensi radio komunitas ini untuk tidak menjadi hal yang bersifat pengalaman dan sementara saja. Siaran radio rencananya akan diputar lewat pengeras suara di koperasi area blok sel Rutan Pondok Bambu, setidaknya agar bisa terdengar sampai ke kamar sel. Menurut laporan penelitian Center Detention for Studies (2013), interaksi pemasyarakatan khusus wanita dalam hal ini Rutan Pondok Bambu dengan dunia luar relatif sangat baik, terutama dalam hal kunjungan. Namun terkait dengan akses media, terjadi ketimpangan dalam mengkonsumsi TV (93,57%), koran (27,14%), dan radio (0%)[1].

Ternyata, aktivitas radio komunitas di dalam penjara bisa dilacak di lembaga asosiasi bernama Prison Radio Association (PRA) sejak 1994 di Inggris. Charlotee Bedford, yang menulis disertasi soal sejarah PRA menuliskan bahwa radio penjara punya cakupan yang luas sebagai wadah komunikasi dan informasi bagi warga binaan, peluang mengurangi tensi permasalahan di rutan, dan mempromosikan reintegrasi dengan membuka percakapan tentang pemasyarakatan[2].

Proyek kreasi Venti bisa dijadikan sebuah inisiatif awal untuk menciptakan akses terhadap radio dengan mensyaratkan partisipasi dari para warga binaan agar bisa dikembangkan ke depannya. Pihak Rutan Pondok Bambu sendiri berencana proyek ini menjadi program tetap dengan menyediakan ruangan dan perangkat khusus siaran. Jika memang hal itu bisa diwujudkan, banyak kemungkinan program yang bisa dikembangkan lewat radio komunitas dan melakukan kerjasama kepada lembaga-lembaga yang berfokus pada budaya penjara. Dari mempromosikan unit kegiatan apa saja yang ada di rutan, mengundang pegawai rutan berbicara soal tanggungjawabnya, sesi konseling, sampai membuat sandiwara radio mereka sendiri seperti yang sudah dicontohkan Venti. Pembuatan naskah saduran drama radio proyek seni ini juga dibantu oleh dua temannya, yaitu Andre Nur Latif (penulis naskah teater) dan Beni Satryo (penulis puisi). Presentasi akhir di bulan November akan mengarsipkan skrip dan naskah tersebut dalam bentuk buku.

Posisi radio komunitas di penjara mampu memberi kontribusi penting bagi pengembangan diri warga binaan. Contohnya, naskah siaran yang berhasil ditulis oleh Ena dan Christa sebagai kebutuhan siaran perdana live mereka di acara “Sehari Bersama Mereka”.

Pertanyaan selanjutnya, jika radio komunitas ini menjadi program tetap di Rutan Pondok Kayu, apakah konten radio itu nantinya tetap harus dicek lebih dulu oleh pihak pegawai rutan sebelum disiarkan?  Terlepas dari hal itu, proyek seni yang berhasilkan diwariskan Venti bersama Ena dan Christa mampu menciptakan ruang bagi mereka untuk didengarkan suaranya.

[1] Artha Febriansyah, dkk., Realitas Penjara Indonesia (Jakarta: Center for Detention Studies, 2014), https://drive.google.com/file/d/0BzX_4z3vVwzPNmFrNXpyMVczOGc/view?usp=drive_web

[2] Charlotee Bedford, “Making Waves Behind Bars: The Story of the Prison Radio Association” (PhD diss., The University of Adelaide, 2015)

Advertisements